Penulis : Dimaz Bromo FM Senin, 01/02/2016 SUKAPURA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo kembali mendat...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Senin, 01/02/2016
SUKAPURA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo kembali mendata lahan pertanian akibat erupsi Gunung Bromo. Pasalnya, data yang berasal dari Dinas Pertanian (Dispertan) beberapa waktu lalu kurang pas, lantaran BPBD menghendaki penghitungannya sejak tanam hingga terkena abu vulkanik.“Berkaitan dengan dampak erupsi Gunung Bromo, kami meminta pendataan yang lebih lengkap secara by name by addres,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi.
Mantan Camat Bantaran ini menjelaskan, data yang disodorkan dari Dispertan beberapa waktu lalu yakni berisi kerugian ekonomi. Artinya metode penghitungannya dari biaya tanam, biaya bibit hingga selesai panen. “Itu kerugian ekonomi, tapi kami sendiri menghendaki untuk menghitung kerugiannya dari menanam hingga terkena erupsi, bukan sampai panen. Dari sana mungkin ada perbedaan nantinya,” ujarnya.
Hal itu bukannya tanpa alasan, sebab metode tersebut merupakan permintaan dari Pemerintah Pusat dalam hal pemberian bantuan kepada para petani yang terdampak erupsi Gunung Bromo. “Saat ini masih dalam penghitungan ulang. Kalau sudah selesai dilakukan, kami akan melaporkan ke Bupati. Kemudian Bupati akan melaporkan ke Gubernur hingga ke Pemerintah Pusat,” jelasnya.
Dwijoko menambahkan penghitungan kerugian pertanian juga hanya terbatas radius 15 kilometer dari Gunung Bromo. Artinya, tidak semua desa yang terdampak abu vulkanis tidak akan didata oleh petugas terkait. “Perhektarnya taksiran Rp 15 juta, tapi berapa jumlah akumulasinya masih dalam proses pendataan,” ungkapnya.
Dari data yang dihimpun dari Dispertan Kabupaten Probolinggo, terbanyak yang mengalami kerusakan adalah tanaman kentang dengan luasan areal yang rusak mencapai ribuan hektar lahan pertanian yang tersebar di tiga kecamatan. Yakni Kecamatan Sukapura, Sumber dan Lumbang.
Pada tiga kecamatan tersebut, terparah adalah Kecamatan Sukapura dengan hampir semua desa terdampak. Kedua yakni Kecamatan Sumber, dengan desa yang terparah di tiga desa meliputi Desa Ledokombo, Wonokerso dan Sumber Anom. Sementara di Kecamatan Lumbang, terparah hanya di Desa Sapih.
Dari berbagai macam tanaman yang berada di tiga kecamatan tersebut, terbanyak yang mengalami kerusakan adalah tanaman kentang dengan luasan 2.202 hektar. Jika dinominalkan mengalami kerugian hingga Rp 115 miliar. Disusul dengan tanaman jagung yang mencapai 230 hektar dengan jumlah kerugian Rp 2,01 Miliar. (maz/abh)


COMMENTS