Penulis : Dimas Bromo FM Senin, 24 Oktober 2016 PAJARAKAN – Polres Probolinggo masih terus melakukan penyelidikan terkait adanya sejumlah...
Penulis : Dimas Bromo FM
Senin, 24 Oktober 2016
PAJARAKAN – Polres Probolinggo masih terus melakukan penyelidikan terkait adanya sejumlah pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang meninggal di area padepokan. Sejauh ini, polisi masih berupaya mengumpulkan bukti-bukti.
Yakni meminta keterangan sejumlah korban. Hasilnya, dugaan kematian I, salah satu pengikut asal Kabupaten Probolinggo yang meninggal di area padepokan mengarah ke tidak wajar. Hal itu diungkapkan oleh Kasatreskrim Polres Probolinggo, AKP Harianto Rantesalu.
Menurutnya, pihaknya sejauh ini masih mengumpulkan sejumlah bukti yang mendukung dugaan pembunuhan pada I. Sebab, keterangan yang didapat dari sejumlah saksi dan keluarga korban tidak banyak membantu.
“Penyelidikan masih terus berjalan, namun baru sebatas dugaan. Sebab, kami belum mendapatkan bukti kuat yang mengarah ke sana,” katanya. Mantan Kasubbit III Direskrimum Polda Jatim ini menjelaskan, pihaknya sudah meminta keterangan pada pihak keluarga dan sejumlah pengikut padepokan yang mengenal korban.
Dari hasil penyidikan diketahui, jika I meninggal pada 10 September lalu di masjid padepokan setempat. I disebutkan meninggal secara mendadak. Dan saat dimandikan, pihak keluarga menemukan sejumlah luka lebam menghitam di wajahnya.
Dari keterangan istri I, polisi mendapat penjelasan bahwa kondisi jenazah I sama dengan Najmiah, warga Makassar, Sulawesi Selatan dan Kasianto, warga Surabaya. Kuku tangan pada korban I juga disebutkan menghitam, sama dengan kondisi jenazah Najmiah dan Kasianto.
Selain itu, juga ditemukan luka lebam di lengan kanannya. Namun, penyidik tidak dapat memastikan apakah luka lebam ini akibat kekerasan ataukah di sebabkan oleh faktor lainnya. Sebab, untuk mengetahuinya diperlukan pemeriksaan forensik.
Perwira dengan tiga setrip di pundaknya ini memastikan pihaknya akan terus mengembangkan kasus yang terjadi di padepokan. Termasuk menyelidiki adanya dugaan pengikut yang meninggal secara mendadak maupun tidak wajar.
Disebutkan Harianto, pihaknya mengalami sejumlah kendala untuk mengusut tuntas meninggalnya sejumlah pengikut di area padepokan. Sebab, selain belum ada bukti kuat yang mendukung, sampai saat ini pihak keluarga tidak ada yang melapor ke kepolisian dan mengusut penyebab kematian mereka.
Hal itu membuat pihak kepolisian tak bisa melangkah lebih jauh untuk mengusut kematian para pengikut. Seperti membongkar kuburan dan melakukan otopsi untuk mengetahui meninggalnya misalnya. Sebab, untuk melakukan otopsi itu disebutkan Harianto pihaknya membutuhkan laporan dari pihak keluarga korban.
“Sampai saat ini tidak ada yang meminta untuk di usut,” jelasnya. Seperti diketahui, Polres Probolinggo terus menelusuri kabar adanya pengikut Dimas Kanjeng yang meninggal di areal padepokan.
Sejauh ini pihak kepolisian terus berkoordinasi dengan Polda untuk mencari bukti-bukti materiil. AKP Harianto Rantesalu mengatakan sampai saat ini, total sudah ada 17 laporan korban penipuan yang diterima oleh Polres Probolinggo. Laporan ini masih didalami oleh pihaknya dengan mencari bukti-bukti yang mendukung.
“Kami masih mendalami laporan dengan mencari bukti-bukti materiil yang mendukung,” sebutnya. Harianto menjelaskan, dari hasil penyelidikan sementara, diketahui sejauh ini barang bukti (BB) mengarah pada kedua korban pembunuhan.
