Penulis : Wawan Bromo FM Selasa, 03/11/2015 KRAKSAAN – Wilayah Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu daerah di Provinsi Jawa Tim...
Penulis : Wawan Bromo FM
Selasa, 03/11/2015
KRAKSAAN – Wilayah Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu daerah di Provinsi Jawa Timur yang masuk dalam daerah rawan bencana tinggi. Hal itu terlihat dari pemetaan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur.“Kecuali tsunami, semua bencana bisa terjadi di Kabupaten Probolinggo. Tsunami tidak masuk dalam rawan bencana dikarenakan posisi perairan lautnya berada di perairan Selat Madura yang gelombang lautnya tidak terlalu besar,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi.
Menurut Joko, penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Sehingga begitu terjadi bencana bisa langsung melakukan penanganan dan tidak menunggu dari pemerintah pusat. “Artinya, pemerintah daerah harus bisa menangani sendiri jika ada bencana,” jelasnya.
Mantan Camat Bantaran ini menerangkan, dulu bencana itu oleh masyarakat dianggap semata-mata sebagai takdir dan musibah. Karena paradigma itulah, maka tidak ada persiapan ketika akan terjadi bencana. Padahal bencana itu bisa dihindari, diadaptasi dan diantisipasi.
“Paradigma lama ketika ada bencana diberi bantuan sembako sudah mulai kita hilangkan. Karena yang mempunyai tugas memberikan sembako adalah Dinas Sosial. BPBD itu tugasnya persiapan bagaimana menghindari bencana dengan cara menyusun peta bencana dan rencana aksi penanggulangan bencana. Semua itu untuk mengantisipasi terjadinya bencana,” terangnya.
Untuk mengantisipasi terjadinya bencananya tersebut, jelas Joko, maka BPBD membuat Rencana Kontijensi (Renkon) setiap bencana. Kabupaten Probolinggo sendiri rawan terhadap bencana longsor, banjir dan erupsi.
“Bencana ini terjadi hampir setiap tahun, sehingga kadang muncul sebuah pertanyaan bencana kok musiman. Inilah yang menjadi tugas BPBD untuk mengkoordinir supaya bencana itu tidak terulang. Tetapi memang bencana alam itu ada siklusnya seperti gunung Bromo antara 5 hingga 6 tahun sekali erupsi,” tegasnya.
Tetapi dalam penanganan bencana, terang Joko, pihaknya juga tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal bagaimana supaya saat terjadinya bencana tidak ada korban jiwa. (wan/abh)


COMMENTS