Penulis : Dimaz Bromo FM Jumat, 04/03/2016 KRAKSAAN - Kabupaten Probolinggo termasuk daerah lengkap dengan bencana, dari tanah longso...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Jumat, 04/03/2016
KRAKSAAN - Kabupaten Probolinggo termasuk daerah lengkap dengan bencana, dari tanah longsor, banjir, erupsi hingga banjir rob. Hanya bencana tsunami yang belum terdeteksi di Kabupaten Probolinggo. Meski begitu, BPBD Kabupeten Probolinggo terus berupaya agar Kabupaten Probolinggo menjadi daerah yang tangguh bencana. Salah satunya dengan cara menguatkan empat pilar tangguh bencana. Empat pilar tangguh bencana tersebut yakni BPBD menyiapkan masyarakat untuk dapat terhindar dari bencana, menyiapkan masyarakat dijauhkan dari bencana, menyiapkan masyarakat agar bisa beradaptasi dari bencana dan menyiapkan masyarakat agar cepat pulih setelah bencana.
“Kalau sudah diterapkan itu semua, Kabupaten Probolinggo akan menjadi kabupaten yang tangguh bencana,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi, Selasa (1/3/2016).
Dalam penerapan pilar pertama, BPBD menyiapkan masyarakat Kabupaten Probolinggo untuk dapat menghindari dari bencana. Salah satunya yakni dengan cara menyiapkan masyarakat yang mengerti tentang kebencanaan di daerah sekitar. Selain itu membangun kesiapsiagaan bencana.
Kemudian memberikan informasi rambu-rambu peringatan. Seperti early warning system yang sudah dipasang di empat sungai. Yakni Sungai Pancarglagas Kecamatan Pakuniran, Sungai Kertosono Kecamatan Krejengan, Sungai Kedunggaleng Kecamatan Dringu dan Sungai Paser di Kecamatan Sumberasih.
Pilar kedua adalah menyiapkan masyarakat Kabupaten Probolinggo dijauhkan dari bencana. Artinya, masyarakat sudah bisa menghindari dari bencana. “Apapun yang dilakukan untuk menghindar dari bencana, bisa saja berdoa dan lainnya. Makanya kami juga menggandeng para ulama agar sama-sama mendoakan Kabupaten Probolinggo untuk terhindar dari bencana. Kemudian contoh lain plengsengan jebol cepat diperbaiki. Kemudian menyiapkan jalur evakuasi, hal seperti ini contoh kecil,” ujarnya.
Selanjutnya pilar ketiga yakni menyiapkan masyarakat agar bisa beradaptasi dari bencana. Artinya , masyarakat sudah harmoni dengan keadaan bencana. Mereka merasakan sahabat, bukan musibah dengan adanya bencana.
“Mereka sudah enjoy. Living Harmony With Risk. Seperti adanya erupsi Gunung Bromo, hal semacam ini bukan sebagai ancaman, tapi mereka sudah dianggap biasa. Artinya mereka secara tidak langsung sudah bersahabat dan bisa beradaptasi dengan bencana,” ujarnya.
Terakhir, menyiapkan masyarakat Kabupaten Probolinggo agar cepat pulih setelah bencana. “Mereka bisa sesegera mungkin untuk move on dari bencana, jadi tidak terlalu berlarut-larut dan merasa sedih dengan bencana. Dan ini semua menjadi program kami untuk tangguh bencana,” ungkapnya.
Dengan adanya program tangguh bencana tersebut, Dwijoko berharap agar masyarakat untuk ikut mendukung adanya program tangguh bencana dan ikut membangun dalam program tangguh bencana yang digagas BPBD Kabupaten Probolinggo. (maz/ast)


COMMENTS