Yakni Abdul Gani dan Ismail Hidayah yang pernah menjadi sultan di Padepokan setempat. Dari laporan yang masuk, uang setoran para korban yang melapor ke Polres sekitar 80 persen disetorkan pada keduanya. (maz/ast)
Senin, 24 Oktober 2016
PAJARAKAN – Polres Probolinggo masih terus melakukan penyelidikan terkait adanya sejumlah pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang meninggal di area padepokan. Sejauh ini, polisi masih berupaya mengumpulkan bukti-bukti.
Yakni meminta keterangan sejumlah korban. Hasilnya, dugaan kematian I, salah satu pengikut asal Kabupaten Probolinggo yang meninggal di area padepokan mengarah ke tidak wajar. Hal itu diungkapkan oleh Kasatreskrim Polres Probolinggo, AKP Harianto Rantesalu.
Menurutnya, pihaknya sejauh ini masih mengumpulkan sejumlah bukti yang mendukung dugaan pembunuhan pada I. Sebab, keterangan yang didapat dari sejumlah saksi dan keluarga korban tidak banyak membantu.
“Penyelidikan masih terus berjalan, namun baru sebatas dugaan. Sebab, kami belum mendapatkan bukti kuat yang mengarah ke sana,” katanya. Mantan Kasubbit III Direskrimum Polda Jatim ini menjelaskan, pihaknya sudah meminta keterangan pada pihak keluarga dan sejumlah pengikut padepokan yang mengenal korban.
Dari hasil penyidikan diketahui, jika I meninggal pada 10 September lalu di masjid padepokan setempat. I disebutkan meninggal secara mendadak. Dan saat dimandikan, pihak keluarga menemukan sejumlah luka lebam menghitam di wajahnya.
Dari keterangan istri I, polisi mendapat penjelasan bahwa kondisi jenazah I sama dengan Najmiah, warga Makassar, Sulawesi Selatan dan Kasianto, warga Surabaya. Kuku tangan pada korban I juga disebutkan menghitam, sama dengan kondisi jenazah Najmiah dan Kasianto.
Selain itu, juga ditemukan luka lebam di lengan kanannya. Namun, penyidik tidak dapat memastikan apakah luka lebam ini akibat kekerasan ataukah di sebabkan oleh faktor lainnya. Sebab, untuk mengetahuinya diperlukan pemeriksaan forensik.
Perwira dengan tiga setrip di pundaknya ini memastikan pihaknya akan terus mengembangkan kasus yang terjadi di padepokan. Termasuk menyelidiki adanya dugaan pengikut yang meninggal secara mendadak maupun tidak wajar.
Disebutkan Harianto, pihaknya mengalami sejumlah kendala untuk mengusut tuntas meninggalnya sejumlah pengikut di area padepokan. Sebab, selain belum ada bukti kuat yang mendukung, sampai saat ini pihak keluarga tidak ada yang melapor ke kepolisian dan mengusut penyebab kematian mereka.
Hal itu membuat pihak kepolisian tak bisa melangkah lebih jauh untuk mengusut kematian para pengikut. Seperti membongkar kuburan dan melakukan otopsi untuk mengetahui meninggalnya misalnya. Sebab, untuk melakukan otopsi itu disebutkan Harianto pihaknya membutuhkan laporan dari pihak keluarga korban.
“Sampai saat ini tidak ada yang meminta untuk di usut,” jelasnya. Seperti diketahui, Polres Probolinggo terus menelusuri kabar adanya pengikut Dimas Kanjeng yang meninggal di areal padepokan.
Sejauh ini pihak kepolisian terus berkoordinasi dengan Polda untuk mencari bukti-bukti materiil. AKP Harianto Rantesalu mengatakan sampai saat ini, total sudah ada 17 laporan korban penipuan yang diterima oleh Polres Probolinggo. Laporan ini masih didalami oleh pihaknya dengan mencari bukti-bukti yang mendukung.
“Kami masih mendalami laporan dengan mencari bukti-bukti materiil yang mendukung,” sebutnya. Harianto menjelaskan, dari hasil penyelidikan sementara, diketahui sejauh ini barang bukti (BB) mengarah pada kedua korban pembunuhan.
Yakni Abdul Gani dan Ismail Hidayah yang pernah menjadi sultan di Padepokan setempat. Dari laporan yang masuk, uang setoran para korban yang melapor ke Polres sekitar 80 persen disetorkan pada keduanya. (maz/ast)



COMMENTS