Penulis : Dimaz Bromo FM Rabu, 09/12/2015 PAJARAKAN – Menjadi bidan adalah suatu kebanggaan bagi masyarakat. Seperti yang dijalani Fifil ...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Rabu, 09/12/2015
PAJARAKAN – Menjadi bidan adalah suatu kebanggaan bagi masyarakat. Seperti yang dijalani Fifil Sumarni yang sudah 14 tahun berprofesi sebagai bidan. Ia mengabdikan diri berjuang untuk ikut serta dalam rangka menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
“Selama empat tahun mulai dari 2001 hingga 2005, saya mulai menjalani profesi sebagai bidan. Tetapi itu pun masih berstatus sebagai suka relawan (sukwan) di Puskesmas,” ujarnya.
Fifil menceritakan, pada tahun 2006 lalu dirinya mulai diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo. “Setelah diangkat menjadi PNS, saya ditugaskan di Puskesmas Pajarakan. Kebetulan saya memang asli dari Kecamatan Pajarakan. Tetapi saat ini saya tinggal di Kecamatan Paiton bersama keluarga,” jelasnya.
Fifil mengaku, dirinya sangat bersyukur saat ini sudah mulai dipercaya masyarakat sebagai bidan di Puskesmas Paiton. Hal ini bukan tanpa alasan, pasalnya ia berupaya untuk menurunkan AKI dan AKB di Kabupaten Probolinggo.
“Saya sudah banyak belajar dari pengalaman menjadi seorang bidan yang baik dan profesional. Sampai saat ini secara pribadi saya mempunyai target bagaimana caranya saya bersama bidan-bidan lainnya mampu menurunkan AKI dan AKB di Kabupaten Probolinggo,” terangnya.
Perempuan kelahiran Probolinggo, 5 April 1979 ini menuturkan, ada kalanya juga dirinya selama menjadi bidan mengalami suka dan duka, terutama ketika membantu proses persalinan. Salah satu contoh adanya persalinan yang masih ditangani dukun. “Alhamdulillah, sekarang semua sudah bisa berjalan dengan baik. Masyarakat sudah mulai mempercayai datang ke bidan untuk proses persalinan,” sebutnya.
Konselor ASI di Kabupaten Probolinggo ini tetap berusaha untuk menurunkan AKI dan AKB. Sebab menurutnya, bekerja keras disertai profesional merupakan sebuah keutamaan baginya untuk mencapai keinginannya sebagai seorang bidan yang baik dan berhasil menurunkan AKI dan AKB.
“Saya sangat yakin dan optimis dengan dukungan dari masyarakat, tekad untuk menurunkan AKI dan AKB di Kabupaten Probolinggo akan bisa terwujud. Kuncinya hanya satu dukungan dan partisipasi dari masyarakat. Sebab seorang bidan tanpa support dari masyarakat tidak akan pernah sukses,” pungkasnya. (maz/abh)
Rabu, 09/12/2015
PAJARAKAN – Menjadi bidan adalah suatu kebanggaan bagi masyarakat. Seperti yang dijalani Fifil Sumarni yang sudah 14 tahun berprofesi sebagai bidan. Ia mengabdikan diri berjuang untuk ikut serta dalam rangka menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).“Selama empat tahun mulai dari 2001 hingga 2005, saya mulai menjalani profesi sebagai bidan. Tetapi itu pun masih berstatus sebagai suka relawan (sukwan) di Puskesmas,” ujarnya.
Fifil menceritakan, pada tahun 2006 lalu dirinya mulai diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo. “Setelah diangkat menjadi PNS, saya ditugaskan di Puskesmas Pajarakan. Kebetulan saya memang asli dari Kecamatan Pajarakan. Tetapi saat ini saya tinggal di Kecamatan Paiton bersama keluarga,” jelasnya.
Fifil mengaku, dirinya sangat bersyukur saat ini sudah mulai dipercaya masyarakat sebagai bidan di Puskesmas Paiton. Hal ini bukan tanpa alasan, pasalnya ia berupaya untuk menurunkan AKI dan AKB di Kabupaten Probolinggo.
“Saya sudah banyak belajar dari pengalaman menjadi seorang bidan yang baik dan profesional. Sampai saat ini secara pribadi saya mempunyai target bagaimana caranya saya bersama bidan-bidan lainnya mampu menurunkan AKI dan AKB di Kabupaten Probolinggo,” terangnya.
Perempuan kelahiran Probolinggo, 5 April 1979 ini menuturkan, ada kalanya juga dirinya selama menjadi bidan mengalami suka dan duka, terutama ketika membantu proses persalinan. Salah satu contoh adanya persalinan yang masih ditangani dukun. “Alhamdulillah, sekarang semua sudah bisa berjalan dengan baik. Masyarakat sudah mulai mempercayai datang ke bidan untuk proses persalinan,” sebutnya.
Konselor ASI di Kabupaten Probolinggo ini tetap berusaha untuk menurunkan AKI dan AKB. Sebab menurutnya, bekerja keras disertai profesional merupakan sebuah keutamaan baginya untuk mencapai keinginannya sebagai seorang bidan yang baik dan berhasil menurunkan AKI dan AKB.
“Saya sangat yakin dan optimis dengan dukungan dari masyarakat, tekad untuk menurunkan AKI dan AKB di Kabupaten Probolinggo akan bisa terwujud. Kuncinya hanya satu dukungan dan partisipasi dari masyarakat. Sebab seorang bidan tanpa support dari masyarakat tidak akan pernah sukses,” pungkasnya. (maz/abh)


COMMENTS