Penulis : Wawan Bromo FM Selasa, 08/12/2015 BANTARAN – Bidan Desa Besuk Kecamatan Bantaran Suwartiningsih mengaku, selama menjalani...
Penulis : Wawan Bromo FM
Selasa, 08/12/2015

BANTARAN – Bidan Desa Besuk Kecamatan Bantaran Suwartiningsih mengaku, selama menjalani profesi banyak suka dan duka yang dialaminya. Sukanya ia rasakan ketika bisa membantu menolong ibu persalinan dengan selamat. Tetapi dukanya, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang menikah usia dini.
“Pengalaman yang paling berkesan saya alami sewaktu bertugas di Desa Ngadirejo Kecamatan Sukapura. Waktu itu saya dipanggil untuk membantu melahirkan di Gunung Pundaklembu dengan berjalan kaki 2 jam di tengah kabut disertai hujan jam 2 malam. Alhamdulillah, dengan napas tersisa akhirnya ibu dan bayinya selamat,” kata bidan asli Lumajang ini.
Perempuan kelahiran Jayapura, 25 Mei 1978 ini menerangkan, seorang bidan bertugas memantau wilayah ia ditugaskan dari mulai ibu hamil, persalinan, nifas, KB, bayi hingga balita. Meskipun demikian perlu adanya dukungan dan kesadaran dari masyarakat untuk memeriksakan kehamilannya mulai awal hingga persalinan.
“Saya berpesan kepada masyarakat untuk meningkatkan pendidikan, sumber daya manusia dan kesehatan, khususnya ibu hamil,” jelas istri Sukandar yang memiliki hobi renang ini.
Hingga saat ini, anak keempat dari empat bersaudara pasangan (alm) Misdar dan Paini sudah bertugas di tiga desa di Kabupaten Probolinggo. Selain di Desa Besuk Kecamatan Bantaran dan Desa Ngadirejo Kecamatan Sukapura, alumnus D4 Stikes Hafshawati Zainul Hasan Genggong ini pernah bertugas di Desa Kramatagung Kecamatan Bantaran.
“Motivasi saya menjadi bidan karena peduli dengan kesehatan. Untuk menjadi seorang bidan yang sukses, maka dalam melaksanakan tugas kita harus senantiasa sabar, senyum, semangat dan berdoa dengan tekad supaya Indonesia menjadi sehat dan lebih baik lagi,” pungkasnya. (wan/abh)


COMMENTS