Penulis : Wawan Bromo FM Rabu, 20/01/2016 TONGAS - Usaha tambak udang sempat mengalami masa suram sejak 1990-an silam. Belakangan, ...
Penulis : Wawan Bromo FM
Rabu, 20/01/2016
TONGAS - Usaha tambak udang sempat mengalami masa suram sejak 1990-an silam. Belakangan, sejak 2013, sejumlah petambak mulai bangkit melali program revitalisasi udang. Salah satu pengusaha tambak udang yang berhasil adalah Alim Muntasor.
Tahun 1980-an, usaha tambak udang di Kabupaten Probolinggo banyak dilirik masyarakat. Selain teknik budidayanya yang mudah, hasil yang diperoleh juga cukup menggiurkan. Tetapi belakangan, pada 1990-an, banyak pengusaha udang gulung tikar. Usaha ini benar-benar mati suri sejak tahun 1992.
Seiring dengan program revitalisasi udang yang dicanangkan pemerintah, banyak masyarakat yang kembali menggeluti usaha ini. Secara bertahap banyak yang merenovasi tambaknya yang hancur, bahkan ada juga yang menyewakannya kepada pihak lain karena kekurangan modal.
Alim Muntasor, warga Warujinggo Kecamatan Lces Kabupaten Probolinggo yang tergolong sukses menerapkan program tersebut. Ia sukses membuka areal tambak di Desa Bayeman Kecamatan Tongas.
Lelaki kelahiran Lumajang, 8 September 1964 ini mengaku, memulai bertambak udang sejak 2013 lalu. Saat itu ia menebar 350 ribu ekor benih di sepetak lahan seluas 0,5 hektare (Ha). Namun setelah dipanen, dengan parcialnya mencapai 6,6 ton. Rinciannya, 2 ton merupakan panen parcial.
“Modal awalnya untuk biaya produksi sekitar Rp 165 juta. Namun setelah panen bisa mendapatkan laba Rp 484 juta dengan harga per kilogramnya mencapai Rp 25.000. Rinciannya, Rp 70 juta dari hasil panen parcial sebanyak 2 ton dan sisanya Rp 414 juta dari panen selanjutnya sebanyak 4,6 ton,” jelasnya.
Suami dari Juma’iyah Uswah Hasanah ini menjelaskan, banyak dan tidaknya produktivitas udang yang dihasilkan tergantung dari teknologi serta sarana dan prasarana yang digunakan. Kalau semua sudah lengkap, satu petak bisa ditebari 30 ton ekor benih.
“Saya mulai menggeluti usaha udang ini sejak tahun 1987 silam. Sebelum terjun menjadi pengusaha, saya ikut bekerja sebagai teknisi di salah satu tambak hingga luar pulau Jawa. Mulai usaha sendiri sejak tahun 2009 silam. Nanti setelah semua lengkap delapan petak bisa difungsikan secara maksimal,” terangnya.
Ayah tiga anak ini menambahkan, menjalani usaha tambak udang sebenarnya sangat mudah asal tahu teknisnya. Pertama sebagai persiapan lumpur di petak tambak harus dibuang dan dilakukan pengeringan sampai betul-betul kering. Keasaman (pH) tanah harus normal 6-7. Jika belum normal maka diberi kapur gamping 1 ton per hektar.
“Isi air sebanyak 50 cm dan dikaporit 20 ppm. Tunggu selama 3 hari kemudian isi air dan diberi probiotik lalu difermentasi selama 4 hari. Setelah plankton jadi, segera tebar benur dan dilakukan pemeliharaan. Beri pakan 3 hingga 4 kali dengan Feed Conversion Ratio (FCR) dari 1 hingga 1,1,” tegasnya.
Alumni Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang itu mengaku, tambak udangnya sering dijadikan tempat praktik kerja dan penelitian para mahasiswa. Bahkan tidak jarang pula sering menjadi jujukan studi banding dari berbagai daerah di Indonesia. “Alhamdulillah, selain dari segi usaha, lahan tambak udang ini juga sering dijadikan tempat praktek dan penelitian mahasiswa,” tambahnya.
Sementara Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi mengharapkan agar apa yang dilakukan pengusaha tambak udang ini bisa menginspirasi orang-orang lain, karena masih banyak tambak-tambak yang terlantar di Kabupaten Probolinggo. “Tentu harapannya dapat mendorong perekonomian kawasan pesisir,” harapnya. (wan/abh)


COMMENTS