Penulis : Dimaz Bromo FM Jumat, 29/01/2016 SUKAPURA - Untuk memantau dari dekat kondisi terkini Gunung Bromo sejak levelnya naik menj...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Jumat, 29/01/2016
SUKAPURA - Untuk memantau dari dekat kondisi terkini Gunung Bromo sejak levelnya naik menjadi siaga, Dandim 0820 Probolinggo Letkol Inf. Hendhi Yustian Danang Suta didampingi Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi dan Kabid TNBTS Wilayah I Fariana Prabandari dan KSPTN I, Jum’at (28/1/2016) pagi bergerak ke Pananjakan di Dusun Cemoro Lawang Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo.Dari pemantauan tersebut diketahui bahwa larangan bagi wisatawan tetap terus diberlakukan untuk mendekat ke lautan pasir dengan radius 2,5 km. Bahkan saat ini larangan itu semakin diperketat mengingat sinar api yang keluar dari kawah yang disertai letusan dan suara gemuruh dikhawatirkan berbahaya bagi pengunjung. Rekomendasi dari PVMBG melalui TNBTS tentang status Gunung Bromo, untuk wisatawan dan warga sekitar tetap dilarang keras masuk ke kaldera.
Kabid TNBTS Wilayah 1 Fariana Prabandari mengugkapkan, wisatawan harus mentaati larangan masuk kaldera atau mendekati area Gunung Bromo dengan radius 2,5 km. Yang sulit dicegah adalah kegiatan masyarakat setempat yang masuk lautan pasir untuk melakukan ritual dan melintas desa.
“Kami tidak mempunyai kewenangan penuh melarang warga Tengger, karena warga Tengger tetap tidak bisa kami larang masuk ke lautan pasir untuk melaksanakan ritual. Sebab, itu sudah menjadi adat warga Tengger. Kami hanya bisa melarang wisatawan saja,” ungkapnya.
Fariana menambahkan, selain harus dibedakan larangan masuk ke lautan pasir untuk wisatawan dan petugas. Dimana selama Gunung Bromo masih erupsi, petugas diperkenankan masuk lautan pasir dalam rangka tugas pengamanan dan pemantauan erupsi.
Sementara Dukun Adat Suku Tengger Sutomo mengaku, selama siklus 5 tahunan Gunung Bromo erupsi, larangan masuk ke kaldera untuk melaksanakan ritual tidak berlaku bagi warga Tengger. Karena ritual yang dilakukan warga Tengger itu merupakan suatu doa keselamatan.
“Itu sudah menjadi adat bagi kami yang tidak bisa kami abaikan untuk masuk ke Pure Agung di lautan pasir itu. Apapun yang terjadi, kami harus melakukan ritual disana,” katanya. (maz/abh)


COMMENTS