Penulis : Wawan Bromo FM Minggu, 01/11/2015 TONGAS – Luas lahan kritis di Kabupaten Probolinggo hingga saat ini masih sangat tinggi. ...
Penulis : Wawan Bromo FM
Minggu, 01/11/2015
“Namun jika lahan kritis dikelola dengan baik, tentunya akan memberikan peluang dan tantangan untuk meningkatkan pendapatan,” ujar Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo Raharjo.
Dikatakan Raharjo, kondisi desa miskin/desa rawan pangan pada umumnya karena potensi desa yang dimiliki berupa lahan kritis/marginal. “Untuk merubah desa miskin/desa rawan pangan menjadi desa mandiri pangan, solusinya adalah bagaimana potensi yang berupa lahan kritis/marginal tersebut bisa dikelola dengan baik dan dapat menjadi usaha produktif,” jelasnya.
Menurut Raharjo, salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan lahan kritis tersebut adalah dengan membudidayakan tanaman buah naga. Sebab buah naga ini tidak membutuhkan lahan subur, di lahan marginal pun dapat tumbuh dengan baik. Seperti tanaman buah naga di lahan seluas 0,760 hektar di Desa Wringinanom Kecamatan Tongas.
“Melihat perkembangannya bahwa berdasarkan analisa usaha sangat menguntungkan sehingga dimungkinkan untuk dikembangkan di daerah desa rawan pangan seperti di wilayah Kecamatan Tongas, Wonomerto, Kuripan, Kotaanyar, Tegalsiwalan dan Leces,” terangnya.
Raharjo menambahkan, terjadinya lahan kritis banyak diakibatkan ulah manusia sendiri. Seperti pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan segi konservasi, sumber lahan dengan kelerengan terjal masih ditanami tanaman sayur-sayuran, penebangan liar (illegal loging), pencemaran dan dipicu dengan isu pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim yang ekstrem. (wan/abh)


COMMENTS