Penulis : Wawan Bromo Fm Selasa, 21 Maret 2017 DRINGU – Ratusan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) perwakilan cabang se-Ja...
Selasa, 21 Maret 2017
DRINGU – Ratusan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) perwakilan cabang se-Jawa Timur mengikuti Study Politik Kerakyatan yang digelar Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur bekerja sama dengan Pengurus Cabang PMII Probolinggo, Selasa hingga Sabtu (21-25/3/2017) di Komplek Perkantoran Diklat Kabupaten Probolinggo.
Kegiatan yang mengambil tema “Urgensi Politik Kelas Dibawah Krisis Ekonomi Dunia” ini dibuka oleh Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII Probolinggo Badrus Zaman, Selasa (21/3/2017). Pembukaan ini dihadiri oleh Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur Zainuddin, Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis, Ketua Umum PC PMII Probolinggo Ahmad Hasan, pengurus KNPI Kabupaten Probolinggo dan sejumlah perwakilan perangkat daerah di Kabupaten Probolinggo.
Ketua PC PMII Probolinggo Ahmad Hasan mengungkapkan sangat bangga karena bisa dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan study politik kerakyatan yang digelar oleh PKC PMII Jawa Timur dengan harapan mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa dalam memahami urgensi politik di Indonesia.
Sementara Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur Zainuddin menyampaikan kegiatan ini bertujuan agar kader PMII bisa membuka pola pikir dan tidak mempersempit pola pikirnya. Urgendsi politik ini menjadi pertanyaan besar saat ini. Oleh karena itu, mahasiswa tidak boleh menutup mata terhadap politik.
“Kita harus menciptakan Indonesia sejahtera dan aman dengan analisis politik-politik yang aman. PMII konsisten untuk mengawal di Jawa Timur, terutama yang berhubungan dengan NKRI. Karena asas PMII sudah jelas asasnya Pancasila,” katanya.
Menurut Zainuddin, substansi mengajarkan politik kemanusiaan bagaimana menciptakan manusia yang seutuh-utuhnya. “Study politik ini penting agar ke depannya mampu memberikan gagasan-gagasan dan tidak mempersempit pemikiran ide politiknya,” jelasnya.
Ketua IKA PMII Probolinggo Babus Zaman mengatakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi yang sudah melewati masa muda. Proses pendidikan di Indonesia banyak pengamat yang menilai telah terjadi degradasi dari proses pendidikan menjadi proses pembelajaran.
“Bukan tidak mungkin ini bisa menjadi cikal bakal krisis moral bangsa. Dulu orang tua kalau anaknya dipukul guru akan diam saja karena menganggap anaknya nakal dan sebagai proses pembelajaran. Tetapi sekarang begitu dipukul anaknya, orang tua langsung lapor polisi. Hal ini terjadi karena adanya kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan,” ungkapnya.
Menurut Badrus, kalau diteruskan mengadopsi apa yang ada di negara barat, maka lambat laun akan hancur. Kesetaraan itu tidak sederajat. Emansipasi wanita bukan sederajat tapi kesamaan hal-hal tertentu di dunia.
“Sehingga tidak heran jika angka perceraian makin tinggi. Karena seorang istri sudah mengganggap adanya kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Tetapi hal ini kesetaraan gender yang kebablasan,” jelasnya.
Badrus menambahkan bahwa proses-proses seperti ini hanya bisa dilaksanakan di luar proses pembelajaran. “Kita dituntut pintar tapi tidak mengerti. Saya tetap menghargai apa yang ada dalam proses pendidikan di sekolah. Pendidikan mental spiritual harus tetap dijaga minimal seimbang,” terangnya.
Sedangkan Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis menyampaikan bahwa untuk merubah bangsa ini maka harus masuk dalam simpul-simpul kebijakan.
“Ketika saya menjadi mahasiswa belum pernah menjadi pengurus PMII, meskipun menjadi bagian dari PMII. Ternyata PMII itu adalah penjaga marwah terdepan mahasiswa yang bersinergi dengan NU. Sebab NU tanpa PMII bagaikan lautan tanpa garam,” katanya.
Lebih lanjut Muchlis mengapresiasi upaya PMII yang mengajak para anak muda untuk memiliki pemahaman politik. Karena memang anak muda aaat ini harus dipelajari nuansa politik.
“Oleh karena itu, anak muda harus berpikir ke depan dan jangan berpikir ke belakang. Berbeda itu boleh tapi kedewasaan harus taruh di depan. Mengkritik boleh tapi kritik membangun,” jelasnya.
Menurut Muchlis, semua sesuatu harus diawali dengan niat. Mahasiswa harus bangga menjadi bagian dari PMII. Karena PMII akan selalu ada dihari dan selalu dinanti. “Silahkan berorganisasi, jangan bertanya apa yang didapat dari PMII, tetapi bertanyalah apa yang sudah diperbuat untuk PMII,” pungkasnya. (wan/why)


COMMENTS