Penulis : Wawan Bromo FM Jum'at, 20/11/2015 SUKAPURA - Kelompok peternak di Desa Ngepung Kecamatan Sukapura menjadi percontoh...
Penulis : Wawan Bromo FM
Jum'at, 20/11/2015
SUKAPURA - Kelompok peternak di Desa Ngepung Kecamatan Sukapura menjadi percontohan. Kelompok ini mengembangkan dua jenis berupa susu kambing etawa dan pakan ternak. Meski belum dipromosikan, tapi saat ini sudah dibanjiri pesanan dari luar kota, khususnya untuk hasil pakan ternak yang dibuat kelompok yang berada di sekitar kawasan wisata Gunung Bromo ini.
Ketua kelompok ternak Bambang Heri Wahjudi mengatakan awal mula kelompok tani ini dimulai pada tahun 2013 lalu. “Awalnya sudah ada peternak kambing, sebanyak 20 orang dan pada tahun 2013 lalu, populasinya masih ada 30 ekor. Kemudian pada tahun 2014, populasinya bertambah menjadi 80 ekor dan tahun 2015 menjadi 100. Dan anggotanya sudah 30 orang. Hingga sampai sekarang terus berkembang,” katanya.
Namun, saat ini kelompok ternaknya tersebut sudah dibentuk pra koperasi. “Kenapa membentuk koperasi? Di kelompok ini ada kerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Untuk melakukan kerjasama tersebut, kami mengembangkan konsentrat hijau indigofera. Agar lebih profesional, termasuk untuk memudahkan administrasi dan lain sebagainya akhirnya dibentuklah koperasi,” jelasnya.
Menurut Judi, adanya pengembangan dengan IPB ini merupakan pertama kali di Indonesia yakni di Desa Ngepung. “Ini juga menjadi pilot project di Indonesia oleh IPB, yang mengembangkan hasil olahan dari daun indiogefera,” terangnya.
Untuk permintaan saat ini, Judi mengaku sampai sekarang pihaknya belum berani mempromosikan diri, pasalnya sampai saat ini ia belum bisa memproduksi banyak. Meski demikian, sampai saat ini sejumlah daerah sudah memesan sebagai salah satu suplemen ternaknya. “Belum promosi, tapi sekarang ini sudah dibanjiri pemesan,” katanya.
Hasil Indigofera tersebut tidak hanya sudah banyak pemesan dari luar daerah, tapi kelompok di Desa Ngepung tersebut sudah dikunjungi berbagai kelompok tani dari luar daerah. Terakhir, beberapa minggu lalu dikunjungi kelompok tani yang berasal dari Cilacap Jawa Tengah.
“Temasuk Jakarta, Solo sudah dengar. Sudah tahu produksi indigofera dan kebanyakan mereka tahu kalau disini sudah memproduksi hingga berton-ton indigofera, padahal masih konsumsi kelompok sendiri,” terangnya.
Tingginya animo permintaan masyarakat tersebut bukannya tanpa alasan, pasalnya tepung dari Indogofera ini sudah diuji oleh IPB mengandung nutrisi yang tinggi. Ia mencontohkan jika tepung tersebut dicampur pakan ayam nantinya akan meningkatkan betakarotin dan rendah lemak. Kemudian jika dikonsumsi pada kambing dan sapi perah bisa menghasilkan susu yang lebih tinggi.
“Di telur meningkatkan vitamin A dan merendahkan kolestrol. Kambing akan meningkatkan bobot. Dan ini sudah diteliti oleh IPB mulai tahun 2007 lalu hingga sampai sekarang,” tegasnya.
Sementara untuk kambing etawa sendiri masih merintis. Karena sampai sekarang anggota kelompoknya tersebut belum menghasilkan susu kambing etawa yang cukup banyak. “Dari lima ekor kambing yang diperah, masih memproduksi 8 liter,” ucapnya.
Jadi belum berani promosi, karena masih kecil dan terus dikembangkan tersebut. Karena sampai saat ini pihaknya akan mengutamakan pakan ternak yang berasal dari hasil indogofera untuk dijadikan produk unggulan selain dari susu kambing etawa. “Pasar sudah mencari, jadi sampai sekarang yang difokuskan disektor pakan,” tambahnya.
Meski demikian, pihaknya mengaku sampai saat ini masih kesulitan dengan bibit dari daun indigofera. “Kami mengembangkan sendiri belum berhasil, terpaksa kami beli dulu,” jelasnya.
Sementara Bupati Probolinggo Hj P Tantriana Sari, SE mengungkapkan dengan adanya pengembangan usaha tersebut harus ada pelatihan khusus bagi peternak. Salah satunya yakni soal pengemasan produk.
