Penulis : Dimaz Bromo FM Minggu, 08/11/2015 SUMBERASIH - Desa Laweyan Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo memiliki produk ...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Minggu, 08/11/2015
Pusat pembuatan kerajinan anyaman bambu di Desa Laweyan Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo tidak terlalu sulit dicari. Lokasinya tidak jauh dari Pasar Muneng.
Di lokasi tersebut, ada sebuah bangunan yang sengaja dijadikan galeri. Di tempat itu segala rupa produk anyaman bambu dipajang untuk dijual. Di galeri itu terdapat puluhan jenis hasil anyaman bambu. Mulai dari lampu hias, tutup makanan, songkok dan lain sebagainya. Bahkan di depan galeri tersebut, terdapat dua gazebo yang siap dijual dengan harga yang terjangkau.
Berbagai produk kerajinan dari anyaman bambu itu ditekuni oleh paguyuban pengrajin yang dipimpin Syaiful Haq. Usaha ini mulai bergerak pada 9 April 2013. Tapi, perjalanannya tidak mudah.
Syaiful Haq yang merupakan pendiri usaha ini menuturkan, awal mendirikan paguyuban sempat mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah. Itu karena modal yang dipinjamkan kepada para pengrajin tidak kembali. “Tidak masalah, karena yang paling penting adalah merubah pola usaha mereka dan lepas dari bank titil,” katanya.
Sebelumnya tutur Syaiful, banyak pengrajin anyaman bambu ini menerima orderan tapi justru menambah utang. “Biasanya kalau mendapat order jelas akan untung yang didapat. Nah ini tidak. Justru mereka nambah utang,” jelasnya.
Mereka jadi nambah utang karena pemasaran produk anyaman bambu masih bergantung para tengkulak. Di sisi lain, produk itu dihargai rendah dan tidak sebanding dengan pengerjaannya.
Karena kondisi itulah, akhirnya ia mencoba mendatangi para perajin sebanyak 60 orang dan berembug dengan mereka. “Terbentuklah paguyuban, terdiri dari 60 orang yang terbagi menjadi 6 kelompok,” terangnya.
Kepada masing-masing kelompok inilah Syaiful memberikan bantuan modal Rp 2 juta. Modal itu diberikan tanpa agunan dan tanpa bunga pula. “Dan Alhamdulillah sampai sekarang berjalan dengan lancar,” tambahnya.
Melalui paguyuban, mereka juga memecahkan masalah pemasaran. Tidak lagi tergantung pada tengkulak. Kini hasilnya sudah bisa dirasakan. “Setiap anggota kelompok perharinya bisa mendapatkan Rp 30 ribu sampai Rp 35 perhari. Sebelumnya mereka hanya Rp 17 ribu sampai Rp 20 ribu perhari,” ungkapnya.
Tidak sampai disana, Syaiful yang juga pernah bekerja di media itu juga menanggung bahan baku dari perajin. “Semua bahan baku mereka ambil dari saya. Karena prinsipnya mereka hanya mengerjakan. Selesai mengerjakan, kami bayar. Bergantung pada hasil kerjakan mereka. Karena masing-masing item sudah ada harganya,” akunya.
Kerajinan ini sudah menghasilkan banyak produk. Keberagaman jenis produk anyaman itu bisa dihasilkan berkat pelatihan. Sebelum mereka menghasilkan produk tersebut, Syaiful mendatangkan pelatih dari berbagai daerah di tanah air. Seperti dari Banyuwangi dan Jogjakarta. “Dari pelatihan itu mereka bisa berkreasi,” jelasnya.
Dari produk tersebut, pemasarannya saat ini tidak hanya beredar di daerah di Jawa Timur. Produk dari Laweyan ini sudah tembus hingga ke Qatar, Arab Saudi, Brunei Darussalam dan sejumlah negara tetangga lainnya. Tak ayal, dari modal yang tak banyak saat itu, Syaiful bisa meraih omzet hingga Rp 30 juta lebih per bulan. “Kalau labanya 30 sampai 40 persen dari omzet,” ucapnya.
Meski demikian, ada beberapa kendala yang dihadapi oleh Syaiful. Salah satu kendalanya yakni ketersediaan bahan baku di Kabupaten Probolinggo. “Karena bahan bakunya tidak banyak seperti dulu. Sekarang ini saya ambil bahan baku dari Jogjakarta,” tandasnya.
Walau masih ada kendala, produk kerajinan anyaman bambu ini sudah mampu menjadi ikon kerajinan di Kecamatan Sumberasih. Selain itu, galeri yang berada di depan rumah Syaiful juga menjadi wahana wisata edukasi bagi pelajar sekolah sekitar. Di galeri itu para pelajar bisa belajar secara langsung menganyam bambu. (maz/abh)


COMMENTS