Penulis : Wawan Bromo FM Minggu, 17/01/2016 PAITON - Untuk menjaga kelestarian dan keberlangsungan hutan tanaman pantai (mangrove) di...
Penulis : Wawan Bromo FM
Minggu, 17/01/2016
Kepala Disbunhut Raharjo mengatakan, pengendalian OPT ini dilakukan dengan supaya tanaman tetap sehat dan tidak terserang hama dan penyakit. “Kalau sudah sehat dan tinggi, tanaman mangrove ini bisa menjadi benteng yang tangguh untuk menghadapi abrasi,” ujarnya, Minggu (17/01/2016).
Menurut Raharjo, sebenarnya tanaman mangrove di Desa Randutatah Kecamatan Paiton ini belum rusak. Tetapi kalau OPT tidak dikendalikan, maka lama kelamaan tanaman mangrove ini batangnya akan habis. Jika mangrove mati, bisa terjadi abrasi pantai karena benteng penahannya sudah rusak.
“Masyarakat Desa Randutatah memang sangat kreatif menanam mangrove di sepanjang bibir pantai. Agar tanaman tersebut bisa tinggi dan menjadi penahan abrasi, maka dilakukan pengendalian OPT secara objektif,” jelasnya.
Dikatakan biasanya tiram menyerang mangrove yang masih muda. Sisi lain, daya tahan mangrove terhadap serangan tiram bervariasi sesuai dengan umur tanaman. “Tanaman umur 0 hingga 1 tahun bisa bertahan hidup hingga 3 bulan dari serangan tiram pertama. Sebab daya tahannya masih sangat rendah. Berbeda dengan yang sudah besar, di mana daya tahannya yang kuat,” ungkapnya.
Raharjo, menjelaskan, pada setiap batang mangrove populasi serangan bisa mencapai 25 tiram. “Kalau sudah melingkar dan membentuk cincin, maka mangrove akan mati karena tercekik. Hal ini dikarenakan, cairan yang ada di batang habis terhisap tiram yang melingkar. Sehingga cairan dari akar tidak bisa sampai ke atas,” tambahnya.
Lebih lanjut Raharjo menambahkan pada dasarnya tanam mangrove yang sulit berada pada penanaman awal dan pemeliharaannya. Sebab tanaman ini harus selalu dilindungi dari segala macam OPT yang dapat mengganggu pertumbuhannya.
“Tanaman mangrove ini banyak sekali fungsi dan kegunaannya. Salah satunya menjadi benteng dalam menahan abrasi serta menjadi tempat berkembang biaknya ikan. Sebab akar mangrove merupakan tempat yang paling disukai ikan untuk berkembang biak,” tegasnya.
Selain di lahan seluas 20 hektar dari total lahan mangrove seluas 52,5 hektar di Desa Randutatah, pengendalian OPT mangrove dari serangan tiram ini juga dilakukan di beberapa pantai di Kabupaten Probolinggo. “Namun karena keterbatasan anggaran, maka pengendalian ini dilakukan secara bertahap. Apalagi mangrove itu menjadi benteng pertahanan abrasi pantai,” pungkasnya. (wan/abh)


COMMENTS