Penulis : Dimaz Bromo FM Sabtu, 19/12/2015 KRAKSAAN - Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Probolinggo memang saat ini suda...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Sabtu, 19/12/2015
KRAKSAAN - Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Probolinggo memang saat ini sudah naik ke peringkat ke 32 dari 38 daerah di Jawa Timur. Namun, masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan di bidang pendidikan. Yaitu angka putus sekolah.
Salah satu indikator IPM yang masih dikatakan lemah yakni di sektor pendidikan, terutama angka putus sekolah. Dari 24 kecamatan di Kabupaten Probolinggo, angka putus sekolah tertinggi ada di Kecamatan Tiris, disusul Kecamatan Krucil sebagai runner up.
Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Probolinggo, pada tahun 2013, jumlah anak sekolah ada 5.600 siswa. Yang tidak sekolah berjumlah 2.477 anak.
Dari jumlah tersebut angka putus sekolah terbanyak ada di tingkat SMA/SMK/MA yang mencapai 1.329 siswa. Disusul tingkat SMP/MTs sejumlah 774 siswa dan tingkat SD/MI ada 374 siswa putus sekolah.
Problem besar di Kecamatan Tiris termasuk tetangganya, Kecamatan Krucil, adalah faktor ekonomi dan jarak tempuh. Pelajar sampai harus menempuh jarak 4 kilometer untuk sampai ke sekolahnya. Faktor itu bisa jadi kendala, meski jumlah lembaga pendidikan sudah relatif banyak.
“Jumlah lembaga pendidikan di Kecamatan Tiris sudah cukup banyak. Jumlah SD/MI ada 95 lembaga dengan jarak tempuh 1 kilometer. SMP/MTs ada 23 lembatga dengan jarak tempuh 1 kilometer,” kata Kepala Bappeda Kabupaten Probolinggo Dewi Korina.
Sedangkan di Kecamatan Krucil anak yang bersekolah berjumlah 5.504 siswa. Anak yang putus sekolah berjumlah 2.028. Dengan rincian terbanyak berasal dari tingkat SMA/SMK/MA yang mencapai 1.157 anak. Diikuti tingkat SD/MI yang mencapai 401 anak. Dan urutan ketiga yakni tingkat SMP/MTs berjumla 267 siswa.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Syamsul Huda mengungkapkan, pihak Dispendik sudah melakukan upaya agar problem itu bisa dipecahkan. “Beberapa program sudah kami terapkan. Harapannya, angka putus sekolah tidak ada lagi. Itu harapan kami,” katanya.
Salah satu yang dilakukan Dispendik yakni pemberian bantuan beasiswa terhadap siswa dari keluarga miskin. “Salah satu faktor kenapa bisa putus sekolah karena faktor ekonomi. Makanya, sejak beberapa tahun terakhir, kami sudah memberikan bantuan beasiswa bagi siswa dari keluarga miskin,” ujarnya.
Kemudian, Dispendik sudah menerapkan akses kemudahan untuk mendapatkan pendidikan, yakni dengan pertimbangan domisili. “Jadi yang diterima adalah siswa terdekat sekolah, karena memang untuk memudahkan mereka mendapatkan pendidikan yang layak,” ucapnya.
Di samping itu, Dispendik juga memperhatikan guru yang mengajar hingga ke pelosok desa. Yaitu dengan memberikan bantuan khusus untuk biaya transportasi. “Kami sediakan juga Rp 100 ribu per bulan selama 10 bulan. Itu diluar dari honor mereka menjadi tenaga pengajar,” katanya.
Berikutnya, Dispendik secara bertahap terus melakukan pembenahan terhadap sarana dan prasaran pendidikan di dua kecamatan tersebut.
Sementara Camat Tiris Roby Siswanto mengungkapkan, faktor jalan yang banyak rusak juga berdampak pada pendidikan. Transportasi jadi sulit. “Kuncinya memang satu yakni jalan. Kalau satu kunci ini sudah bagus, Insya Allah semuanya akan berdampak,” pungkasnya. (maz/abh)


COMMENTS