Penulis : Dimaz Bromo FM Senin, 20/02/2017 SUKAPURA – Hidup Sutirmo, 50, warga Dusun Janti RT 5/RW 2 Desa Pakel, Kecamatan Sukapura, ...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Senin, 20/02/2017
SUKAPURA – Hidup Sutirmo, 50, warga Dusun Janti RT 5/RW 2 Desa Pakel, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, berakhir tragis. Ia ditemukan tewas gantung diri di sebuah bak truk, Jumat (17/2/2017) malam.Bak truk itu ditutup tenda. Sutirno mengaitkan sebuah tali tampar sapi di kayu bak truk. Malam itu, truk itu hendak membawanya ke Mapolsek Sukapura. Ia sejatinya tak sendirian. Ia bersama dua warga lain di bak truk tertutup terpal itu.
Hanya saja, lantaran kondisi di dalam bak truk cukup gelap, dua warga lainnya itu tak mengetahui kalau Sutirmo telah meregang nyawa usai kendat. Sutirmo sendiri dibawa ke Polsek Sukapura karena ia terlibat masalah dengan warga Desa Sariwani.
Sutirmo dibawa ke Polsek Sukapura lantaran mediasi yang dilakukan di Balai Desa Sariwani tidak membuahkan hasil. “Korban (Sutirmo) sebelumnya melakukan tirakat di pemakaman Desa Palang Besi, Kecamatan Lumbang. Ia lalu mengaku mendapatkan wangsit saat itu,” ujar Wage Rudlofs, Kepala Desa Pakel.
Sutirmo lantas mengambil buah mengkudu dan duri-duri di lokasi makam tersebut. Selanjutnya, buah mengkudu dan duri-duri untuk dikubur di makam baru. Ia lantas menuju sebuah makam baru di Desa Sariwani.
Kebetulan di Desa Sariwani, terdapat makam baru. Tepatnya, di Dusun Nganjir. Aktivitas Sutirmo itu rupanya diketahui ahli waris makam baru tersebut. Kontan saja, ahli waris si pemilik makam tak terima dengan aktivitas Sutirmo.
Pihak ahli waris pun lantas membawa masalah tersebut ke pemerintah desa setempat. Oleh pemerintah desa setempat, Sutirmo lantas dipanggil untuk dimediasi dengan keluarga ahli waris sang pemilik makam.
“Saat dimediasi, korban mengaku aksinya (mengubur mengkudu dan duri-duri) itu dilakukan untuk mendamaikan saudaranya. Saudaranya yang bernama Ari disebutkan sering cekcok dengan istrinya,” terang Wage Rudlofs.
Dalam proses perdamaian tersebut, korban didampingi perangkat Desa Pakel. “Pihak ahli waris bersikukuh tetap tidak terima dengan tindakan pelaku,” beber Wage. Pihak ahli waris makam sendiri meminta surat pernyataan dari pemerintah desa setempat. Yakni, Desa Pakel bersama Desa Desa Sariwani.
Isinya, Sutirmo diminta bertanggung jawab apabila dikemudian hari ada permasalahan dengan makam baru tersebut. “Karena tidak ada titik temu, pihak desa sepakat membawa korban ke Polsek Sukapura untuk dimediasi di sana,” terangnya.
Sutirmo lantas dibawa ke bak truk tertutup bersama dua perangkat Desa Sariwani. Yakni Sunarmi, 60, kasun Desa Sariwani, dan Edi, 40, hansip Desa Sariwani. Di dalam truk, lokasi Sutirmo dan Sunarmi serta Edi cukup berjauhan.
Edi dan Sunarmi sama- sama berada di dekat pintu bak truk. Sementara Sutirmo berada di dekat kepala truk. Truk itu sampai di Mapolsek Sukapura sekitar pukul 17.30 sore. Di depan mapolsek, dua perangkat Desa Sariwani turun terlebih dahulu untuk membuka pintu bak truk tersebut.
Setelah bak truk terbuka, kasun Sunarmi memanggil korban untuk turun. Namun, tidak ada jawaban dari korban. Mendapati itu, Bambang, perangkat Desa Pakel lantas mengecek dengan menggunakan penerangan mobil lain di belakang bak truk.
Saat itulah diketahui bahwa korban Sutirmo sudah meninggal dengan kondisi mengenaskan. Dilehernya terikat tali yang terpasang di bak kayu truk. Tapi, kakinya menyentuh dasar bak truk. “Korban sudah meninggal gantung diri dengan disaksikan petugas polisi setempat,” terangnya.
Tali tampar yang digunakan korban untuk kendat disebutkan milik korban sendiri. “Kami tidak menyangka bisa terjadi seperti ini, memang korban sering keluar dengan tampar tersebut untuk dibuat sabuk celananya. Tali tampar tersebut adalah bekas tali sapi yang disembelih untuk aqiqah warga setempat,” terangnya.
Wage menduga, Sutirmo takut kasusnya diproses di kepolisian. “Karena takut, ia berpikiran pendek. Akhirnya, terjadi seperti itu. Kalau seperti ini, bukan keluarga korban saja yang dirugikan, semua pihak dirugikan, jangan sampai terjadi lagi. Segala masalah harus dirunding saja. Di desa ada banyak tokoh-tokoh juga,” harap Wage.
Terpisah, Sukaryo, Kepala Desa Sariwani membenarkan bahwa korban telah melakukan tirakat di pemakaman Desa Palang Besi. “Korban mendapat wangsit disuruh menanam mengkudu dan duri di makam orang yang baru meninggal. Mengkudu dan duri tersebut terbungkus kain hijau dengan terikat tiga tali, pihak ahli waris mengira tindakan korban untuk menyantet,” terangnya.
Pihaknya mengaku, telah memproses masalah tersebut dengan kekeluargaan. “Tapi, ahli waris pemilik makam tidak mau berdamai, sehingga kami ajukan ke polsek setempat. Jalurnya memang begitu, tidak boleh main hakim sendiri,” terangnya.
Terpisah, Kasubbag Humas Polres Probolinggo AKP Ida Bagus mengaku, korban saat ditemukan sudah dalam keadaan tergantung. “Kami langsung upayakan visum di RSUD Tongas. Hasilnya, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan. Jadi, korban tersebut meninggal dalam keadaan wajar,” terangnya. (maz/ast)


COMMENTS