Penulis : Dimas Bromo FM Minggu,20 November 2016 WONOMERTO – Proyek jalan tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) di Kota dan Kabupaten Proboli...
Penulis : Dimas Bromo FM
Minggu,20 November 2016
WONOMERTO – Proyek jalan tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) di Kota dan Kabupaten Probolinggo sudah dimulai. Namun, pengerjaannya kini mulai dikeluhkan masyarakat. Terutama, proyek tol di Desa Kedungsupit, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo.
Pasalnya, proyek itu banyak menimbulkan abu pekat. Seperti yang disampaikan Taufik, 28, warga Desa Kedungsupit, Kecamatan Wonomerto. Taufik mengatakan, dirinya dan warga lainnya mulai merasakan dampak dari pembangunan proyek jalan tol yang tidak jauh dari rumah mereka. Saat sedang tidak hujan, abu yang ditimbulkan dari proyek tol itu bertebaran kemana-mana. Bahkan, sampai ke rumah warga.
”Kalau keluar rumah, cuacanya sudah nggak bagus. Karena banyak debu. Selain itu, rumah jadi kotor terus,” katanya. Selain itu diungkapkan Taufik, banyak truk besar yang melintas di jalan raya Bantaran-Wonoasih.
Muatan truk berupa tanah atau pasir, kerap kececeran atau berjatuhan ke jalan. Akibatnya, tanah atau pasir kerap bertebaran dan mengganggu pengguna jalan. ”Apalagi kalau hujan, kondisi jalan malah jadi bahaya. Sebab, jalan yang tertutup abu atau tanah jadi licin. Harusnya, truk pengangkut itu ada penutupnya. Sehingga, muatannya tidak sampai berjatuhan ke jalan,” harapnya.
Sementara, Agus Minarno selaku PPK (pejabat pembuat komitmen) proyek tol Pasuruan- Probolinggo dari Kementerian PU dan Perumahan (Pupera) saat dikonfirmasi mengatakan, proyek jalan tol memang sudah dimulai.
Terutama di wilayah Kota Probolinggo dan Desa Kedungsupit, Kecamatan Wonomerto. Tetapi, selama ini dirinya belum mendapat adanya laporan tentang keluhan warga sekitar. ”Kalau memang ada keluhan, nanti kami akan rapatkan dan bahas bersama. Kami akan carikan solusinya,” katanya. (maz/ast)
Minggu,20 November 2016
WONOMERTO – Proyek jalan tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) di Kota dan Kabupaten Probolinggo sudah dimulai. Namun, pengerjaannya kini mulai dikeluhkan masyarakat. Terutama, proyek tol di Desa Kedungsupit, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo.
Pasalnya, proyek itu banyak menimbulkan abu pekat. Seperti yang disampaikan Taufik, 28, warga Desa Kedungsupit, Kecamatan Wonomerto. Taufik mengatakan, dirinya dan warga lainnya mulai merasakan dampak dari pembangunan proyek jalan tol yang tidak jauh dari rumah mereka. Saat sedang tidak hujan, abu yang ditimbulkan dari proyek tol itu bertebaran kemana-mana. Bahkan, sampai ke rumah warga.
”Kalau keluar rumah, cuacanya sudah nggak bagus. Karena banyak debu. Selain itu, rumah jadi kotor terus,” katanya. Selain itu diungkapkan Taufik, banyak truk besar yang melintas di jalan raya Bantaran-Wonoasih.
Muatan truk berupa tanah atau pasir, kerap kececeran atau berjatuhan ke jalan. Akibatnya, tanah atau pasir kerap bertebaran dan mengganggu pengguna jalan. ”Apalagi kalau hujan, kondisi jalan malah jadi bahaya. Sebab, jalan yang tertutup abu atau tanah jadi licin. Harusnya, truk pengangkut itu ada penutupnya. Sehingga, muatannya tidak sampai berjatuhan ke jalan,” harapnya.
Sementara, Agus Minarno selaku PPK (pejabat pembuat komitmen) proyek tol Pasuruan- Probolinggo dari Kementerian PU dan Perumahan (Pupera) saat dikonfirmasi mengatakan, proyek jalan tol memang sudah dimulai.
Terutama di wilayah Kota Probolinggo dan Desa Kedungsupit, Kecamatan Wonomerto. Tetapi, selama ini dirinya belum mendapat adanya laporan tentang keluhan warga sekitar. ”Kalau memang ada keluhan, nanti kami akan rapatkan dan bahas bersama. Kami akan carikan solusinya,” katanya. (maz/ast)



COMMENTS