Penulis : Dimaz Bromo FM Minggu, 22/11/2015 SUMBER - Secara geografis, Kecamatan Sumber ada di dataran tinggi. Kondisinya hampir sa...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Minggu, 22/11/2015
Secara umum masyarakat Kecamatan Sumber memiliki kesadaran tinggi untuk mendukung pemerintah. Bahkan di bidang apapun. Meski jarak tempuh antar desa jauh, masyarakat Kecamatan Sumber tetap mudah untuk diatur karena kekompakan dan keguyubannya.
Kecamatan Sumber memiliki 9 desa. Yakni Desa Sumber, Ledokombo, Pandansari, Wonokerso, Gemito, Tukul, Cepoko, Ramba’an dan Sumberanom. Meskipun jarak antara kantor setiap desa cukup jauh dari kantor kecamatan, mereka tetap semangat datang dalam setiap acara yang diadakan di kantor kecamatan. Bahkan kepala desa maupun perangkatnya tidak pernah absen.
Perangkat Desa Wonokerso Sudir mengatakan setiap pertemuan yang digelar di kantor kecamatan sifatnya selalu penting. Sebab pasti menyangkut urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat. “Pasti sifatnya penting. Kalau tidak datang, bukan siapa yang rugi. Ya pemerintah desa, ya masyarakat kami,” ujarnya.
Menurut Sudir, pertemuan di kecamatan selalu membahas masalah serius yang harus segera dipecahkan. Sehingga masalah yang muncul bisa selesai tanpa harus berlarut-larut. “Solusi apapun itu, bisa dipecahkan. Kalau malas datang ke kantor kecamatan, desa kami pasti akan semakin tertinggal,” katanya.
Camat Sumber Teguh Prihantoro menyatakan, tingkat kehadiran kepala desa dan perangkat desa di Kecamatan Sumber cukup baik. Karena itu, ia tak mau mengecewakan jajaran pemerintahan di bawahnya itu. Ia selalu berusaha untuk hadir pada rapat-rapat yang digelar baik di kantor kecamatan maupun di kantor desa. “Ada yang bilang, kalau camatnya saja hadir, masak perangkat desa tidak hadir,” ungkapnya.
Dalam pandangan Teguh, kehadiran Camat akan berpengaruh pada antusiasme para aparatur desa dan kadesnya. “Perangkat desa di Kecamatan Sumber itu kompak-kompak. Meski jarak tempuh dari kantor desa dengan kantor kecamatan cukup jauh, mereka selalu hadir di setiap pertemuan,” terangnya.
Meski demikian, pelayanan yang diterapkan di kantor setiap desa di Kecamatan Sumber, maupun di kantor kecamatan, tidak bisa disamakan dengan pelayanan di kecamatan lainnya. Apalagi jika dibandingkan dengan pelayanan di kecamatan yang berada di dataran rendah.
“Pelayanan disini paling efektif hanya berlangsung sekitar sampai pukul 13.00. Setelah itu sudah tidak ada lagi warga yang datang, meski staf kami masih berada di kantor,” ungkapnya.
Kondisi pelayanan tersebut terjadi bukan karena pemerintah kecamatan dan pemerintah membatasi jam layanan. Masyarakat sudah mengukur waktu untuk menuju kantor desa terkait untuk mengurus kebutuhan administrasi. “Biasanya kalau ada keperluan, mereka akan berangkat sangat pagi agar nututi dengan jam ngantor pemerintah kecamatan dan pemerintah desa,” jelasnya.
Hal tersebut jelas dipahami oleh Teguh. Pasalnya kondisi geografis akan sangat menyulitkan masyarakat jika datang terlalu sore. Ia mencontohkan saat pencairan PKH pekan lalu. Masyarakat yang mendapatkan PKH tersebut harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit.
“Warga yang datang ke kantor kecamatan untuk menerima dana PKH harus datang ke sini dengan naik ojek. Mereka harus bayar ojek Rp 60 ribu, itu perjalanan berangkat saja. Berarti untuk ongkos pulang-pergi, mereka harus mengeluarkan uang sebesar Rp 120 ribu. Itu hitungan kalau berangkat dari Desa Wonokerso. Desa lain juga tak kalah mahal,” imbuhnya. (maz/abh)


COMMENTS