Penulis : Wawan Bromo FM Minggu, 17/01/2016 SUMBERASIH - Sebagai ikon daerah, wajar kalau pohon dan buah mangga melimpah di Kabupaten...
Penulis : Wawan Bromo FM
Minggu, 17/01/2016
“Pelatihan pembuatan produk olahan mangga ini merupakan salah satu upaya pengembangan diri siswa. Kegiatan ini adalah pembelajaran skill lewat pemanfaatan bahan baku lokal agar memiliki nilai tambah. Harapannya nanti setelah lulus, siswa memiliki bekal keterampilan yang dapat dikembangkan di tengah-tengah masyarakat,” ujar Kepala SDN Banjarsari 2 Siti Rukmini.
Mantan guru di SDN Muneng Leres 1 ini menambahkan, membuat produk olahan mangga sangat mudah. Asalkan ada kemauan untuk berusaha dan belajar. Apalagi bahan baku mangga sangat melimpah. “Untuk membuat produk olahan mangga, bahan baku mangganya jangan terlalu tua. Sebab nanti kualitasnya tidak terlalu bagus,” jelasnya.
Perempuan kelahiran 23 Desember 1963 ini mengatakan, pelatihan pembuatan produk olahan mangga di SDN Banjarsari 2 ini dilakukan sejak Agustus 2013 silam. Hingga kini, pembelajaran keterampilan ini mendapatkan antusias dari para wali murid. “Kegiatan ini bertujuan untuk melatih anak agar bisa mandiri dan memiliki keterampilan yang dapat diterapkan di lingkungannya,” tegasnya.
Kepala Sekolah yang sudah bertugas empat tahun di SDN Banjarsari 2 ini menjelaskan, diperlukan sedikitnya modal awal sebesar Rp 220 ribu untuk sekali membuat produk olahan mangga. Modal tersebut digunakan untuk membeli bahan baku mangga, gula pasir, air kapur, esense, gelas plastik, sendok, cabai, garam dan tusuk gigi.
“Alhamdulillah setelah proses selesai, keuntungan kotor yang bisa didapat mencapai Rp 400 ribu. Pasalnya sekali produksi bisa mendapatkan dua produk sekaligus berupa manisan dan sirup mangga. Itu pun kalau laku semua, sebab selama ini hasil produk siswa ini sementara banyak yang dikonsumsi sendiri oleh pihak sekolah. Tetapi kami bersyukur, siswa sudah terampil membuat produk olahan mangga ini,” ungkapnya.
Untuk membuat produk olahan mangga ini, kata Siti, pertama dipilih mangga kampung yang masih muda. Kemudian, kulit mangga dikupas sampai bersih dan dagingnya diiris sesuai dengan bentuk yang diinginkan. “Siapkan air kapur secukupnya, ambil beningnya saja untuk merendam irisan mangga. Perendaman ini dilakukan selama 2 jam sampai mangga menjadi kaku,” terangnya.
Kemudian, mangga yang sudah direndam segera ditiriskan dan dicuci dengan air bersih. Setelah benar-benar bersih, rebuslah air dan gula sampai mendidih dengan ukuran 5 : 1. Artinya, 5 kg mangga membutuhkan gula 1 kg dan air 1 liter. Saat mendidih tambah 1 botol esense rasa mangga kemudian angkat dari api dan segera siramkan pada irisan mangga yang sudah bersih. “Aduk-aduk hingga semua mangga terendan dalam air rebusan gula itu. Rendam dan diamkan selama 24 jam,” katanya.
Setelah direndam selama 24 jam, kata Siti, mangga ditiriskan dan air gulanya direbus sampai mendidih. Kemudian dinginkan dan mangga dimasukkan lagi untuk direndam 24 jam lagi. Proses ini diulangi sampai 3 x 24 jam.
“Hari ketiga, air rendaman mangga disisihkan untuk diolah menjadi sirup mangga dengan takaran satu liter air mangga ditambah gula 1,25 kg lalu direbus sampai mendidih. Setelah itu diangkat dari api dan didinginkan. Kalau sudah dingin betul baru dikemas ke dalam botol,” ujarnya.
Saat mangga yang sudah menjadi manisan mangga basah, kata Siti, selanjutnya dikemas dan dimasukkan ke dalam wadah gelar plastik. “Yang harus diperhatikan adalah baik manisan mangga maupun sirup pengemasannya harus betul-betul hygenis. Dimana, tangan menggunakan sarung tangan plastik, memakai masker dan alat yang steril,” bebernya.
Perempuan yang pernah menjadi guru di SDN Tanjungsari Kecamatan Krejengan ini mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya sekolah untuk memberikan pembekalan kepada anak didik yang nantinya setelah terjun ke masyarakat mempunyai skill yang bisa dikembangkan. “Sehingga siswa tidak hanya memiliki ilmu akademik, tetapi juga keterampilan yang bisa menjadi salah satu peluang usaha yang menjanjikan,” pungkasnya. (wan/abh)


COMMENTS