Penulis : Wawan Bromo FM Kamis, 18/02/2016 KRAKSAAN – Pada dasarnya tugas seorang guru adalah mencerdaskan kehidupan bangsa mulai d...
Penulis : Wawan Bromo FM
Kamis, 18/02/2016
KRAKSAAN – Pada dasarnya tugas seorang guru adalah mencerdaskan kehidupan bangsa mulai dari titik terbawah. Guru memberikan ilmu sebanyak-banyaknya kepada anak didik agar kelak mereka akan menjadi generasi pembangun negeri yang berilmu dan berakhlak.
Hal tersebut ditegaskan Lailatul Qomariyah, guru SDN Krejengan Kecamatan Krejengan. Menurutnya, kunci sukses menjadi guru pastinya harus sabar, berwawasan luas dan jangan malu untuk bertanya tentang ilmu kepada siapapun.
“Oleh karena itu saya berpesan kepada teman-teman guru untuk selalu bekerja cerdas dan bertindak secara efisien. Jadilah pribadi yang serba bisa, lincah dan praktis dalam rencana maupun tindakan. Hormati orang lain serta bangun hubungan dengan sesama dengan prinsip saling membantu. Bekerja sama dengan tim yang membuat orang lain senang bekerja sama dengan kita,” katanya.
Perempuan kelahiran Probolinggo, 2 September 1985 ini menjelaskan, awalnya ia menjadi guru karena dipaksa orangtua karena kedua orangtuanya dulunya memang guru. Tetapi lama-kelamaan setelah mengenal anak bahkan tahu karakternya, akhirnya hatinya tergerak untuk lebih semangat membantu anak-anak desa untuk lebih pandai.
“Saya ingin membuktikan bahwa walau anak desa yang minim buku pelajaran yang hanya bermodal semangat dan ketekunan, tetapi dengan keikhlasan seorang guru mampu menjadi anak yang sukses daripada anak kota yang semuanya sudah lengkap,” jelas istri Sigit Permadi ini.
Perempuan yang hobi travelling ini mengaku, banyak suka dan duka yang dialaminya selama menjadi guru. Sukanya banyak bisa mengenal karakter anak, belajar lebih sabar, banyak pengalaman dari teman-teman sejawat dan menambah ilmu.
“Dukanya jadi guru insya Allah tidak ada. Karena bagi saya semua kesulitan apapun selama menjadi guru bisa diselesaikan dengan berbagi dan meminta pendapat kepada teman sejawat atau guru senior bahkan orang tua dan saudara. Karena saudara dan orangtua juga seorang guru SD,” tegasnya.
Meski demikian, perempuan yang mengawali tugas sebagai guru tahun 2005 ini menerangkan, memiliki pengalaman yang sangat berkesan. “Waktu itu saya pernah mempunyai murid yang umurnya selisih 1 tahun saja. Itu terjadi ketika saya pertama menjadi guru saat bertugas di SDN Patemon,” pungkasnya. (wan/ast)
Hal tersebut ditegaskan Lailatul Qomariyah, guru SDN Krejengan Kecamatan Krejengan. Menurutnya, kunci sukses menjadi guru pastinya harus sabar, berwawasan luas dan jangan malu untuk bertanya tentang ilmu kepada siapapun.
“Oleh karena itu saya berpesan kepada teman-teman guru untuk selalu bekerja cerdas dan bertindak secara efisien. Jadilah pribadi yang serba bisa, lincah dan praktis dalam rencana maupun tindakan. Hormati orang lain serta bangun hubungan dengan sesama dengan prinsip saling membantu. Bekerja sama dengan tim yang membuat orang lain senang bekerja sama dengan kita,” katanya.
Perempuan kelahiran Probolinggo, 2 September 1985 ini menjelaskan, awalnya ia menjadi guru karena dipaksa orangtua karena kedua orangtuanya dulunya memang guru. Tetapi lama-kelamaan setelah mengenal anak bahkan tahu karakternya, akhirnya hatinya tergerak untuk lebih semangat membantu anak-anak desa untuk lebih pandai.
“Saya ingin membuktikan bahwa walau anak desa yang minim buku pelajaran yang hanya bermodal semangat dan ketekunan, tetapi dengan keikhlasan seorang guru mampu menjadi anak yang sukses daripada anak kota yang semuanya sudah lengkap,” jelas istri Sigit Permadi ini.
Perempuan yang hobi travelling ini mengaku, banyak suka dan duka yang dialaminya selama menjadi guru. Sukanya banyak bisa mengenal karakter anak, belajar lebih sabar, banyak pengalaman dari teman-teman sejawat dan menambah ilmu.
“Dukanya jadi guru insya Allah tidak ada. Karena bagi saya semua kesulitan apapun selama menjadi guru bisa diselesaikan dengan berbagi dan meminta pendapat kepada teman sejawat atau guru senior bahkan orang tua dan saudara. Karena saudara dan orangtua juga seorang guru SD,” tegasnya.
Meski demikian, perempuan yang mengawali tugas sebagai guru tahun 2005 ini menerangkan, memiliki pengalaman yang sangat berkesan. “Waktu itu saya pernah mempunyai murid yang umurnya selisih 1 tahun saja. Itu terjadi ketika saya pertama menjadi guru saat bertugas di SDN Patemon,” pungkasnya. (wan/ast)



COMMENTS