Penulis : Wawan Bromo FM Rabu, 09/12/2015 KRAKSAAN – Budidaya udang skala mini empang plastik (Busmetik) dibutuhkan untuk menjawab hambat...
Penulis : Wawan Bromo FM
Rabu, 09/12/2015
KRAKSAAN – Budidaya udang skala mini empang plastik (Busmetik) dibutuhkan untuk menjawab hambatan suatu pengembangan teknologi budidaya. Di Kabupaten Probolinggo, budidaya dengan menggunakan metode Busmetik ini diterapkan di lahan milik Busri di Desa Sidopekso Kecamatan Kraksaan.
Sedikitnya ada tiga kolam kecil yang digunakan Busri untuk budidaya udang vaname dengan metode Busmetik. Yakni ukuran 800 m2, 750 m2 dan 700 m2. Dari tiga petak kolam kecil tersebut, baru petak kedua dan ketiga yang sudah panen.
Dari 73 ribu ekor yang ditebar di petak kedua, hasil panennya mencapai 5 kwintal. Sedangkan dari tebaran 60 ribu ekor di petak ketiga, hasilnya mencapai 5 kwintal.
Awalnya, Busri bekerja sebagai petani biasa. Ia termotivasi melakukan budidaya dengan metode Busmetik setelah melihat langsung penerapan metode ini di Kabupaten Pamekasan, Madura.
“Kebetulan saya memang ingin melakukan budidaya udang vaname tapi terkendala dengan lahan. Tetapi setelah melihat penerapan Busmetik di Madura, akhirnya saya mencoba sewa lahan kecil dekat rumah. Alhamdulillah, hasilnya juga sangat bagus,” katanya.
Menurut Busri, modal awal yang dia keluarkan mencapai Rp 100 juta. Modal awal itu ia gunakan untuk pembuatan lahan, pemasangan dua kincir, membeli terpal dan gardu PLN. Tetapi dari panen awal di petak dua dan tiga, ia sudah mendapatkan hasil sebesar Rp 55 juta.
“Investasi awal memang mahal karena masih harus merawat lahan dan sarana prasarana yang lain. Apalagi lahan yang saya gunakan awalnya adalah tambak garam. Rencananya ke depan saya ingin membangun lagi 6 kolam kecil ukuran 40 m x 40 m,” ujarnya.
Meskipun demikian, Busri mengaku, masih mengalami kendala dalam menangani penyakit. Sebab biasanya belum umur 2 bulan, udangnya sudah kena penyakit. Akhirnya ia berkomunikasi dengan Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo untuk menangani masalah penyakit.
Sementara Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo Hari Pur Sulistiono mengungkapkan, metode Busmetik merupakan salah satu metode baru yang dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas dengan memanfaatkan lahan yang kecil.
“Teknologi Busmetik ini diharapkan bisa dikembangkan di masyarakat. Oleh karena itu, tahun depan kami akan melakukan pengembangan dan membuat percontohan di tempat lain. Untuk sementara ini kami ingin melihat dulu hasil yang dikembangkan di Desa Sidopekso Kecamatan Kraksaan,” katanya. (wan/abh)
Rabu, 09/12/2015
KRAKSAAN – Budidaya udang skala mini empang plastik (Busmetik) dibutuhkan untuk menjawab hambatan suatu pengembangan teknologi budidaya. Di Kabupaten Probolinggo, budidaya dengan menggunakan metode Busmetik ini diterapkan di lahan milik Busri di Desa Sidopekso Kecamatan Kraksaan.Sedikitnya ada tiga kolam kecil yang digunakan Busri untuk budidaya udang vaname dengan metode Busmetik. Yakni ukuran 800 m2, 750 m2 dan 700 m2. Dari tiga petak kolam kecil tersebut, baru petak kedua dan ketiga yang sudah panen.
Dari 73 ribu ekor yang ditebar di petak kedua, hasil panennya mencapai 5 kwintal. Sedangkan dari tebaran 60 ribu ekor di petak ketiga, hasilnya mencapai 5 kwintal.
Awalnya, Busri bekerja sebagai petani biasa. Ia termotivasi melakukan budidaya dengan metode Busmetik setelah melihat langsung penerapan metode ini di Kabupaten Pamekasan, Madura.
“Kebetulan saya memang ingin melakukan budidaya udang vaname tapi terkendala dengan lahan. Tetapi setelah melihat penerapan Busmetik di Madura, akhirnya saya mencoba sewa lahan kecil dekat rumah. Alhamdulillah, hasilnya juga sangat bagus,” katanya.
Menurut Busri, modal awal yang dia keluarkan mencapai Rp 100 juta. Modal awal itu ia gunakan untuk pembuatan lahan, pemasangan dua kincir, membeli terpal dan gardu PLN. Tetapi dari panen awal di petak dua dan tiga, ia sudah mendapatkan hasil sebesar Rp 55 juta.
“Investasi awal memang mahal karena masih harus merawat lahan dan sarana prasarana yang lain. Apalagi lahan yang saya gunakan awalnya adalah tambak garam. Rencananya ke depan saya ingin membangun lagi 6 kolam kecil ukuran 40 m x 40 m,” ujarnya.
Meskipun demikian, Busri mengaku, masih mengalami kendala dalam menangani penyakit. Sebab biasanya belum umur 2 bulan, udangnya sudah kena penyakit. Akhirnya ia berkomunikasi dengan Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo untuk menangani masalah penyakit.
Sementara Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo Hari Pur Sulistiono mengungkapkan, metode Busmetik merupakan salah satu metode baru yang dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas dengan memanfaatkan lahan yang kecil.
“Teknologi Busmetik ini diharapkan bisa dikembangkan di masyarakat. Oleh karena itu, tahun depan kami akan melakukan pengembangan dan membuat percontohan di tempat lain. Untuk sementara ini kami ingin melihat dulu hasil yang dikembangkan di Desa Sidopekso Kecamatan Kraksaan,” katanya. (wan/abh)


COMMENTS