Penulis : Wawan Bromo FM Sabtu, 21/11/2015 SUMBERASIH – Pengolahan rajungan ternyata mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan meni...
Penulis : Wawan Bromo FM
Sabtu, 21/11/2015
SUMBERASIH – Pengolahan rajungan ternyata mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Oleh karenanya, banyak nelayan maupun istri nelayan yang menggeluti usaha pengolahan rajungan. Seperti yang dilakukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) ”Primadona” Desa Banjarsari Kecamatan Sumberasih.Sejak tahun 2007 lalu, KUB Primadona mulai menggeluti usaha pengolahan rajungan dengan memaksimalkan para istri nelayan setempat. Hingga saat ini anggotanya sudah mencapai 25 orang.
Kelompok ini merupakan pemasok daging rajungan ke beberapa perusahaan besar di dalam maupun luar Jawa Timur. Dari tahun ke tahun, usaha pengolahan rajungan ini terus mengalami perkembangan. Bahkan bisa dikatakan saat ini perkembangannya sangat pesat.
”Untuk memulai usaha ini, kami terpaksa utang sebesar Rp 300 ribu sebagai modal. Alhamdulillah, setelah dijual ada keuntungan meskipun sedikit. Kalau tidak salah keuntungannya sebesar Rp 50 ribu,” ujar Ketua KUB Primadona Dundik Budi Wahyu.
Menurut Wahyu, mengolah rajungan adalah memisahkan seluruh bagian daging rajungan dari cangkangnya. Setelah itu daging dicuci dengan air tawar dan dikukus dengan menggunakan dandang khusus.
”Pengukusan dilakukan dengan cara mendidihkan air dari dasar dandang. Setelah air mendidih, tutup dandang dibuka untuk mengurangi uap air. Selanjutnya rajungan dimasukkan ke dalamnya dan dandang ditutup kembali. Daging rajungan dikukus selama 30 menit hingga matang. Setelah itu dilakukan pendinginan sebagai persiapan untuk dikupas,” jelasnya.
Wahyu menjelaskan, setelah semua proses dilakukan daging ditempatkan di dalam toples atau plastik. Selanjutnya toples tersebut ditempatkan ke dalam styrofoam (blung) yang berisi hancuran es untuk selanjutnya dikirim ke pabrik pengalengan rajungan.
”Untuk satu kuintal rajungan besar mampu menghasilkan 25 kilogram (kg) daging rajungan dengan penjualan Rp 5 juta. ”Usaha pengolahan rajungan ini merupakan salah satu usaha produktif sebagai upaya meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelasnya.
Dalam memproduksi daging rajungan ini, jelas Wahyu, selain dari nelayan lokal pihaknya mendapatkan bahan baku dari Sumbawa, Jember, Banyuwangi dan Situbondo. ”Setiap harinya kami mampu mengirim daging rajungan minimal 1 kuintal, tergantung dari ketersediaan bahan baku,” pungkasnya. (wan/abh)


COMMENTS