Penulis : Wawan Bromo FM Jum'at,26/02/2016 KRUCIL – Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo mengajak m...
Penulis : Wawan Bromo FM
Jum'at,26/02/2016
Kepala Disbunhut Kabupaten Probolinggo, Raharjo melalui Kasi Produksi Evi Rosellawati mengatakan, optimasi lahan merupakan usaha yang dilakukan untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya lahan yang sementara tidak diusahakan atau Indeks Pertanaman (IP) rendah menjadi lahan usaha tani yang lebih produktif.
“Upaya pemanfaatan pada lahan tanaman kopi arabika itu dilakukan melalui perbaikan fisik dan kimiawi tanah serta bantuan sarana dan prasarana lainnya dalam menunjang peningkatan areal tanam atau IP,” katanya.
Jika dilaksanakan pada lahan kering berlereng, jelas Evi, maka dapat diterapkan kaidah konservasi untuk mencegah erosi dan penurunan profitas lahan. Khusus pada daerah rawa dan bekas tambang dapat diterapkan teknologi reklamasi untuk mengoptimalkan profitas lahan.
“Pelaksanaan fisik meliputi pembersihan lahan dan pengolahan lahan sampai kondisi siap tanam, perbaikan kesuburan lahan, perbaikan sarana dan prasarana serta pemeliharaan,” jelasnya.
Menurut Evi, di Watupanjang dan Kalianan, sebagian besar penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani pekebun. Mereka mengandalkan sumber daya alam yakni, lahan pertanian relatif subur dengan kepemilikan rata-rata 1,5 hektar.
“Untuk menunjang pemanfaatan lahan tersebut, ada bantuan hibah yang kami berikan di antaranya pemberdayaan penangkar benih tanaman kopi arabika, bantuan sarpras untuk penanggulangan hama penyakit tanaman kopi serta alat pasca panen kopi,” terangnya.
Dari bantuan tersebut, kata Evi, petani telah mengaplikasikan atau menerapkan teknologi budidaya dan ilmu-ilmu perkebunan yang telah disampaikan dalam pembinaan.
“Salah satu aplikasinya adalah memadukan budidaya tanaman perkebunan kopi dengan tanaman obat-obatan (jahe), porang, hortikultura (pisang) dan kehutanan (sengon laut), sehingga pendapatan petani pekebun meningkat,” tegasnya.
Dari pemanfaatan lahan tersebut, petani mampu meraup penghasilan sebesar Rp 18 juta per hektar per tahun untuk tanaman kopi plus Rp 15 juta untuk tanaman pisang, jahe dan porang. “Selain itu, setiap 5 tahun sekali juga ada tambahan Rp 75 juta untuk tanaman sengon laut. Tentu dengan hasil ini, pendapatan petani semakin meningkat,” pungkasnya. (wan/ast)


COMMENTS