Penulis : Wawan Bromo FM Sabtu, 02/01/2016 KRAKSAAN – Sejak tahun 2009 silam, batik di Kabupaten Probolinggo terus dikembangkan. Hal...
Penulis : Wawan Bromo FM
Sabtu, 02/01/2016
KRAKSAAN – Sejak tahun 2009 silam, batik di Kabupaten Probolinggo terus dikembangkan. Hal ini dibuktikan dengan keseriusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo yang bertekad mengangkat batik dengan mendatangkan pelatih Bayu Sumilir dari Surabaya yang terkenal dengan karyanya.Sebagai upaya membantu pengusaha batik dalam mengangkat potensi daerahnya masing-masing, Bapemas mulai intens memetakan motif batik. Artinya, tiap-tiap motif batik mempunyai ciri khas seperti pewarnaan, teknik pengerjaan serta motif khas di mana juga mengangkat potensi budaya serta sumber daya alam daerah masing-masing.
“Bapemas ingin merangsang tiap-tiap kecamatan mempunyai batik khas yang nantinya akan dibukukan dengan memberi alternatif desain batik tiap-tiap kecamatan. Minimal harus ada 24 motif batik se Kabupaten Probolinggo,” ungkap Kepala Bapemas Kabupaten Probolinggo Heri Sulistyanto melalui Kepala Bidang Keswadayaan Masyarakat Taufik Alami.
Pemilik satu-satunya sertifikat sistem industri tingkat nasional di Kabupaten Probolinggo ini menjelaskan, pemetaan motif batik ini penting untuk memudahkan dalam membina pengusaha batik.
“Dengan adanya pemetaan ini, tentunya akan membantu Pemkab Probolinggo dalam melakukan pendataan motif batik khas Kabupaten Probolinggo untuk diajukan hak patennya,” jelasnya.
Pria kelahiran Probolinggo, 8 Januari 1970 ini menegaskan, ada beberapa upaya dalam pemetaan motif batik. Salah satunya dengan melakukan identifikasi potensi budaya, potensi desa dan potensi produk unggulan untuk dijadikan jati diri daerah masing-masing.
“Hal ini penting agar Pemkab Probolinggo mempunyai potensi batik dari 24 kecamatan yang teradministrasi. Untuk selanjutnya setiap desa memiliki potensi batik yang dapat dikembangkan,” terangnya.
Taufik menjelaskan motif yang digunakan hendaknya diambil dari potensi masing-masing daerah mulai dari produk unggulan dan asal usul (sejarah) daerah. Tetapi hal tersebut tidaklah mudah, harus survei ke lokasi untuk menyerap informasi masyarakat. “Kendalanya, ada beberapa kecamatan yang potensinya terbatas dan tidak bersifat khas,” pungkasnya. (wan/abh)


COMMENTS