Penulis : Dimas Bromo FM Jum'at, 21 Oktober 2016 KRAKSAAN – Dugaan adanya sejumlah pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang...
Penulis : Dimas Bromo FM
Jum'at, 21 Oktober 2016
KRAKSAAN – Dugaan adanya sejumlah pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang meninggal saat berada di Padepokan, terus diselidiki Polres Probolinggo. Saat ini, Polres sudah mengantongi lima identintas pengikut Padepokan yang meninggal di areal Padepokan.
Bahkan, satu korban di antaranya diduga menjadi korban pembunuhan dan berasal dari Kabupaten Probolinggo. Data yang dihimpun menyebutkan, satu pengikut Padepokan yang meninggal dan dikubur di sisi timur Padepokan di ketahui bernama Ani asal Papua.
Dia meninggal pada 2013. Sedangkan empat pengikut yang tewas lainnya, berinisial S asal Brebes, SN asal Kabupaten Magetan, N asal Ngawi dan I asal Kabupaten Probolinggo. Mereka semua dibawa pulang oleh keluarganya. Hal itu disampaikan Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin.
Saat ditemui di Mapolres, Kapolres mengungkapkan proses penyelidikan terkait keberadaan kuburan dan pengikut lain yang tewas di areal Padepokan terus berkembang. Yang terbaru yaitu, ada satu pengikut lagi yang tewas di Padepokan secara mendadak.
Dugaan sementara, pengikut dengan jenis kelamin pria itu tewas akibat dibunuh. Tetapi, pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut. ”Kami sudah menemui pihak keluarga pengikut asal sini (Kabupaten Probolinggo) yang meninggal di Padepokan,” terangnya.
Bahkan diungkapkan Kapolres, kematian pengikut asal Kabupaten Probolinggo itu terjadi tanggal 10 September lalu atau 10 hari sebelum penggrebekan dan penangkapan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Padepokan. Hasil penyelidikan sementara, memang ada dugaan pengikut itu tewas secara tidak wajar. Namun, pihaknya masih berupaya mengumpulkan alat bukti lainnya.
”Jadi, dari lima pengikut yang meninggal di Padepokan itu, semuanya meninggal secara mendadak. Satu pengikut meninggal di tahun 2013 dan empat pengikut lainnya terjadi pada 2016,” ungkapnya. Sejauh ini dikatakan Kapolres, pihaknya terus mengembangkan kasus yang terjadi di Padepokan.
Salah satunya, mengusut dugaan sejumlah kuburan di areal padepokan yang disinyalir merupakan kuburan pengikut Padepokan. Sayangnya, hingga saat ini, belum ada dari pihak keluarga pengikut yang melapor ke pihak kepolisian.
”Belum ada rencana untuk membongkar kuburan di areal Padepokan. Karena, masih menunggu laporan dari pihak keluarga,” ujarnya. Bahkan, menurutnya, sampai kini belum ada keluarga yang melapor dan meminta untuk mengusut kembali penyebab kematian keluarga mereka. Baik yang dikubur di sekitar areal Padepokan maupun dikubur di daerah asalnya masing-masing. ”Belum ada keluarga korban yang menuntut untuk diusut,” tambahnya. (maz/ast)
Jum'at, 21 Oktober 2016
KRAKSAAN – Dugaan adanya sejumlah pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang meninggal saat berada di Padepokan, terus diselidiki Polres Probolinggo. Saat ini, Polres sudah mengantongi lima identintas pengikut Padepokan yang meninggal di areal Padepokan.
Bahkan, satu korban di antaranya diduga menjadi korban pembunuhan dan berasal dari Kabupaten Probolinggo. Data yang dihimpun menyebutkan, satu pengikut Padepokan yang meninggal dan dikubur di sisi timur Padepokan di ketahui bernama Ani asal Papua.
Dia meninggal pada 2013. Sedangkan empat pengikut yang tewas lainnya, berinisial S asal Brebes, SN asal Kabupaten Magetan, N asal Ngawi dan I asal Kabupaten Probolinggo. Mereka semua dibawa pulang oleh keluarganya. Hal itu disampaikan Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin.
Saat ditemui di Mapolres, Kapolres mengungkapkan proses penyelidikan terkait keberadaan kuburan dan pengikut lain yang tewas di areal Padepokan terus berkembang. Yang terbaru yaitu, ada satu pengikut lagi yang tewas di Padepokan secara mendadak.
Dugaan sementara, pengikut dengan jenis kelamin pria itu tewas akibat dibunuh. Tetapi, pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut. ”Kami sudah menemui pihak keluarga pengikut asal sini (Kabupaten Probolinggo) yang meninggal di Padepokan,” terangnya.
Bahkan diungkapkan Kapolres, kematian pengikut asal Kabupaten Probolinggo itu terjadi tanggal 10 September lalu atau 10 hari sebelum penggrebekan dan penangkapan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Padepokan. Hasil penyelidikan sementara, memang ada dugaan pengikut itu tewas secara tidak wajar. Namun, pihaknya masih berupaya mengumpulkan alat bukti lainnya.
”Jadi, dari lima pengikut yang meninggal di Padepokan itu, semuanya meninggal secara mendadak. Satu pengikut meninggal di tahun 2013 dan empat pengikut lainnya terjadi pada 2016,” ungkapnya. Sejauh ini dikatakan Kapolres, pihaknya terus mengembangkan kasus yang terjadi di Padepokan.
Salah satunya, mengusut dugaan sejumlah kuburan di areal padepokan yang disinyalir merupakan kuburan pengikut Padepokan. Sayangnya, hingga saat ini, belum ada dari pihak keluarga pengikut yang melapor ke pihak kepolisian.
”Belum ada rencana untuk membongkar kuburan di areal Padepokan. Karena, masih menunggu laporan dari pihak keluarga,” ujarnya. Bahkan, menurutnya, sampai kini belum ada keluarga yang melapor dan meminta untuk mengusut kembali penyebab kematian keluarga mereka. Baik yang dikubur di sekitar areal Padepokan maupun dikubur di daerah asalnya masing-masing. ”Belum ada keluarga korban yang menuntut untuk diusut,” tambahnya. (maz/ast)



COMMENTS