Penulis : Wawan Bromo FM Sabtu, 04/03/2017 BANTARAN – Karena diduga dilatarbelakangi rasa cemburu dan sakit hati, Nemo, 42, asal Dusu...
Penulis : Wawan Bromo FM
Sabtu, 04/03/2017
BANTARAN – Karena diduga dilatarbelakangi rasa cemburu dan sakit hati, Nemo, 42, asal Dusun Kapuran Desa Tempuran Kecamatan Bantaran Kabupaten Probolinggo nekat membacok Ghozi, 21, warga Dusun Kramat, Desa Kramat Agung Kecamatan Bantaran, Jum’at (3/3/2017) pagi.Akibat bacokan Nemo, Ghozi yang merupakan seorang tukang sayur keliling itu tewas secara mengenaskan dengan tubuh penuh dengan bacokan. Peristiwa sendiri terjadi sekitar pukul 08.00 pagi.
Kejadian ini berawal, saat pagi itu seperti biasanya Ghozi berangkat Subuh dari rumahnya untuk kulakan dagangan ke pasar untuk selanjutnya keliling menjajakan dagangan sayurnya. Seperti biasa dia keliling kampung dengan mengendarai sepeda motor Honda Revo.
Pagi itu, Ghozi parkir di depan rumah Nemo. Namun tiba-tiba Nemo keluar rumah dan menghampirinya sambil membawa clurit. Tanpa berpikir panjang, Nemo langsung membacokkan cluritnya ke arah Ghozi. Hanya saja diperkirakan, bacokan pertama ini berhasil ditangkis dengan tangan kanannya. Hal ini dibuktikan dengan lengan kanannya yang hampir putus.
Karena terkena bacokan pertama inilah, Ghozi berusaha melarikan diri ke utara. Tetapi Nemo terus berusaha mengejar. Namun hanya berjarak 100 meter, Ghozi kembali terkena bacokan bagian mulut hingga bagian belakang kepalanya. Bahkan, leher kepalanya hampir putus akibat bacokan Nemo.
Selain itu, di bagian kakinya juga mengalami luka bacok cukup serius. Ditambah, luka tusukan berulang kali di bagian tangannya akibat bacokan Nemo yang berulang kali saat tergeletak. Berdasarkan hasil visum, luka bacoknya mencapai 23 titik bacokan.
Usai membacok, Nemo terdiam sambil memegang clurit sebelum akhirnya melarikan diri untuk bersembunyi di rumah saudaranya. Sementara Ghozi, akhirnya diangkat oleh warga sekitar dan dibawa ke RSUD Dr. Moch Sholeh Kota Probolinggo menggunakan mobil patroli Polsek Bantaran. Tetapi Ghozi diduga meninggal dunia di perjalanan menuju rumah sakit akibat kehabisan darah dari bekas luka bacok yang sangat serius.
Keluarga korban banyak yang tidak terima atas kematian Ghozi dengan tragis. Nur Azizah, kakak kandung Ghozi menangis histeris di teras kamar mayat. “Adik saya salah apa kok sampai dibunuh seperti ini,” katanya.
Sementara Nizar, 55, paman Ghozi mengatakan bahwa keponakannya merupakan anak pendiam dan sudah lama jualan tukang sayur keliling. Bahkan, pengakuan kampung Desa Kramat Agung, Ghozi kalau jualan sayuran, sepeda motornya diparkir dan duduk menjauh dari dagangan itu atau tidak ikut berkumpul dengan ibu-ibu yang datang beli belanja. (wan)


COMMENTS