Penulis : Dimaz Bromo FM Minggu, 24/01/2016 GENDING - Satu keluarga asal Kabupaten Probolinggo terdeteksi menjadi pengikut Gerakan Fajar ...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Minggu, 24/01/2016
GENDING - Satu keluarga asal Kabupaten Probolinggo terdeteksi menjadi pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Sejauh ini, Pemkab Probolinggo masih melakukan koordinasi dengan pihak terkait dalam upaya pemulangan keluarga tersebut.
Satu keluarga yang dimaksud adalah keluarga Suhadi (64), warga Dusun Krajan, RT 7 RW 3, Desa Gending Kecamatan Gending. Ia diketahui meninggalkan Kabupaten Probolinggo menuju Kalimantan Barat seusai Idul Fitri yang lalu. “Katanya untuk memenuhi panggilan,” ujar salah satu tetangganya.
Pria yang punya nama alias Pentung ini diketahui tidak sendirian ke luar Jawa. Ia mengajak Neni Nursanti (32), anaknya dan Heri Prastowo (34), menantunya. Selain itu, ikut dibawa serta ketiga anak pasangan Neni dan Heri, yakni Muhammad Zidan Fachry (6), Galuh Kanaka Maheswari (2,5) dan Ganendra Aditya Bayanaka (8 Bln).
Suhadi bersama anak cucunya, saat ini masuk dalam daftar warga yang akan dipulangkan dari Mempawah, Kabupaten Singkawang, Kalimantan Barat. Dalam daftar itu, keluarga ini menggunakan alamat domisili Sidoarjo, sesuai domisili terakhir Heri Prastowo.
“Kami belum bisa komentar banyak mengenai daftar tersebut. Memang, Suhadi itu pernah mengikuti ajaran Musaddeq, namun sudah taubat. Sejauh ini, kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait baik Polri, TNI dan MUI untuk menyikapi hal tersebut dan melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat dan ulama setempat,” ujar Kepala Bakesbangpollinmas Kabupaten Probolinggo Agus Mukson, Sabtu (23/1/2016).
Sementara Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo KH. Syihabuddin Sholeh, mengakui bahwa pada 2007 silam, gerakan Al Qiyadah Al Islamiah pimpinan Ahmad Musaddeq muncul di Kabupaten Probolinggo. Gerakan ini dipimpin oleh Suhadi dan mempunyai 12 pengikut.
Namun, karena ada gesekan dari masyarakat setempat, MUI dan jajaran Forkopimda Kabupaten Probolinggo memanggil Suhadi dan pengikutnya. Setekah dilakukan dialog, mereka menyatakan bertaubat. “Suhadi berjanji akan kembali ke aqidah Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) yang mayoritas dianut oleh warga NU di Kabupaten Probolinggo,” katanya. (maz/abh)
Minggu, 24/01/2016
GENDING - Satu keluarga asal Kabupaten Probolinggo terdeteksi menjadi pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Sejauh ini, Pemkab Probolinggo masih melakukan koordinasi dengan pihak terkait dalam upaya pemulangan keluarga tersebut.Satu keluarga yang dimaksud adalah keluarga Suhadi (64), warga Dusun Krajan, RT 7 RW 3, Desa Gending Kecamatan Gending. Ia diketahui meninggalkan Kabupaten Probolinggo menuju Kalimantan Barat seusai Idul Fitri yang lalu. “Katanya untuk memenuhi panggilan,” ujar salah satu tetangganya.
Pria yang punya nama alias Pentung ini diketahui tidak sendirian ke luar Jawa. Ia mengajak Neni Nursanti (32), anaknya dan Heri Prastowo (34), menantunya. Selain itu, ikut dibawa serta ketiga anak pasangan Neni dan Heri, yakni Muhammad Zidan Fachry (6), Galuh Kanaka Maheswari (2,5) dan Ganendra Aditya Bayanaka (8 Bln).
Suhadi bersama anak cucunya, saat ini masuk dalam daftar warga yang akan dipulangkan dari Mempawah, Kabupaten Singkawang, Kalimantan Barat. Dalam daftar itu, keluarga ini menggunakan alamat domisili Sidoarjo, sesuai domisili terakhir Heri Prastowo.
“Kami belum bisa komentar banyak mengenai daftar tersebut. Memang, Suhadi itu pernah mengikuti ajaran Musaddeq, namun sudah taubat. Sejauh ini, kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait baik Polri, TNI dan MUI untuk menyikapi hal tersebut dan melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat dan ulama setempat,” ujar Kepala Bakesbangpollinmas Kabupaten Probolinggo Agus Mukson, Sabtu (23/1/2016).
Sementara Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo KH. Syihabuddin Sholeh, mengakui bahwa pada 2007 silam, gerakan Al Qiyadah Al Islamiah pimpinan Ahmad Musaddeq muncul di Kabupaten Probolinggo. Gerakan ini dipimpin oleh Suhadi dan mempunyai 12 pengikut.
Namun, karena ada gesekan dari masyarakat setempat, MUI dan jajaran Forkopimda Kabupaten Probolinggo memanggil Suhadi dan pengikutnya. Setekah dilakukan dialog, mereka menyatakan bertaubat. “Suhadi berjanji akan kembali ke aqidah Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) yang mayoritas dianut oleh warga NU di Kabupaten Probolinggo,” katanya. (maz/abh)


COMMENTS