Penulis : Wawan Bromo FM Jum'at, 31 Maret 2017 KRAKSAAN – Sejauh ini, Kabupaten Probolinggo belum bisa bebas dari bencana ban...
Jum'at, 31 Maret 2017
KRAKSAAN – Sejauh ini, Kabupaten Probolinggo belum bisa bebas dari bencana banjir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo menyebut, dari 24 kecamatan, ada tujuh kecamatan di Kabupaten Probolinggo yang rawan bencana banjir.
Sesuai hasil pemetaan, ada beberapa desa di tujuh kecamatan masuk daerah rawan banjir. Meliputi Desa Kecik dan Bago (Kecamatan Besuk), Desa Randuputih, Tamansari, Kedungdalem, Dringu (Kecamatan Dringu), Desa Sebaung (Kecamatan Gending) serta Desa Kalibuntu, Asembagus, Kelurahan Kraksaan Wetan, Kelurahan Patokan dan Kelurahan Sidomukti (Kecamatan Kraksaan).
Selanjutnya, Desa Gunggungan Lor, Gunggungan Kidul, Patemon Kulon dan Ranon (Kecamatan Pakuniran), Desa Banjarsari dan Pesisir (Kecamatan Sumberasih) dan Desa Bayeman, Dungun dan Sumendi (Kecamatan Tongas).
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Nanang Trijoko Suhartono mengatakan bahwa daerah rawan banjir itu biasanya terjadi di dekat aliran sungai dan perkotaan yang saluran drainasenya tidak sempurna. “Serta, terjadi pendangkalan aliran sungai,” katanya.
Menurut Nanang, jika hujan deras bersamaan dengan air laut pasang, maka sungai itu tidak akan mampu menampung debit air. Sehingga, bisa menyebabkan banjir. Bencana banjir dapat menyebabkan sejumlah dampak negatif. Di antaranya, banjir dapat menggenangi rumah warga. Jika arusnya deras, dapat menyebabkan bangunan atau infrastruktur rusak.
“Untuk mengantipasi dampak kerusakan dan kerugian yang disebabkan banjir, kami telah melakukan sejumlah langkah antisipasi. Di antaranya, memberikan peringatan kepada masyarakat untuk tidak beraktivitas di sungai saat hujan deras dan lama,” jelasnya.
Demi mengurangi dan mencegah terjadinya banjir terang Nanang, pihaknya bekerja sama dengan beberapa instansi terkait melakukan normalisasi sungai yang masuk dalam kategori rawan banjir dengan melibatkan masyarakat. “Kesadaran masyarakat sangat penting untuk bersama-sama mencegah banjir,” tegasnya.
Selain itu, BPBD juga telah memasang Early Warning System (EWS) di Sungai Pancarglagas yang berfungsi untuk melihat perubahan ketinggian air. Nantinya hasil yang didapat akan dikirim ke Pusdalops BPBD Kabupaten Probolinggo.
“Dari Pusdalops nantinya akan dikirimkan informasi melalui media sosial (medsos) yang terhubung dengan relawan BPBD dan Satpol PP yang berada di tiap-tiap desa sebagai bentuk antisipasi,” terangnya.
Oleh karena itu Nanang mengimbau masyarakat agar senantiasa pro aktif di dalam penanganan bencana alam. Mulai dari tahap kesiapsiagaan, kedaruratan maupun pasca bencana.
“Untuk kesiapsiagaan, sebelum terjadi bencana masyarakat sudah bisa mempersiapkan diri seperti gotong royong. Untuk kedaruratan, saat terjadi bencana para warga tidak panik dan bisa mengamankan minimal dirinya sendiri. Sementara untuk pasca bencana, masyarakat bisa beradaptasi untuk pemulihan bencana secara mandiri,” pungkasnya. (wan/why)


COMMENTS