Reporter : Syamsul Akbar Senin, 10 April 2017 KRAKSAAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Senin (10/4/2017) mengadakan per...
Senin, 10 April 2017
KRAKSAAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Senin (10/4/2017) mengadakan pertemuan dalam rangka evaluasi program eliminasi kusta dan eradikasi frambusia bagi pemegang program kusta puskesmas se-Kabupaten Probolinggo.
Kegiatan ini diikuti oleh pengelola program P2 kusta puskesmas se-Kabupaten Probolinggo. Selama kegiatan, mereka mendapatkan materi situasi kusta dan frambusia di Kabupaten Probolinggo tahun 2016, validasi data kusta dan frambusia tahun 2016, evaluasi penyerapan dana bantuan NLR tahun 2016, diskusi tentang strategi percepatan eliminasi kusta di Kabupaten Probolinggo serta penyususunan rencana kegiatan P2 kusta tahun 2016.
Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Shodiq Tjahjono melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Ari Suciati mengungkapkan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular seperti halnya penyakit menular yang lain. Namun karena penyakit ini dapat menimbulkan kecacatan apabila tidak diobati secara dini dan teratur, timbulah beberapa masalah baik masalah ekonomi maupun masalah sosial bagi penderita dan keluarganya.
“Disamping itu, stigma terhadap penyakit kusta masih tinggi di masyarakat, sehingga penderita kusta masih takut diketahui keadaan penyakitnya dan tidak mempunyai kepercayaan diri untuk bersosialisasi dengan teman, kerabat dan masyarakat di sekitarnya,” katanya.
Menurut Ari Suciati, pemberantasan penyakit kusta dengan menggunakan obat kombinasi (MDT) di Jawa Timur telah dilaksanakan sejak tahun 1989. Dan pada tahun 1994 diintesifkan dengan cara penyediaan obat yang cukup dan petugas-petugas yang terlatih di setiap Puskesmas.
“Hasilnya cukup menggembirakan karena berhasil menurunkan dan menyembuhkan penderita sebanyak 82.243 orang (tahun 1995 jumlah penderita sebanyak 4.514 dan pada akhir Desember 2015 menjadi 4.053 penderita),” jelasnya.
Di Kabupaten Probolinggo jelas Ari Suciati, sepanjang tahun 2016 ditemukan pasien kusta sebanyak 266 dan pada akhir Desember 2016 jumlah pasien kusta yang tercatat sebanyak 253 yang berarti masih banyak pasien kusta yang belum selesai pengobatan atau Release From Theraphy (RFT). Sehingga Prevalensi Rate (PR) kasus kusta per 10.000 penduduk masih tinggi yaitu 2,23.
“Upaya penemuan sedini mungkin dan pengobatan sesegera mungkin akan memberikan dampak menurunnya kasus dan penularan kusta. Keberhasilan pemberantasan penyakit kusta bukan semata-mata hasil kerja jajaran kesehatan saja, tetapi berkat kerja sama yang baik dari sektor-sektor terkait dan tidak kalah pentingnya adalah peran serta keluarga, masyarakat maupun lembaga sosial,” pungkasnya.
Sementara Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dr. Muhammad Anwar Sanusi mengatakan kegiatan ini bertujuan memberikan informasi tentang situasi dan permasalahan penyakit kusta dan frambusia di Kabupaten Probolinggo sekaligus evaluasi kegiatan program P2 kusta tahun 2016.
“Selain itu melakukan validasi data kusta dan frambusia tahun 2016 dan menyusun rencana kegiatan P2 kusta di Kabupaten Probolinggo tahun 2017. Menyusun strategi percepatan eliminasi kusta yang ada di Kabupaten Probolinggo serta memberikan informasi perkembangan bantuan NLR dan memberikan informasi tentang sistem rujukan ke RSK,” katanya. (wan/why)


COMMENTS