Penulis : Dimaz Bromo FM Kamis, 21/01/2016 SUMBERASIH - Warga perbatasan Desa Lemah Kembar dan Desa Banjarsari Kecamatan Sumberasih...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Kamis, 21/01/2016
SUMBERASIH - Warga perbatasan Desa Lemah Kembar dan Desa Banjarsari Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo dibuat heboh, Rabu (20/01/2016). Pasalnya, warga menemukan sesosok mayat dibawah rel kereta api (KA). Diduga, mayat laki-laki itu keserempet KA.
Buayat (35), mengatakan, mulanya ia mendengar teriakan seorang perempuan. “Dia teriak ada mayat, itu sekitar pukul 07.30,” ujar warga Desa Banjarsari tersebut. Setelah mendengar teriakan itu, Buayat langsung menuju ke lokasi dimana mayat laki-laki itu ditemukan. “Ternyata itu Hanan,” katanya.
Buayat mengaku kenal dengan pria tersebut karena sering bertemu. Sehari-hari, Hanan merupakan pencari udang dan ikan di tambak. “Hampir setiap hari bertemu. Istrinya kan juga bekerja di depot Anda,” katanya. Depot yang dimaksud berjarak sekitar 100 meter dari tempat kejadian perkara (TKP).
Informasi yang dihimpun, setiap pagi Hanan mengantar Siti, istrinya yang menjadi pelayan di warung dekat TKP. Seperti biasa, pasutri ini berangkat dari rumahnya di Desa Sumendi Kecamatan Tongas sekitar pukul 06.30. Setelah mengantar istrinya, Hanan kemudian berangkat ke tambak untuk mencari ikan.
“Motornya setiap hari ditaruh di warung,” ujar Matlap (50), tetangganya yang juga berada di TKP. Diduga, saat itu korban hendak menyeberang rel KA. Hanan yang memiliki satu anak dari pernikahan sebelumnya itu kaget karena ada KA dari arah timur. Kemungkinan, korban melompat untuk menghindari KA. Hanya saja, korban terlempar setelah terhempas KA.
Kanit Reskrim Polsek Sumberasih Aiptu Jayus mengatakan, diduga korban terpeleset di batu rel hingga kepalanya menghantam tiang listrik. “Dugaan kami meninggalnya karena hantaman di kepala. Sebab, luka yang diderita hanya di jempol kaki dan paha. Itupun hanya luka gores,” imbuhnya.
Polisi tidak menyimpulkan dugaan lain. “Bukan pembunuhan, karena tidak ada luka bekas penganiayaan di tubuh korban,” ujar Aiptu Jayus. Pihak keluarga sendiri tidak bersedia dilakukan otopsi dalam. Karena itu, usai dilakukan otopsi luar, korban yang asli Pasuruan ini dibawa pulang ke rumah duka.
Sementara itu, peristiwa tersebut membuat warga berdatangan ke lokasi kejadian. Warga kemudian mengerubungi korban yang saat itu mengenakan kaus warna kuning. Siti, istri korban yang diberitahu warga langsung menuju ke TKP. Mengetahi sang suami tewas, Siti tak kuasa menahan kesedihannya. Mulai dari TKP hingga korban dibawa ke kamar mayat RSUD dr. Mohammad Saleh, ia terus menangis histeris. (maz/abh)
Buayat (35), mengatakan, mulanya ia mendengar teriakan seorang perempuan. “Dia teriak ada mayat, itu sekitar pukul 07.30,” ujar warga Desa Banjarsari tersebut. Setelah mendengar teriakan itu, Buayat langsung menuju ke lokasi dimana mayat laki-laki itu ditemukan. “Ternyata itu Hanan,” katanya.
Buayat mengaku kenal dengan pria tersebut karena sering bertemu. Sehari-hari, Hanan merupakan pencari udang dan ikan di tambak. “Hampir setiap hari bertemu. Istrinya kan juga bekerja di depot Anda,” katanya. Depot yang dimaksud berjarak sekitar 100 meter dari tempat kejadian perkara (TKP).
Informasi yang dihimpun, setiap pagi Hanan mengantar Siti, istrinya yang menjadi pelayan di warung dekat TKP. Seperti biasa, pasutri ini berangkat dari rumahnya di Desa Sumendi Kecamatan Tongas sekitar pukul 06.30. Setelah mengantar istrinya, Hanan kemudian berangkat ke tambak untuk mencari ikan.
“Motornya setiap hari ditaruh di warung,” ujar Matlap (50), tetangganya yang juga berada di TKP. Diduga, saat itu korban hendak menyeberang rel KA. Hanan yang memiliki satu anak dari pernikahan sebelumnya itu kaget karena ada KA dari arah timur. Kemungkinan, korban melompat untuk menghindari KA. Hanya saja, korban terlempar setelah terhempas KA.
Kanit Reskrim Polsek Sumberasih Aiptu Jayus mengatakan, diduga korban terpeleset di batu rel hingga kepalanya menghantam tiang listrik. “Dugaan kami meninggalnya karena hantaman di kepala. Sebab, luka yang diderita hanya di jempol kaki dan paha. Itupun hanya luka gores,” imbuhnya.
Polisi tidak menyimpulkan dugaan lain. “Bukan pembunuhan, karena tidak ada luka bekas penganiayaan di tubuh korban,” ujar Aiptu Jayus. Pihak keluarga sendiri tidak bersedia dilakukan otopsi dalam. Karena itu, usai dilakukan otopsi luar, korban yang asli Pasuruan ini dibawa pulang ke rumah duka.
Sementara itu, peristiwa tersebut membuat warga berdatangan ke lokasi kejadian. Warga kemudian mengerubungi korban yang saat itu mengenakan kaus warna kuning. Siti, istri korban yang diberitahu warga langsung menuju ke TKP. Mengetahi sang suami tewas, Siti tak kuasa menahan kesedihannya. Mulai dari TKP hingga korban dibawa ke kamar mayat RSUD dr. Mohammad Saleh, ia terus menangis histeris. (maz/abh)



COMMENTS