Penulis : Dimaz Bromo FM Jum'at, 14/10/2016 GADING – Korban dugaan penipuan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi terus bermunculan. S...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Jum'at, 14/10/2016
GADING – Korban dugaan penipuan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi terus bermunculan. Selain melapor ke petugas, ada juga yang nekat mendatangi area Padepokan yang terletak di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo.
Hal itu seperti dilakukan S, perempuan asal Nguling, Kabupaten Pasuruan. Kamis (13/10/2016), ia nekat mendatangi padepokan untuk mencari Juariyah yang disebutkan jadi koordinator padepokan. ”Saya datang ke sini untuk mencari namanya Juariyah, dia koordinator padepokan sini,” kata perempuan berkerudung itu, sambil masuk ke pintu portal padepokan dan menemui petugas kepolisian.
Korban menjelaskan, dirinya bukan sebagai pengikut. Tetapi, koordinator bernama Juariyah itu yang kebetulan tinggal di samping rumahnya, sudah meminjam uang mencapai sekitar Rp 500 juta. Awal cerita, dirinya dijanjikan oleh koordinator itu agar duitnya dikembalikan miliaran rupiah.
”Saya bukan pengikut, tapi saya korban,” ujarnya. S mengatakan, kejadian pertama kali itu terjadi pada 2010 lalu. Saat itu, Juariyah yang diketahui menjadi koordinator meminjam uang sekitar Rp 3 juta dan berjanji akan mengembalikan duit miliaran rupiah. Saat itu, S tidak tahu pasti kenapa dirinya saat itu nurut saja.
”Mungkin saja karena saya kena air minuman dari dia (koordinator). Jadi saya mau saja. Air itu katanya supaya saya bisa lebih tenang,” ujarnya.
Kejadian koordinator meminjam uang pada korban S, ternyata awalnya tanpa sepengetahuan suamianya. S mengaku, dirinya sudah cerai dengan suaminya sekitar satu tahun kemarin, karena dirinya menjadi korban penipuan Juariyah.
Kebetulan, dulunya suaminya tidak mengizinkan untuk mengasih pinjaman. Bahkan, karena dirinya sudah terkena omongan Juariyah, dirinya sampai pinjam uang ke bank dengan jaminan sertifikat rumah dan pinjam ke rentenir.
”Kerugian saya besar, lebih Rp 500 juta. Mobil saya sudah disita bank, toko saya diambil rentenir dan rumah saya sekarang masih jadi jaminan bank, dan yang bayarin anak saya,” ungkapnya. Rencana untuk mencari Juariyah yang disebut-sebut jadi koordinator pun kemarin sia-sia. Sebab, korban S dilarang masuk ke areal padepokan.
Petugas kepolisian mengarahkan korban S untuk melapor ke Mapolres Probolinggo. Dari situ, pihak kepolisian akan menyelidiki laporan tersebut. ”Saya mau melapor belum memiliki bukti. Saya ke sini cari koordinator itu, untuk minta tanda bukti,” kata korban.
Sementara itu, Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifudin saat dikonfirmasi mengatakan, bagi siapapun yang merasa menjadi korban penipuan atau sanak keluarganya hilang, segera melapor ke pihak kepolisian. Pihaknya, pasti akan menindaklanjuti laporan itu. ”Lapor dulu, nanti kami akan lakukan penyelidikan lebih lanjut,” ujarnya. (maz/ast)
Jum'at, 14/10/2016
GADING – Korban dugaan penipuan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi terus bermunculan. Selain melapor ke petugas, ada juga yang nekat mendatangi area Padepokan yang terletak di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo.
Hal itu seperti dilakukan S, perempuan asal Nguling, Kabupaten Pasuruan. Kamis (13/10/2016), ia nekat mendatangi padepokan untuk mencari Juariyah yang disebutkan jadi koordinator padepokan. ”Saya datang ke sini untuk mencari namanya Juariyah, dia koordinator padepokan sini,” kata perempuan berkerudung itu, sambil masuk ke pintu portal padepokan dan menemui petugas kepolisian.
Korban menjelaskan, dirinya bukan sebagai pengikut. Tetapi, koordinator bernama Juariyah itu yang kebetulan tinggal di samping rumahnya, sudah meminjam uang mencapai sekitar Rp 500 juta. Awal cerita, dirinya dijanjikan oleh koordinator itu agar duitnya dikembalikan miliaran rupiah.
”Saya bukan pengikut, tapi saya korban,” ujarnya. S mengatakan, kejadian pertama kali itu terjadi pada 2010 lalu. Saat itu, Juariyah yang diketahui menjadi koordinator meminjam uang sekitar Rp 3 juta dan berjanji akan mengembalikan duit miliaran rupiah. Saat itu, S tidak tahu pasti kenapa dirinya saat itu nurut saja.
”Mungkin saja karena saya kena air minuman dari dia (koordinator). Jadi saya mau saja. Air itu katanya supaya saya bisa lebih tenang,” ujarnya.
Kejadian koordinator meminjam uang pada korban S, ternyata awalnya tanpa sepengetahuan suamianya. S mengaku, dirinya sudah cerai dengan suaminya sekitar satu tahun kemarin, karena dirinya menjadi korban penipuan Juariyah.
Kebetulan, dulunya suaminya tidak mengizinkan untuk mengasih pinjaman. Bahkan, karena dirinya sudah terkena omongan Juariyah, dirinya sampai pinjam uang ke bank dengan jaminan sertifikat rumah dan pinjam ke rentenir.
”Kerugian saya besar, lebih Rp 500 juta. Mobil saya sudah disita bank, toko saya diambil rentenir dan rumah saya sekarang masih jadi jaminan bank, dan yang bayarin anak saya,” ungkapnya. Rencana untuk mencari Juariyah yang disebut-sebut jadi koordinator pun kemarin sia-sia. Sebab, korban S dilarang masuk ke areal padepokan.
Petugas kepolisian mengarahkan korban S untuk melapor ke Mapolres Probolinggo. Dari situ, pihak kepolisian akan menyelidiki laporan tersebut. ”Saya mau melapor belum memiliki bukti. Saya ke sini cari koordinator itu, untuk minta tanda bukti,” kata korban.
Sementara itu, Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifudin saat dikonfirmasi mengatakan, bagi siapapun yang merasa menjadi korban penipuan atau sanak keluarganya hilang, segera melapor ke pihak kepolisian. Pihaknya, pasti akan menindaklanjuti laporan itu. ”Lapor dulu, nanti kami akan lakukan penyelidikan lebih lanjut,” ujarnya. (maz/ast)



COMMENTS