Penulis : Dimaz Bromo FM Rabu, 23/03/2016 PAJARAKAN - Belasan sopir angkutan Mobil Penumpang Umum (MPU) jurusan Probolinggo-Situbon...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Rabu, 23/03/2016
PAJARAKAN - Belasan sopir angkutan Mobil Penumpang Umum (MPU) jurusan Probolinggo-Situbondo melakukan mogok di pintu masuk madrasah. Pasalnya, mereka memrotes pengoperasian bus sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pajarakan yang dinilai melanggar zona kesepatakan trayek. Setidaknya ada 12 sopir MPU yang mendatangi sekolah berbasis keagamaan itu. Sementara kendaraannya diparkir di mulut gapura pintu masuk madrasah di pinggir jalan Desa Karanggeger Kecamatan Pajarakan, Rabu (23/3/2016).
Aksi itu menurut Hasyim, salah satu sopir, dikarenakan bus sekolah yang dioperasikan melanggar trayek yang sudah disepakati. Ia mengatakan, seharusnya bus itu hanya mengantar siswa antara Kecamatan Pajarakan hingga Desa Curahsawo Kecamatan Gending. Namun, dalam beberapa minggu terakhir sopir bus sekolah mengangkut siswa dari Kecamatan Kraksaan hingga Kecamatan Dringu.
“Aksi yang dilakukan sopir ini spontanitas, tidak ada koordinasi. Kami memprotes keberadaan bus sekolah yang baru. Karena bus ini trayeknya melebihi kesepatakan terdahulu yang sudah dibuat,” ujar sopir MPU jurusan Probolinggo-Situbondo ini.
Sementara Kepala MAN Pajarakan Achmad Sruji Bahtiar mengakui bahwa bus sekolah yang baru dioperasikan itu melanggar kesepakatan. Namun, hal itu karena ketidaktahuan sopir bus yang baru, sehingga melebihi 1 kilometer dari ketentuan. “Itu juga karena ada permintaan dari wali murid yang kebetulan domisilinya berada diluar ketentuan,” ujarnya.
Bahtiar menjelaskan bahwa fasilitas bus sekolah itu dimaksudkan agar siswa tidak terlambat masuk sekolah. Selain itu, peruntukannya dikhususkan bagi siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. “Siswa yang mampu kebanyakan membawa sepeda motor sebagai transportasi untuk sekolah,” jelasnya.
Lebih lanjut Bahtiar menambahkan, sebelum membeli bus sekolah baru, pihaknya telah menawarkan kepada paguyuban MPU untuk menjadi moda transportasi siswa. Pihak sekolah menganggarkan dana sebesar Rp 500 ribu per bulan untuk mengangkut siswa pada pagi dan sore hari. “Namun, tidak ada kesepakatan. Sehingga kami memutuskan untuk membeli bus sekolah baru secara swadaya,” terangnya.
Saat ini, MAN Pajarakan mempunyai dua bus sekolah. Namun kedua bus sekolah itu tidak dioperasikan secara bersamaan, melainkan bergantian setiap hari. (maz/ast)


COMMENTS