Penulis : Dimaz Bromo FM Sabtu, 30/01/2016 SUKAPURA - Guyuran abu vulkanik Gunung Bromo, mulai mengancam keberlangsungan ekosistem sa...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Sabtu, 30/01/2016
SUKAPURA - Guyuran abu vulkanik Gunung Bromo, mulai mengancam keberlangsungan ekosistem satwa di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Selain memicu kepunahan, racun silika dalam debu dari perut kawah itu akan membuat habitat satwa mati suri.Kepala Resort Lautan Pasir TNBTS Khaerul Saleh mengatakan paparan debu vulkanis yang semakin meluas, kini mulai mengancam habitat satwa di kawasan TNBTS. Abu yang mengandung silika atau semacam serbuk bahan kaca ini sangat membahayakan bagi kehidupan satwa lindung, terutama burung.
Akibat paparan abu, habitat satwa ini terancam punah. Selain itu satwa bisa dengan mudah mati akibat paparan debu vulkanis. Burung-burung maupun satwa lainnya, kini cenderung tidak betah dengan kondisi ini dan mencari kehidupan lain berpindah tempat.
“Ada banyak pengaruh untuk flora dan fauna. Banyak yang mengungsi ke daerah savana untuk menghindari dampak abu vulkanik Bromo. Karena di daerah selatan, jarang terkena paparan abu,” ujarnya, Sabtu (30/1/2016).
Hingga saat ini, kepulan asap pekat terus keluar dari mulut kawah Gunung Bromo di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Aktivitas vulkanis semakin meningkat.
“Abu vulkanis mengandung silika yang sifat keasamannya cukup tinggi karena masih baru, sehingga sangat berbahaya bagi pernafasan hewan. Tergantung pada tingkat ketahanan hewan itu sendiri,” kata Ahmad Subhan, Kepala PVMBG Pos Pantau Gunung Bromo.
Gunung Bromo yang naik siaga sejak 4 desember 2015 lalu, hingga kini masih fluktuatif. Meski kerap menurun, namun ancaman hujan debu vulkanis kian meluas. Sedikitnya 12 desa di tiga kecamatan yakni Sukapura, Sumber dan Lumbang, terpapar debu. Warga dihimbau untuk terus waspada. (maz/abh)


COMMENTS