Penulis : Wawan Bromo FM Selasa, 19/04/2016 DRINGU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Selasa (19/4/2016) memberikan ...
Penulis : Wawan Bromo FM
Selasa, 19/04/2016
Kegiatan ini diikuti oleh 115 orang peserta terdiri dari lintas sektor, bidan koordinator dan calon kader pendamping dari 10 kecamatan di Kabupaten Probolinggo. Dalam kegiatan tersebut mereka mendapatkan materi dari Dinkes Provinsi Jawa Timur, Dinkes Kabupaten Probolinggo serta Pokja IV Tim Penggerak PKK Kabupaten Probolinggo.
Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Shodiq Tjahjono melalui Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi Kesehatan Hari Kaspiantoro mengatakan bahwa kematian ibu dan bayi baru lahir masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Probolinggo. Tahun 2015, hasil laporan dari puskesmas jumlah kematian ibu mencapai 26 orang.
“Jumlah tersebut naik jika dibandingkan dengan tahun 2014 sebanyak 24 orang, sehingga selalu dilaksanakan berbagai upaya untuk menurunkan angka kematian ibu tersebut,” katanya.
Menurut Hari, penyebab kematian ibu dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain berasal dari kondisi kesehatan ibu, sumberdaya kesehatan, sarana dan fasilitas pelayanan, sosial budaya masyarakat, ekonomi, pendidikan dan sebagainya.
“Faktor budaya masyarakat mempunyai pengaruh yang cukup besar. Oleh karena itu perlu meningkatkan peran serta masyarakat untuk turut serta berupaya menurunkan jumlah kematian ibu,” jelasnya.
Lebih lanjut Hari menjelaskan bahwa seorang ibu hamil memerlukan persiapan yang cukup untuk menghadapi proses kelahiran, baik berupa materi, kesiapan fisik dan mentalnya supaya bisa merencanakan kehamilan dan persalinan yang tepat, misalnya secara rutin memeriksakan kehamilan, menentukan tempat kelahiran dan mengambil keputusan tindakan pertolongan yang tepat.
“Oleh karena itu ibu hamil perlu mendapatkan informasi yang cukup tentang pengenalan tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan masa nifas. Selain itu motivasi dan dukungan keluarga serta lingkungan juga mempengaruhi kondisi ibu dalam menghadapi kehamilannya,” terangnya.
Hari menambahkan bahwa salah satu upaya untuk membantu ibu hamil terutama yang berisiko tinggi, maka diperlukan seorang sosok pendamping yang mengerti dan memahami sosial budaya masyarakat sehingga bisa memberikan informasi, bimbingan dan motivasi kepada ibu hamil dan keluarganya.
“Sosok yang kita pilih tersebut adalah kader posyandu yang akan mendampingi ibu hamil terutama yang berisiko tinggi mulai dari awal kehamilan sampai dengan masa nifas,” pungkasnya.
Sementara Kasi Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Probolinggo Sri Patmiati mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta tersosialisasinya kegiatan pendampingan bumil risti bagi petugas kesehatan dan kader.
“Serta, petugas kesehatan tingkat kabupaten, puskesmas, bidan desa dan kader mengetahui peran dan fungsi masing-masing dalam proses pendampingan bumil risti. Selain juga mampu mencatat dan menyusun laporan kegiatan dan hasil monev pendampingan bumil risti,” katanya. (wan/ast)


COMMENTS