Penulis : Dimaz Bromo FM Kamis, 19/11/2015 KRAKSAAN - Puluhan warga dari Dusun Masjid Desa Sidopekso Kecamatan Kraksaan nyaris ricu...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Kamis, 19/11/2015
Warga tersulut emosi lantaran keluarga dua warga Muksin (35) dan Sukriono (50) sakit. Tidak hanya itu, beberapa orang warga lainnya di dusun tersebut sakit diduga telah disantet Marzuki. Namun, hal itu hanyalah dugaan belaka yang belum diketahui kejelasannya.
Untuk menghindari amarah warga, akhirnya Forkopimka Kraksaan mengambil langkah dengan memediasi antara tertuduh dan penuduh. Agar supaya kedua bersangkutan tidak meneruskan masalah yang sudah terjadi.
Marzuki, selaku tertuduh mengaku kalau dirinya selama ini belum pernah melakukan apa yang dituduhkan warga terhadap dirinya. Bahkan, seumur hidupnya kata Marzuki, tidak pernah mempunyai ilmu santet dan tidak merasa merugikan tetangganya menggunakan santet.
“Jika ada anggota keluarganya yang meninggal, mereka menuduh saya. Sapinya mati juga menuduh saya. Padahal sapi saya semalem juga mati, tapi saya tidak menuduh tetangga. Keluarganya sakit dikira saya yang menyantetnya. Tidak kuat juga saya hidup kalau begini terus,” aku Marzuki, kepada sejumlah wartawan di Balai Desa Sidopekso.
Sedangkan Muksin, selaku penuduh mengaku kalau Marzuki, memang mempunyai ilmu santet. Dan warga merasa resah, sebab setiap kali ada yang sakit setelah diperiksa ke dokter, dokter mengatakan tidak ada penyakitnya.
“Setiap ada yang sakit, diperiksa ke dokter katanya tidak ada penyakitnya. Setelah kami pergi ke dukun, setiap kali ada yang sakit dan beberapa dukun itu ucapannya sama, kalau sakitnya warga itu karena santet. Warga memang telah mencurigai satu orang itu,” katanya.
Untuk menciptakan kedamaian antara kedua belah pihak, akhirnya pihak Forkopimka membantu Fitri, putri dari Sukriono yang saat ini sakit dan akan dilakukan perawatan medis di RSUD Waluyo Jati Kraksaan.
Camat Kraksaan Sugeng Wiyanto mengatakan pihaknya telah berusaha melakukan mediasi terhadap yang bersangkutan. Tuduhan-tuduhan itu sebenarnya abstrak. Pihak Forkopimka tidak berani memvonis siapa yang salah. Karena tuduhannya hanya santet.
“Kami hanya bisa melakukan mediasi saja agar yang bersangkutan damai, tidak ada rasa dendam. Dan kami akan membantu fitri, yang sedang sakit untuk dilakukan pengobatan dan perawatan di rumah sakit,” tandasnya.
Setelah dilakukan mediasi oleh kepala desa dan Forkopimka Kraksaan, akhirnya kedua belah pihak antara tertuduh dan penuduh satu persatu meninggalkan balai desa dan kembali ke rumahnya masing-masing. (maz/abh)


COMMENTS