Penulis : Dimaz Bromo FM Kamis, 12/11/2015 KRAKSAAN – Kasus tewasnya orok laki-laki di Dusun Ra’ab Desa Bantaran Kecamatan Bantaran...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Kamis, 12/11/2015
Abdul Hamid (50), warga Desa Jatisari Kecamatan Kuripan, disangka melakukan pencabulan terhadap NH (16), warga Dusun Ra’ab Desa Bantaran Kecamatan Bantaran. NH yang masih di bawah umur itu kemudian hamil.
Sabtu (7/11) lalu, NH melahirkan. Bayi yang dilahirkannya disebutkan sudah dalam kondisi meninggal. Tapi, bayi itu diduga disembunyikan oleh Abdul Hamid. Dan seperti diberitakan di beberapa media, jasad orok tersebut diamankan Polsek Bantaran dalam kondisi sudah membusuk.
Kasus ini kemudian diambil alih penanganannya oleh Polres Probolinggo. Enam orang diamankan untuk diperiksa. Mereka Abdul Hamid, NH (korban), MS (dukun bayi), SP dan SK (orang tua NH) dan SI (kakak NH).
Lalu pada Rabu (11/11), unit Perlidungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Probolinggo melakukan gelar kasus tersebut. Selain itu, Polres Probolinggo juga mengirim jasad orok yang dilahirkan NH ke RS Bhayangkara Polda Jatim di Surabaya untuk diotopsi.
Kanit PPA Polres Probolinggo Ipda Listo Utomo mengatakan, otopsi itu untuk memastikan apakah bayi itu meninggal ketika berada dalam kandungan ibunya, atau ada unsur lain yang menyebabkan bayi itu meninggal setelah dilahirkan.
“Kami masih mendalami penyidikan kasus ini, sambil menunggu hasil otopsi bayi di RS Bhayangkara. Sementara ini kami belum bisa memberikan keterangan lebih terkait peranan ke-6 terduga ini,” kata Ipda Listo.
Menurut Ipda Listo, Abdul Hamid memang terindikasi melakukan dua tindak kriminal sekaligus, yaitu pencabulan terhadap gadis di bawah umur, dan menyembunyikan bayi yang meninggal.
“Kasus ini masih terus kami kembangkan, untuk memastikan apakah pelaku juga melakukan pembunuhan terhadap bayi itu atau tidak. Namun sementara ini Hamid, statusnya masih kami tetapkan sebagai tersangka pencabulan,” terangnya.
Dari enam orang yang diperiksa, menurut Ipda Listo, punya peranan masing-masing. Terutama NH, yang merupakan santri Abdul Hamid sendiri. “Diketahui, NH dan Hamid tak ada hubungan (suami-istri) secara resmi,” paparnya.
Sedangkan SK, ibu NH, adalah yang berperan mencari dukun bayi. SP, ayah NH, bertugas menguburkan orok bayi yang telah tidak bernyawa dibantu oleh SI yang merupakan kakak NH. “Sedangkan MS bertugas membantu melahirkan dan memotong tali pusar,” terangnya.
Sementara Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Mobri Cardo Panjaitan mengatakan, pihaknya masih memaksimalkan pemeriksaan pada enam orang itu. “Penyidikan akan dimaksimalkan terlebih dahulu untuk memastikan peranan mereka masing-masing dan menentukan statusnya,” kata AKP Mobri yang saat dikonfirmasi kemarin sedang berada di Surabaya. (maz/abh)


COMMENTS