Penulis : Wawan Bromo FM Sabtu, 04/03/2017 KRAKSAAN – Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo Santiyono berharap ...
Penulis : Wawan Bromo FM
Sabtu, 04/03/2017
“Dari sekian banyak modal dan kekuatan ekonomi di Kabupaten Probolinggo, salah satu yang dapat menopang perekonomian Jawa Timur adalah adanya konsep kekuatan perempuan karena perempuan merupakan bagian dari pembangunan, khususnya dalam mencetak generasi penerus bangsa,” katanya.
Ia mengatakan, untuk penguatan ekonomi perempuan, maka dilaksanakan melalui peningkatan jaringan usaha dan akses permodalan melalui Kopwan dengan mengoptimalkan peran perempuan pada lembaga usaha ekonomi produktif serta meningkatkan keterampilan perempuan. Apalagi mayoritas dari UKM tersebut bergerak di bidang pertanian.
Menurutnya, untuk Kopwan yang berada di pedesaan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur memberikan bantuan permodalan sebesar Rp 25 juta per desa di setiap koperasi sejak tahun 2010, sedangkan untuk pengelolaannya ditambahkan sebanyak Rp 25 juta agar dapat memberdayakan ekonomi kaum perempuan.
Lebih lanjut Santiyono mengungkapkan persoalan makro di Kabupaten Probolinggo merupakan kesenjangan yang semakin serius, baik kesenjangan antar individu maupun kesenjangan wilayah yang harus diimbangi dengan pertumbuhan inklusif atau pertumbuhan merata, terutama di tingkat desa.
“Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kami menggandeng pemerintah desa untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Yaitu, dengan memperkuat edukasi keuangan, meningkatkan akses keuangan serta perlindungan konsumen,” ungkapnya.
Santiyono mengakui saat ini terjadi peningkatan jumlah koperasi di Kabupaten Probolinggo. Bahkan pada tahun 2015 lalu, tercatat tumbuh 119 Koperasi Wanita (Kopwan) berbasis syariah di pedesaan. Sisi lain, Dinas Koperasi dan UKM telah membubarkan 93 koperasi yang sudah tidak aktif. Hal itu menjadi salah satu indikasi ekonomi masyarakat di Kabupaten Probolinggo terus berkembang.
“Satu sisi banyak koperasi yang sudah tidak aktif lagi dibubarkan, tetapi di sisi lain juga banyak koperasi yang terus tumbuh, terutama koperasi wanita berbasis syariah,” katanya.
Lebih lanjut Santiyono menjelaskan, pembentukan Kopwan berbasis syariah ini bertujuan menumbuhkan lembaga koperasi di desa. “Harapannya kelompok-kelompok ini bisa mengelola lembaga keuangan di kelompoknya. Untuk koperasi berbasis syariah ini kami memberikan bantuan modal per kelompok sebesar Rp 25 juta,” jelasnya.
Menurut Santiyono, sebenarnya pihaknya menargetkan dapat membentuk koperasi berbasis syariah 1 koperasi per desa. Sehingga nantinya totalnya bisa membentuk 330 Kopwan berbasis syariah. Hanya saja yang terbentuk baru 119 koperasi.
“Perbedaan koperasi syariah dengan koperasi pada umumnya terletak pada sistem usahanya yang berbeda. Selain itu, sistem pembagian keuntungan bukan lagi menggunakan istilah bunga. Akan tetapi aturan dasar bagi hasil,” terangnya.
Santiyono menegaskan, yang menjadi kendala belum maksimalnya pembentukan koperasi syariah karena belum adanya pemahaman dari pengelola dan anggota tentang pengelolaan koperasi. Di samping itu, koperasi juga harus mempunyai visi dan misi yang jelas terkait kebutuhan anggota dan usahanya.
“Untuk membentuk koperasi, anggota minimal 25 orang dan modal awal Rp 15 juta. Yang paling susah, fokus bisnis usaha dari koperasi harus jelas. Jadi harus konsisten dengan usaha yang dijalankan sejak dari awal pembentukan koperasi,” pungkasnya. (wan/why)


COMMENTS