Penulis : Wawan Bromo FM Rabu, 13/01/2016 KRAKSAAN - Sebuah prestasi membanggakan ditorehkan oleh seorang guru dan pengawas pendi...
Penulis : Wawan Bromo FM
Rabu, 13/01/2016
KRAKSAAN - Sebuah prestasi membanggakan ditorehkan oleh seorang guru dan pengawas pendidikan menengah (dikmen) Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo di tingkat nasional. Keduanya sukses meraih prestasi dalam Lomba Penulisan Best Practice bagi Guru dan Pengawas Pendidikan Menengah Tingkat Nasional yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Guru dan pengawas yang meraih prestasi tersebut adalah Yuanita Widiastuti yang berhasil meraih juara 1 lomba Penulisan Best Practice bagi guru pendidikan menengah dan Ganif Rojikin, juara II lomba Penulisan Best Practice bagi pengawas pendidikan menengah tingkat nasional.
Yuanita, guru SMAN 1 Kraksaan itu meraih prestasi juara I dengan menyingkirkan 99 peserta guru final se Indonesia dalam lomba tersebut. Dia menceritakan, lomba best practice atau pengalaman terbaik dalam pendidikan menengah itu sendiri berlangsung pada tanggal 21 sampai 25 November 2015.
Tetapi, pendaftaran sendiri berlangsung tiga hari sebelumnya. Bahkan, dirinya baru mendengar informasi lomba tersebut 10 hari, sebelum hari terakhir pendaftaran. Tepatnya cap pos pengiriman pukul 13.00, tanggal 31 Agustus 2015, batas terakhir pendaftaran dan pengumpulkan hasil Penulisan Best Practice bagi guru. ”Waktu itu saya daftar di hari terakhir, dengan cap pos pukul 11.00,” kata guru kelahiran Probolinggo 28 September 1983 ini.
Yuanita menjelaskan, lomba ini dilakukan untuk mengurai pengalaman terbaik guru dalam pelaksanaan tugas pembelajaran. Meski dirinya hanya memiliki waktu 10 hari mempersiapkan lomba tersebut. Dirinya waktu itu optimis bisa mendaftar dan mengirim hasil karyanya. Sebab, pengalaman terbaik baginya seorang guru, dialami karena metode penemuan dirinya sendiri.
Saat itu, Yuanita menulis dengan judul Pengalaman Terbaik Mengantarkan Peserta Didik Menjadi Juara Dalam Lomba Menulis Puisi Di Tingkat Kabupaten Dan Sebagai Peserta Lomba Menulis Puisi Di Tingkat Nasional Dengan Metode Perimami Di SMAN 1 Kraksaan.
”Bagi saya, pengalaman terbaik dapat mengantar siswa menjadi juara lomba menulis puisi tingkat Kabupaten Probolinggo dan provinsi. Kemudian, paling penting siswanya menjadi peserta lomba menulis puisi di tingkat nasional. Syaratnya siswa saya harus buat 70 judul puisi. Semua itu berkat metode Perimami (Petakata Reading Habit Majas dan Menyanyi),” terang istri dari Tri Hari Martono itu.
Metode Perimami dikatakan Yuanita dimulai tahun 2012 yang diterapkan di SMAN 1 Kraksaan. Dimana, metode itu muncul saat menyadari kebiasaan para siswa saat pelajaran menulis puisi mengantuk dan selalu berkata tidak bisa. Namun, dengan metode Perami, para siswa dipersilahkan mengeluarkan satu kata sesuai pikiran siswa masing-masing. Kemudian dari satu kata itu, dicari kata lain yang berkaitan dengan kata awal tersebut sehingga menjadi puisi.
Kemudian Reading Habit, mewajibkan para siswa membaca selama 10 menit sebelum pelajaran dimulai. Tema bacaan ditentukan oleh dirinya. Tujuannya, memperbanyak kosakata untuk mendukung penyusunan puisi. Sedangkan, mami itu sendiri majas dan menyanyi. Dimana, tiap kali dirinya mengajar, dibuat dua kelompok untuk bernyanyi lagu terkini. Kemudian, para siswa diminta mencari bahas majas dalam lagu tersebut. Kemudian, antara kelompok tebak-tebakan.
”Sehingga menimbulkan pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan tidak membosankan. Alhamdulillah, dengan metode itu para siswa merasa nyaman ada yang sampai berprestasi,” terangnya.
Saat perlombaan tanggal 25 November itu dikatakan Yuanita, dirinya harus mempresentasikan pengalaman terbaiknya di depan dua juri dari UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Jakarta.
”Saya gugup waktu presentasi di depan juri dan ratusan guru yang masuk babak final itu. Apalagi presentasi peserta sebelumnya sudah terbilang bagus-bagus. Sempat ada perasaan kecil hati. Tapi, waktu itu saya berprinsip berbuat terbaik saja,” ungkap putri pasangan almarhum Achmad Sapari dan Sri Astutik itu.
Sedangkan Pengawas Dikmen Ganif Rojikin, menjadi juara II lomba Penulisan Best Practice bagi pengawas pendidikan menengah di tingkat nasional. Dalam lomba itu dia menampilkan tema Pengalaman Terbaik Pendampingan Pembelajaran dengan Strategi SUNPRAEX (menyusun praktek pembelajaran expo) di SMA Zaha Genggong Pajarakan.
Dalam metode itu, para guru diajak mendiskusikan dalam pembuatan RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran). Dimana, para guru dikumpulkan dan dikelompokkan sesuai bidang mata pelajaran. Setelah menyusun langsung melaksanakan praktek di kelas.
“Setelah mengajar, para guru harus kembali lagi ke kelompoknya. Apakah pembelajaran itu efektif atau tidak disampaikan dalam kelompok. Kemudian di-expo, RPP dan hasil pembelajaran pada anak-anak disampaikan,” katanya.
Menurut Ganif, RPP dan hasil praktek pembelajaran itu ditempelkan di dinding dalam ruangan atas SMA Zaha Genggong. Kemudian, semua guru mata pelajaran saling melihat RPP dan hasil antar kelompok tersebut.
“Terakhir, refleksi perasaan guru selama kegiatan dituangkan dalam tulisan. Bukti tulisan tangan guru itu ada dalam lampiran pengalaman terbaiknya itu,” akunya.
Sedangkan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo mengharapkan prestasi yang diraih oleh guru dan pengawas dikmen ini bisa menjadi oase dalam rangka meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di Kabupaten Probolinggo. “Sebab saat ini tuntutan masyarakat sangat besar sekali,” katanya. (wan/abh)



COMMENTS