Penulis : Dimaz Bromo FM Jumat, 18/03/2016 KRAKSAAN - Melambungnya harga cabai di berbagai daerah, ternyata tidak dinikmati kalangan ...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Jumat, 18/03/2016
KRAKSAAN - Melambungnya harga cabai di berbagai daerah, ternyata tidak dinikmati kalangan petani cabai rawit di Kabupaten Probolinggo. Tanaman cabai rusak dan buahnya membusuk membuat petani merugi.Harga cabai rawit yang kian melambung tidak mempengaruhi pendapatan sejumlah petani di Desa Kebonagung Kecamatan Kraksaan. Kondisi ini terjadi karena tanaman cabai rawit petani rusak. Tidak hanya batang dan daun kering, buahnya juga membusuk.
Berdasarkan hasil pemeriksaan petani, kerusakan cabai terjadi karena anomali cuaca. Tak menentunya curah hujan yang turun dan sekali panas terik membuat cabai mudah busuk.
“Karena air hujan tidak bisa membuat tanah kesat atau kering, sehingga tanaman cabai mati. Ya jelas rugi, kalau gak mati bisa untung karena harganya tinggi,” ujar salah satu petani Homsiyah, Jum’at (18/3/2016).
Tak hanya itu, pengaruh serangan hama bercak bakteri, juga berpengaruh. Hama bercak bakteri menggerogoti hampir seluruh bagian tanaman. Serangan bakteri ini ditandai dengan bintik-bintik coklat dibagian tengah dan dikelilingi lingkaran klorosis tidak beraturan.
Akibat kerusakan itu, dalam satu petak tanah ukuran 100 are, petani hanya mampu memanen sebanyak 30 kilogram, padahal jika normal mencapai 80 kilogram. Kerusakan tanaman sangat disayangkan petani, pasalnya harga cabai rawit saat ini merupakan yang tertinggi. Selama mereka panen dalam dua bulan terakhir, harga jual ditingkat petani kini menembus Rp 35 ribu per kilogram.
Agar tidak menderita kerugian, petani terpaksa memanen cabai muda dengan harga jual lebih rendah. Bahkan, ada juga yang memanen cabai muda dengan batangnya. “Batang tanaman yang mengering kami cabuti untuk ditanami cabai kembali,” ujar Suryani, petani lainnya. (maz/ast)


COMMENTS