Penulis : Wawan Bromo FM Minggu, 22/11/2015 GENDING - Masyarakat di pesisir pantai Kabupaten Probolinggo sudah akrab dengan keberad...
Penulis : Wawan Bromo FM
Minggu, 22/11/2015
Sejak tahun 2009 silam, Surawi menggeluti usaha pendederan bandeng di empat petak tambak berukuran 3.000 meter persegi. Bibitnya ia beli dari Singaraja, Bali. Bibit berukuran 1 cm (umur 10 hari) itu harganya Rp 50 ribu per rean (5.000 ekor). Kini ia bisa memasarkan benih bandeng hingga Situbondo.
“Waktu itu saya menebar 150.000 bibit bandeng atau 30.000 rean di satu petak tambak. Setelah berumur 15 hari dengan ukuran 2-3 cm dan 3-5 cm, laku dijual Rp 9,6 juta. Setiap rean dijual harganya Rp 300.000. Setelah dikurangi modal sekitar Rp 3 juta, maka keuntungan bersih mencapai Rp 6,6 juta,” ujarnya.
Hingga kini, suami Dwi Alfiyah ini mengaku, tetap memiliki empat petak tambak. Hanya saja ukurannya tidak sama dan lokasinya berpindah. Memang lokasi tambak masih di Desa Klaseman. Hanya saja ia hanya menggunakan tiga petak dan membiarkan satu petaknya kosong.
“Kemarin saya menebar 300.000 bibit per petak dengan harga bibit mencapai Rp 75.000 per rean. Sehingga untuk 300.000 bibit biayanya mencapai Rp 4,5 juta. Dengan asumsi keberhasilan hidup mencapai 80%, maka harga jualnya mencapai Rp 14,4 juta. Setelah dikurangi biaya modal dan perawatan termasuk pakan, maka keuntungan bersihnya mencapai Rp 10 juta,” jelasnya.
Pria asal Dusun Sumur 2 Desa Klaseman ini menegaskan, pada 2013 lalu, ia sempat gagal. Saat itu ia menebar 100.000 bibit di satu petak tambaknya. Ternyata hanya menghasilkan 4.000 ekor, padahal seharusnya ia bisa menghasilkan 75.000 ekor.
“Waktu itu masuk bulan Agustus, anginnya kencang dan panas. Kondisi itu membuat plankton habis. Kalau hasil panennya normal, saya bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp 2 juta. Tetapi waktu itu saya malah rugi sekitar Rp 1,5 juta. Tetapi dari kegagalan itu, saya bisa belajar memilih waktu tebar dan menghadapi perubahan cuaca,” terangnya.
Pria kelahiran Probolinggo, 6 Agustus 1975 ini mengatakan, budidaya bandeng cukup mudah, tetapi butuh keuletan. Pasalnya bandeng merupakan satwa air yang bandel.
Bandeng relatif tahan terhadap berbagai jenis penyakit yang biasanya menyerang hewan air. Sisi lain sebagian besar budidaya bandeng masih dikelola dengan teknologi sederhana dengan tingkat produktifitas yang relatif rendah.
“Pemeliharaan pendederan bandeng ini juga cukup gampang. Setelah benih ditebar, tinggal diberi pakan 2 kali sehari, pagi dan sore hari. Di samping juga diberi obat perangsang agar bisa tumbuh dengan baik dan hasilnya bagus. Hal lain yang harus diperhatikan adalah ketinggian airnya setidaknya harus mencapai kurang lebih 80 cm,” tegasnya.
Ayah satu putera ini menambahkan, tantangan terberat dalam pendederan badeng ini adalah masalah cuaca. Kalau sudah masuk angin selatan maka hasilnya tidak akan bagus. Pada bulan Juli hingga September, hasil pendederannya tidak akan besar.
“Kalau musim hujan, hasil produksinya akan sangat bagus sekali. Intinya, keberhasilan pendederan bandeng ini tergantung kepada cuaca. Pada kondisi normal, tingkat kehidupan ikan bisa berkisar antara 60% hingga 80% dari awal tebar. Jika ukuran ikannya mencapai 10 cm, maka harganya bisa mencapai Rp 200 hingga Rp 250 per ekor,” tukasnya.
Sementara Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo Hari Pur Sulistiono mengungkapkan, budidaya bandeng di Kabupaten Probolinggo didominasi petambak tradisional. Luas petak tambaknya kurang lebih 1.000 hektar.
“Kalau pada masa-masa budidaya, maka kebutuhan benih akan sangat banyak. Tiap hektarnya membutuhkan sekitar 5.000 ekor benih. Sehingga untuk satu kali musim butuh sekitar 5 juta ekor benih untuk 1.000 hektar tambak,” ujarnya.
Pria kelahiran Tuban, 2 Mei 1974 ini menjelaskan, peluang pengembangan usaha pendederan bandeng potensial untuk dikembangkan. Karena kebutuhan benih bandeng luar biasa. Hal ini selaras dengan program minapolitan dengan komiditas udang dan bandeng.
“Usaha pendederan bandeng ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan benih bandeng. Desa Klaseman merupakan sentra usaha ini, di mana di sini terdapat enam orang yang menggeluti usaha pendederan bandeng. Ini sangat potensi untuk dikembangkan,” jelasnya.
Ipung, demikian biasa disapa menambahkan, usaha pendederan bandeng ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan benih bandeng. Selain itu untuk mensukseskan program minapolitan sehingga produksi bandeng bisa tercapai.
“Program ke depan, kegiatan ini berkembang lagi dan tidak hanya pendederan saja, tetapi bisa menetaskan sendiri di Kabupaten Probolinggo. Dengan demikian mampu memutus distribusi dan hasilnya lebih maksimal,” pungkasnya. (wan/abh)


COMMENTS