Penulis : Wawan Bromo FM Sabtu, 16/01/2016 SUKAPURA – Tahun 2013 lalu, sekitar 20 orang peternak kambing perah di Desa Ngepung Kecama...
Penulis : Wawan Bromo FM
Sabtu, 16/01/2016
Saat ini secara mandiri mereka juga mendatangkan bibit kambing perah unggulan, semacam jenis FH pada sapi perah (belang hitam putih). Yakni, jenis Saanen yang berasal dari Swiss dengan produksi susunya bisa mencapai 3 hingga 4 liter/hari.
Tujuannya untuk memperoleh hasil dari semua yang bisa didapat dari kambing (daging, susu dan segala olahannya), baik untuk dikonsumsi maupun untuk kosmetik, limbahnya dijual sebagai pupuk dan segala sesuatu yang berkenaan dengan pemeliharaan kambing misalnya pakannya, manakala pakan berlebih, selebihnya dijual, peralatan dan lain-lain. Semacam kambing entrepreneur.
Mengingat pakan merupakan kebutuhan yang paling vital, kelompok mencoba mencari referensi tentang tanaman pakan selain kaliandra, sengon, rumput gajah dan gemelina, yang selama ini ada di Desa Ngepung. Dan kebetulan ada peternak daerah lain yang memberikan benih tanaman Indigofera.
Setelah dicari referensi tentang Indigofera di media sosial, ternyata tanaman ini sudah diteliti oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) sejak tahun 2007. Tanaman ini merupakan tanaman perintis, menyuburkan lahan di sekitar tanaman tersebut, tahan di lahan gersang, bunganya disukai lebah madu, memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, bagus untuk peningkatan berat ternak kambing maupun sapi, untuk produksi susu, semuanya sudah diteliti dan diujicobakan oleh IPB.
Yang menarik, uji coba pemberian pakan tepung Indigofera sebagai bagian dari pakan ayam petelur, ternyata meningkatkan betacarotene dan menurunkan kolesterol pada telur yang dihasilkan. Hal itu sudah direlease di International Journal of Poultry Science. Dalam perkembangannya, Indigofera diolah menjadi konsentrat dan merupakan salah satu unggulan IPB dari segi pakan.
Kegiatan di Kabupaten Probolinggo sendiri pengalokasiannya melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, berupa gudang, peralatan pengolahan dan segala pendukungnya. Setelah peralatan diserahkan, barulah kelompok mencoba memproduksi pelet/konsentrat hijau dan berhasil. Beberapa waktu kemudian ada peternak maupun pelaku industri pakan skala kecil mendengar akan hal tersebut datang berkunjung dan menanyakan harga dan kapasitas produksi secara rutin. Kami cukup terkejut, karena masih ada beberapa hal yang menjadi kendala.
Pertama, kelompok belum menata administrasi keuangan dengan baik. Pada akhirnya hal tersebut ada solusi yaitu dengan membentuk Koperasi Peternakan Hidup Makmur Sejahtera (HIMATERA), dengan harapan pengelolaan usaha ternak kelompok akan “naik kelas” menjadi lebih tertib, terbuka serta lebih baik atau lebih profesional.
Kedua, bahan baku berupa tanaman Indigofera masih relatif sedikit, yaitu sekitar 20.000 tanaman, jauh lebih sedikit dibanding dengan Kabupaten Bandung Barat yang belakangan mulai mengikuti dengan pengadaan 100.000 tanaman indigofera. Juga, kabarnya Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan yang rencananya akan pengadaan sebanyak 300.000 tanaman indigofera.
Rekan-rekan di kelompok sudah mencoba untuk membuat bibit dari benih dengan persemaian namun kurang berhasil. Padahal sudah habis sekian polibag dengan sistem stek juga kurang optimal dari jumlah daun dan perakaran.
Selanjutnya mereka akan mencoba membuat proposal CSR, dengan harapan barangkali ada perusahaan yang berkenan membantu menambah jumlah tanaman indigofera sebagai sumber pakan, sekaligus untuk penghijauan dan penyuburan lahan. Dengan jumlah yang ada saat ini, daun indigofera kebanyakan diberikan langsung sebagai pakan ternak, hanya sebagian kecil yang diproses menjadi konsentrat hijau.
Dari perkembangan tersebut, tampaknya usaha yang berjalan lebih awal adalah bisnis pakan. Konsentrat hijau Indigofera atau Indigofeed (dinamakan demikian oleh IPB), dapat dijadikan sebagai sumber bahan baku pakan lengkap (complete feed) bagi industri pakan, berpeluang tinggi untuk menghasilkan industri dan bisnis baru.
Mengingat kebutuhan bahan baku pakan lokal yang berkualitas tinggi semakin meningkat (bahan pakan impor seperti contoh bungkil kedelai semakin mahal), akhirnya kelompok ini menjadikan bisnis penjualan pakan sebagai ikhtiar untuk menambah penghasilan.
Dalam papat koperasi terakhir, para anggota sepakat untuk setor ke koperasi daun Indigofera basah sebesar Rp. 1.000/kg. Dalam hitungan per hektar, dengan jarak tanam 1x 1,5 meter, berarti ada sekitar 6.600-an tanaman Indigofera. Hasil peneltian IPB selama ini menyebutkan angka 30 hingga 50 ton kering daun Indigofera kering. Anggap saja kemungkinan terburuk 30 ton basah (bukan kering), maka per hektar hitungannya memberikan pendapatan 30 juta per tahun per hektar.
Tidak hanya penjualan pakannya, namun kelompok ini juga bersiap diri untuk bisa menawarkan pelatihan pembuatan pakan tersebut dari A sampai Z, tentunya dengan tarif yang disepakati anggota koperasi. (wan/abh)


COMMENTS