Reporter : Syamsul Akbar Rabu, 05 April 2017 SUKAPURA - Ribuan umat Hindu Suku Tengger yang berada di lereng Gunung Bromo, Rabu (5/4/2017...
Reporter : Syamsul Akbar
Rabu, 05 April 2017
SUKAPURA - Ribuan umat Hindu Suku Tengger yang berada di lereng Gunung Bromo, Rabu (5/4/2017) merayakan Hari Raya Galungan. Mereka menghaturkan puja dan puji syukur kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.
Di Kabupaten Probolinggo, Hari Raya Galungan ini dirayakan oleh umat Hindu di Kecamatan Sukapura dan Sumber. Umat Hindu di dua kecamatan ini melaksanakan puja dan puji di pura masing-masing desa.
Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto mengatakan bahwa inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapatkan pikiran dan pendirian yang terang.
“Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud Dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu adalah wujud Adharma. Dalam konsepsi lontar Sunarigama, didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma,” ujarnya.
Bambang menuturkan bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Yakni umat Hindu Suku Tengger menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. “Pada hari itulah umat bersyukur atas karunia Sang Hyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini,” katanya. (wan/why)
Rabu, 05 April 2017
SUKAPURA - Ribuan umat Hindu Suku Tengger yang berada di lereng Gunung Bromo, Rabu (5/4/2017) merayakan Hari Raya Galungan. Mereka menghaturkan puja dan puji syukur kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.
Di Kabupaten Probolinggo, Hari Raya Galungan ini dirayakan oleh umat Hindu di Kecamatan Sukapura dan Sumber. Umat Hindu di dua kecamatan ini melaksanakan puja dan puji di pura masing-masing desa.
Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto mengatakan bahwa inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapatkan pikiran dan pendirian yang terang.
“Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud Dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu adalah wujud Adharma. Dalam konsepsi lontar Sunarigama, didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma,” ujarnya.
Bambang menuturkan bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Yakni umat Hindu Suku Tengger menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. “Pada hari itulah umat bersyukur atas karunia Sang Hyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini,” katanya. (wan/why)



COMMENTS