Penulis : Wawan Bromo FM Jumat, 29/01/2016 SUKAPURA - Erupsi Gunung Bromo yang tidak kunjung usai membuat perekonomian warga Tengger cuku...
Penulis : Wawan Bromo FM
Jumat, 29/01/2016
SUKAPURA - Erupsi Gunung Bromo yang tidak kunjung usai membuat perekonomian warga Tengger cukup sulit. Pasalnya, pendapatan warga hingga pekan ini cukup seret, sedang harga kebutuhan pangan melambung. Menyikapi hal itu, Pemkab Probolinggo dan Bulog Sub Divre Probolinggo pun melakukan operasi pasar beras murah sejak Jum’at (29/1/2016).
Di hari pertama tersebut, Pemkab dan Bulog menggelar operasi pasar beras murah di depan Pasar Sukapura. Sebanyak 2 ton beras kualitas medium digelontorkan untuk memenuhi hajat hidup warga Tengger.
Beras kualitas medium yang biasanya oleh pedagang dijual dengan harga Rp 9.000 hingga Rp 9.500/kg, dalam operasi pasar ini dijual seharga Rp 8.100/kg. Tentu beras murah ini diserbu oleh warga, karena dinilai dapat meringankan beban hidup.
“Cukup membantu, karena ada selisih harga yang dapat kami alihkan untuk membeli kebutuhan lainnya,” ujar Sugiono, warga Desa Sukapura Kecamatan Sukapura yang membeli beras sebanyak 20 kg.
Sementara Camat Sukapura Bambang Julius Wijanarko mengatakan, operasi pasar ini dilaksanakan secara bergantian di 12 desa yang terdapat di Kecamatan Sukapura. Setiap harinya antara 1 ton hingga 2 ton beras akan disalurkan, tergantung luas dan jumlah penduduk desa tersebut.
“Operasi beras murah ini akan dilakukan secara bergiliran sambil selanjutnya kami melihat kebutuhan masyarakat. Semoga upaya ini dapat meringankan beban masyarakat,” katanya.
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 TNBTS Sarmin menyebutkan estimasi kerugian ini tidak hanya pada pemasukan tiket untuk TNBTS saja, melainkan juga kerugian yang dialami oleh pelaku wisata lainnya, seperti hotel, home stay, jip, ojek, jasa kuda dan pedagang kaki lima (PKL).
“Hal ini belum termasuk kerugian biaya konservasi tanaman yang rusak akibat tertutupi material debu vulkanis. Kerugian di sektor pariwisata mencapai Rp 21 miliar. Itu terjadi karena untuk wisata memang terjadi penurunan yang sangat drastis,” ujarnya.
Hingga saat ini status Gunung Bromo masih siaga dengan jarak aman dari kawah 2,5 kilo meter. Sinar api atau glowing teramati yang disertai lontaran lava pijar berkisar 150 meter dari puncak. Sementara asap bertekanan sedang cenderung kuat mengarah ke timur dan timur laut dengan ketinggian 1.200 mdpk at au 3.529 mdpl. (maz/abh)
Jumat, 29/01/2016
SUKAPURA - Erupsi Gunung Bromo yang tidak kunjung usai membuat perekonomian warga Tengger cukup sulit. Pasalnya, pendapatan warga hingga pekan ini cukup seret, sedang harga kebutuhan pangan melambung. Menyikapi hal itu, Pemkab Probolinggo dan Bulog Sub Divre Probolinggo pun melakukan operasi pasar beras murah sejak Jum’at (29/1/2016).Di hari pertama tersebut, Pemkab dan Bulog menggelar operasi pasar beras murah di depan Pasar Sukapura. Sebanyak 2 ton beras kualitas medium digelontorkan untuk memenuhi hajat hidup warga Tengger.
Beras kualitas medium yang biasanya oleh pedagang dijual dengan harga Rp 9.000 hingga Rp 9.500/kg, dalam operasi pasar ini dijual seharga Rp 8.100/kg. Tentu beras murah ini diserbu oleh warga, karena dinilai dapat meringankan beban hidup.
“Cukup membantu, karena ada selisih harga yang dapat kami alihkan untuk membeli kebutuhan lainnya,” ujar Sugiono, warga Desa Sukapura Kecamatan Sukapura yang membeli beras sebanyak 20 kg.
Sementara Camat Sukapura Bambang Julius Wijanarko mengatakan, operasi pasar ini dilaksanakan secara bergantian di 12 desa yang terdapat di Kecamatan Sukapura. Setiap harinya antara 1 ton hingga 2 ton beras akan disalurkan, tergantung luas dan jumlah penduduk desa tersebut.
“Operasi beras murah ini akan dilakukan secara bergiliran sambil selanjutnya kami melihat kebutuhan masyarakat. Semoga upaya ini dapat meringankan beban masyarakat,” katanya.
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 TNBTS Sarmin menyebutkan estimasi kerugian ini tidak hanya pada pemasukan tiket untuk TNBTS saja, melainkan juga kerugian yang dialami oleh pelaku wisata lainnya, seperti hotel, home stay, jip, ojek, jasa kuda dan pedagang kaki lima (PKL).
“Hal ini belum termasuk kerugian biaya konservasi tanaman yang rusak akibat tertutupi material debu vulkanis. Kerugian di sektor pariwisata mencapai Rp 21 miliar. Itu terjadi karena untuk wisata memang terjadi penurunan yang sangat drastis,” ujarnya.
Hingga saat ini status Gunung Bromo masih siaga dengan jarak aman dari kawah 2,5 kilo meter. Sinar api atau glowing teramati yang disertai lontaran lava pijar berkisar 150 meter dari puncak. Sementara asap bertekanan sedang cenderung kuat mengarah ke timur dan timur laut dengan ketinggian 1.200 mdpk at au 3.529 mdpl. (maz/abh)


COMMENTS