Penulis : Dimaz Bromo FM Senin, 01/02/2016 SUMBER - Di Kabupaten Probolinggo, masih ada puluhan desa yang cukup sulit diakses. Dari p...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Senin, 01/02/2016
Desa Wonokerso Kecamatan Sumber Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu desa yang berada diujung selatan Kabupaten Probolinggo. Untuk bisa sampai ke desa ini, tidak sembarang motor bisa berhasil. Butuh sepeda motor yang khusus untuk digunakan ke pegunungan.
Hal itu bukannya tanpa alasan, pasalnya sepanjang perjalanan dari Kecamatan Sumber, jalan makadam atau jalan bebatuan pastinya akan selalu setia mendampingi perjalanan. Meskipun ada jalan yang sudah dibeton, tapi tidak sedikit jalan yang sudah dibeton justru kelihatan kerangka besi, bahkan ditemukan juga besi yang menjulang berdiri layaknya rerumputan di pinggir jalan. Paling tidak, untuk sampai ke Desa Wonokerso ini harus menempuh perjalanan hingga 3 jam lamanya. Atau perjalanan tersebut setara dengan perjalanan yang akan ke Surabaya.
Tidak terbayang, manakala guru yang akan ditempatkan ke desa tersebut berasal dari Kota Probolinggo dan sekitarnya. Untuk perjalanan berangkat saja sudah menempuh hingga 3 jam, belum lagi ketika musim hujan, jarak tempuhnya pasti akan lebih lama. Oleh karenanya, sampai saat ini untuk guru yang akan mengajar hingga ke pelosok desa pun sangatlah jarang.
Karena kondisi seperti itu, sejak 9 tahun terakhir, Nestuni Puji Lestari memutuskan mengabdi kepada desanya untuk memajukan dunia pendidikan. Ibu satu anak ini bercerita awal mulanya mengabdi pada masyarakat salah satunya, ia merasa terpanggil ketika melihat dunia pendidikan di Desa Wonokerso. Apalagi saat itu, guru untuk mengajar disana sangatlah sedikit dan bisa dihitung dengan jari.
“Makanya saya bantu anak-anak disini untuk terus bersemangat belajar, karena memang tenaga pengajarnya juga sangat sedikit. Disisi lain, anak-anak yang antusias untuk bersekolah banyak,” katanya.
Selama bertahun-tahun inilah, aktivitasnya tidak pernah jauh dengan pendidikan anak. Bahkan, Puji ini seorang sosok srikandi pendidikan di Kecamatan Sumber. Hal itu bukannya tanpa alasan, hampir sepanjang hari dia mendedikasikan diri terhadap dunia pendidikan di desanya.
Terkait dengan gaji setiap bulannya, Puji enggan memberikan penjelasan lebih detail mengenai besaran gaji yang diberikan setiap bulan. Hanya saja, ia menjelaskan sampai saat ini ia hanya digaji oleh sekolah, bukan honor dari Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo. “Yang penting bagi saya, pendidikan anak lebih utama,” ujarnya.
Puji sendiri memang kelahiran di Desa Wonokerso. Saat kecil, ia tercatat sebagai salah satu siswa dari lulusan SD dan SMP di Kecamatan Sumber. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan di SMA Trimurti Pakisaji Malang. Setalah itu, ia kuliah di Universitas Kanjuruhan Malang hingga lulus Diploma. Kemudian sarjana menempuh di Probolinggo pada Universitas Terbuka.
Tidak hanya mengajar di TK dan SD, tapi dia juga mengajar di tingkat SMP. “Gurunya kan masih kurang disini, termasuk sebagai tutor untuk pengentasan buta aksara di sekitar desa,” terangnya.
Dengan kesibukan untuk memajukan pendidikan dan membangun desa tersebut, timbul pertanyaan waktu untuk keluarga. Namun hal itu tak perlu dikhawatirkan, sebab suami Puji, Sudir adalah termasuk salah satu aktivis alam yang mandiri. Oleh karenanya, ketika sang istri sibuk dengan dunia pendidikan dan pembangunan desa, Sudir selalu mendukungnya.
“Ada pertanyaan seperti itu, entah dari warga disini hingga pejabat kecamatan, tapi saya jawab apa adanya, yang penting saat istri sibuk saya masih bisa makan, saya bisa memasak sendiri,” kata Sudir.
Sudir sendiri kesibukannya tak kalah dengan sang istri. Selain menjadi salah satu aktivis dan relawan ia juga tercatat sebagai perangkat desa di De Wonokerso. Meski begitu, Sudir mengakui sempat untuk berhenti dalam aktivitas yang dilakukannya saat ini. Selain banyak menyita waktu, pengeluaran untuk hal ini tidak sebanding dengan pemasukannya. Namun, ia tersadar, jika hal itu dilakukan pendidikan di desanya akan semakin merosot.
Tak banyak berharap dari keluarga ini, ia hanya memohon kepada Bupati Probolinggo maupun pihak yang terkait untuk tetap melihat kondisi pendidikan hingga ke pelosok desa. Terlebih infrastruktur jalan yang menuju ke desanya. “Harapan kami, seringlah ke Wonokerso, karena disini juga masih warga Kabupaten Probolinggo yang haus akan kemajuan,” pungkasnya. (maz/abh)


COMMENTS