“Dengan seperti itu, pengunjung akan tertarik bila mana kemasannya juga menarik, harapan kami ada koordinasi antara peternak dan juga satker terkait agar hal semacam ini terus berkembang,” pungkasnya. (wan/abh)
Ketua kelompok ternak Bambang Heri Wahjudi mengatakan awal mula kelompok tani ini dimulai pada tahun 2013 lalu. “Awalnya sudah ada peternak kambing, sebanyak 20 orang dan pada tahun 2013 lalu, populasinya masih ada 30 ekor. Kemudian pada tahun 2014, populasinya bertambah menjadi 80 ekor dan tahun 2015 menjadi 100. Dan anggotanya sudah 30 orang. Hingga sampai sekarang terus berkembang,” katanya.
Namun, saat ini kelompok ternaknya tersebut sudah dibentuk pra koperasi. “Kenapa membentuk koperasi? Di kelompok ini ada kerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Untuk melakukan kerjasama tersebut, kami mengembangkan konsentrat hijau indigofera. Agar lebih profesional, termasuk untuk memudahkan administrasi dan lain sebagainya akhirnya dibentuklah koperasi,” jelasnya.
Menurut Judi, adanya pengembangan dengan IPB ini merupakan pertama kali di Indonesia yakni di Desa Ngepung. “Ini juga menjadi pilot project di Indonesia oleh IPB, yang mengembangkan hasil olahan dari daun indiogefera,” terangnya.
Untuk permintaan saat ini, Judi mengaku sampai sekarang pihaknya belum berani mempromosikan diri, pasalnya sampai saat ini ia belum bisa memproduksi banyak. Meski demikian, sampai saat ini sejumlah daerah sudah memesan sebagai salah satu suplemen ternaknya. “Belum promosi, tapi sekarang ini sudah dibanjiri pemesan,” katanya.
Hasil Indigofera tersebut tidak hanya sudah banyak pemesan dari luar daerah, tapi kelompok di Desa Ngepung tersebut sudah dikunjungi berbagai kelompok tani dari luar daerah. Terakhir, beberapa minggu lalu dikunjungi kelompok tani yang berasal dari Cilacap Jawa Tengah.
“Temasuk Jakarta, Solo sudah dengar. Sudah tahu produksi indigofera dan kebanyakan mereka tahu kalau disini sudah memproduksi hingga berton-ton indigofera, padahal masih konsumsi kelompok sendiri,” terangnya.
Tingginya animo permintaan masyarakat tersebut bukannya tanpa alasan, pasalnya tepung dari Indogofera ini sudah diuji oleh IPB mengandung nutrisi yang tinggi. Ia mencontohkan jika tepung tersebut dicampur pakan ayam nantinya akan meningkatkan betakarotin dan rendah lemak. Kemudian jika dikonsumsi pada kambing dan sapi perah bisa menghasilkan susu yang lebih tinggi.
“Di telur meningkatkan vitamin A dan merendahkan kolestrol. Kambing akan meningkatkan bobot. Dan ini sudah diteliti oleh IPB mulai tahun 2007 lalu hingga sampai sekarang,” tegasnya.
Sementara untuk kambing etawa sendiri masih merintis. Karena sampai sekarang anggota kelompoknya tersebut belum menghasilkan susu kambing etawa yang cukup banyak. “Dari lima ekor kambing yang diperah, masih memproduksi 8 liter,” ucapnya.
Jadi belum berani promosi, karena masih kecil dan terus dikembangkan tersebut. Karena sampai saat ini pihaknya akan mengutamakan pakan ternak yang berasal dari hasil indogofera untuk dijadikan produk unggulan selain dari susu kambing etawa. “Pasar sudah mencari, jadi sampai sekarang yang difokuskan disektor pakan,” tambahnya.
Meski demikian, pihaknya mengaku sampai saat ini masih kesulitan dengan bibit dari daun indigofera. “Kami mengembangkan sendiri belum berhasil, terpaksa kami beli dulu,” jelasnya.
Sementara Bupati Probolinggo Hj P Tantriana Sari, SE mengungkapkan dengan adanya pengembangan usaha tersebut harus ada pelatihan khusus bagi peternak. Salah satunya yakni soal pengemasan produk.
“Dengan seperti itu, pengunjung akan tertarik bila mana kemasannya juga menarik, harapan kami ada koordinasi antara peternak dan juga satker terkait agar hal semacam ini terus berkembang,” pungkasnya. (wan/abh)


COMMENTS