Penulis : Wawan Bromo FM Minggu, 09 April 2017 KRAKSAAN – Sesuai data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Probolinggo, angka ke...
Minggu, 09 April 2017
KRAKSAAN – Sesuai data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Probolinggo, angka kemiskinan tertinggi di Kabupaten Probolinggo tahun 2016 terdapat di Kecamatan Krucil, Tiris dan Maron. Daerah tersebut berada di kawasan pegunungan yang mayoritas masyarakatnya adalah petani dan pekebun tanaman sengon.
“Sebetulnya sejak tahun 2016 lalu, untuk mengurangi tingkat kemiskinan di Kecamatan Tiris, Krucil, Sumber dan Sukapura, kami sudah memberikan bantuan benih padi dan jagung di daerah LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) untuk ditanah di bawah tanaman Perhutani,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari.
Menurut Hasyim, total bantuan benih jagung yang diberikan mencapai 75 ribu ton dengan luas lahan 5 ribu hektar yang tersebar di 14 kecamatan. Untuk Kecamatan Tiris sebanyak 11.625 kg untuk lahan seluas 775 hektar dan Krucil sebanyak 10.875 kg untuk lahan seluas 725 hektar.
“Untuk padi total bantuannya mencapai 87.500 kg untuk lahan seluas 3.500 hektar yang tersebar di 19 kecamatan. Khusus untuk Kecamatan Tiris mendapatkan bantuan sebanyak 2.500 kg untuk lahan seluas 100 hektar. Sementara untuk Kecamatan Krucil tidak ada,” jelasnya.
Sementara untuk tahun 2017, bantuan benih jagung diberikan sebanyak 75 ribu kg kepada Calon Petani Calon Lahan (CPCL) seluas 5000 hektar yang tersebar di 15 kecamatan. Dimana Kecamatan Tiris dan Krucil masing-masing mendapatkan 7.500 kg untuk lahan masing-masing 500 hektar.
“Untuk bantuan padi mencapai 38.750 kg untuk lahan 1.750 hektar yang tersebar di 8 kecamatan. Khusus Kecamatan Tiris mendapatkan bantuan 1.250 kg untuk lahan 850 hektar,” terangnya.
Melalui bantuan benih padi dan jagung ini Hasyim berharap tingkat kemiskinan bisa dikurangi untuk masyarakat tani di wilayah hutan dengan program kerja sama LMDH memanfaatkan lahan di bawah tanaman milik Perhutani. “Setidaknya pendapatan masyarakat bertambah sehingga bisa mengurangi angka kemiskinan,” pungkasnya. (wan/why)
KRAKSAAN – Sesuai data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Probolinggo, angka kemiskinan tertinggi di Kabupaten Probolinggo tahun 2016 terdapat di Kecamatan Krucil, Tiris dan Maron. Daerah tersebut berada di kawasan pegunungan yang mayoritas masyarakatnya adalah petani dan pekebun tanaman sengon.
“Sebetulnya sejak tahun 2016 lalu, untuk mengurangi tingkat kemiskinan di Kecamatan Tiris, Krucil, Sumber dan Sukapura, kami sudah memberikan bantuan benih padi dan jagung di daerah LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) untuk ditanah di bawah tanaman Perhutani,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari.
Menurut Hasyim, total bantuan benih jagung yang diberikan mencapai 75 ribu ton dengan luas lahan 5 ribu hektar yang tersebar di 14 kecamatan. Untuk Kecamatan Tiris sebanyak 11.625 kg untuk lahan seluas 775 hektar dan Krucil sebanyak 10.875 kg untuk lahan seluas 725 hektar.
“Untuk padi total bantuannya mencapai 87.500 kg untuk lahan seluas 3.500 hektar yang tersebar di 19 kecamatan. Khusus untuk Kecamatan Tiris mendapatkan bantuan sebanyak 2.500 kg untuk lahan seluas 100 hektar. Sementara untuk Kecamatan Krucil tidak ada,” jelasnya.
Sementara untuk tahun 2017, bantuan benih jagung diberikan sebanyak 75 ribu kg kepada Calon Petani Calon Lahan (CPCL) seluas 5000 hektar yang tersebar di 15 kecamatan. Dimana Kecamatan Tiris dan Krucil masing-masing mendapatkan 7.500 kg untuk lahan masing-masing 500 hektar.
“Untuk bantuan padi mencapai 38.750 kg untuk lahan 1.750 hektar yang tersebar di 8 kecamatan. Khusus Kecamatan Tiris mendapatkan bantuan 1.250 kg untuk lahan 850 hektar,” terangnya.
Melalui bantuan benih padi dan jagung ini Hasyim berharap tingkat kemiskinan bisa dikurangi untuk masyarakat tani di wilayah hutan dengan program kerja sama LMDH memanfaatkan lahan di bawah tanaman milik Perhutani. “Setidaknya pendapatan masyarakat bertambah sehingga bisa mengurangi angka kemiskinan,” pungkasnya. (wan/why)


COMMENTS