Penulis : Wawan Bromo FM Rabu, 04/11/2015 KURIPAN - Kejadian keracunan terhadap 38 siswa di SDN Jatisari 1 Kecamatan Kuripan akhirnya...
Penulis : Wawan Bromo FM
Rabu, 04/11/2015
KURIPAN - Kejadian keracunan terhadap 38 siswa di SDN Jatisari 1 Kecamatan Kuripan akhirnya direspon serius oleh Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE. Bahkan, orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo ini mendatangi langsung sekolah tersebut, Rabu (4/11).
Dalam kunjungannya tersebut, Bupati Tantri yang didampingi Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Tutug Edi Utomo, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) dr. Shodiq Tjahjono, Camat Kuripan Parjono dan sejumlah pejabat ini meminta kepada sekolah di seluruh Kabupaten Probolinggo untuk mendirikan kantin sekolah. Hal itu dilakukan agar lebih memudahkan pengawasan dan pembinaan terhadap pedagang jajanan sekolah.
Tidak hanya jelas Bupati Tantri, saat ini Pemkab Probolinggo telah membentuk tim khusus untuk menangani permasalahan ini. “Pemkab membentuk tim khusus antara Dispendik dan Dinkes untuk mengarahkan semua sekolah di Kabupaten Probolinggo mendirikan kantin sekolah,” katanya.
Bupati Tantri menambahkan setelah terbentuk nantinya, kantin tersebut akan diisi oleh pedagang yang terbiasa jualan di masing-masing sekolah. “Dengan adanya kantin sekolah, maka pihak sekolah mudah dalam melakukan pengawasan dan pembinaan. Dinkes juga mudah untuk mengawasi setiap makanan yang dikonsumsi murid-murid,” ujarnya.
Terkait dengan pelaku penjual roti bakar yang mengakibatkan 38 siswa mengalami keracunan tersebut, Bupati Tantri mengaku sampai sekarang belum menerima laporan dari pihak kepolisian.
“Sampai saat ini belum menerima laporan dari kepolisian, apakah pedagang roti bakar sudah ditemukan atau belum. Tapi menurut saya, alangkah baiknya pedagang tersebut datang ke sekolah dan meminta maaf. Saya tidak ingin memutus mata pencaharian pedagang,” tandasnya.
Sementara Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo mengatakan sesuai dengan intruksi dari Bupati Probolinggo, ada beberapa tahap yang harus dilakukan. Pertama, perlu dari internal sekolah seperti dewan guru dan penjaga sekolah untuk mendata setiap pedagang yang berada di sekolahnya.
“Di sisi lain dari pedagang mau ikut bertanggung jawab dengan apa saja yang dijualnya. Artinya dengan seperti itu, dari sekolah bisa lebih mudah mengontrol dan mengawasi jajanan di sekolahnya,” ujarnya.
Kemudian secara bertahap nantinya di setiap sekolah diupayakan ada kantin sekolah. “Ibu (Bupati,red) berharapnya seperti pujasera begitu. Dengan seperti itu, pedagang yang berjualan tidak pindah-pindah lagi. Artinya dari sekolah juga sudah paham dan mudah untuk mengawasi makanan. Disisi lain, nanti dari Dinas Kesehatan secara bertahap akan memberikan sosialisasi kepada pedagang tentang jajanan sehat,” katanya.
Mantan Kabag Kominfo ini berharap, secepatnya pembentukan kantin sekolah tersebut bisa diterapkan di semua sekolah di Kabupaten Probolinggo. “Jadi tidak hanya di SDN Jatisari 1 saja, tapi sifatnya menyeluruh,” tandasnya.
Kedatangan Bupati Tantri ini dilakukan menyusul kejadian sejumlah murid SDN Jatisari 1 yang mengalami gejala keracunan. Diduga, mereka mengalami pusing kepala, perut mual bahkan beberapa sampai muntah setelah makan roti bakar yang dijual seorang pedagang di sekolahnya.
Para pelajar yang mengalami gejala keracunan itu kemudian dirawat di Puskesmas Kuripan dan Bantaran. Mereka yang kondisinya parah, dirujuk ke RSUD Tongas dan RSUD dr. Moch. Saleh Kota Probolinggo. (wan/abh)
KURIPAN - Kejadian keracunan terhadap 38 siswa di SDN Jatisari 1 Kecamatan Kuripan akhirnya direspon serius oleh Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE. Bahkan, orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo ini mendatangi langsung sekolah tersebut, Rabu (4/11).Dalam kunjungannya tersebut, Bupati Tantri yang didampingi Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Tutug Edi Utomo, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) dr. Shodiq Tjahjono, Camat Kuripan Parjono dan sejumlah pejabat ini meminta kepada sekolah di seluruh Kabupaten Probolinggo untuk mendirikan kantin sekolah. Hal itu dilakukan agar lebih memudahkan pengawasan dan pembinaan terhadap pedagang jajanan sekolah.
Tidak hanya jelas Bupati Tantri, saat ini Pemkab Probolinggo telah membentuk tim khusus untuk menangani permasalahan ini. “Pemkab membentuk tim khusus antara Dispendik dan Dinkes untuk mengarahkan semua sekolah di Kabupaten Probolinggo mendirikan kantin sekolah,” katanya.
Bupati Tantri menambahkan setelah terbentuk nantinya, kantin tersebut akan diisi oleh pedagang yang terbiasa jualan di masing-masing sekolah. “Dengan adanya kantin sekolah, maka pihak sekolah mudah dalam melakukan pengawasan dan pembinaan. Dinkes juga mudah untuk mengawasi setiap makanan yang dikonsumsi murid-murid,” ujarnya.
Terkait dengan pelaku penjual roti bakar yang mengakibatkan 38 siswa mengalami keracunan tersebut, Bupati Tantri mengaku sampai sekarang belum menerima laporan dari pihak kepolisian.
“Sampai saat ini belum menerima laporan dari kepolisian, apakah pedagang roti bakar sudah ditemukan atau belum. Tapi menurut saya, alangkah baiknya pedagang tersebut datang ke sekolah dan meminta maaf. Saya tidak ingin memutus mata pencaharian pedagang,” tandasnya.
Sementara Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo mengatakan sesuai dengan intruksi dari Bupati Probolinggo, ada beberapa tahap yang harus dilakukan. Pertama, perlu dari internal sekolah seperti dewan guru dan penjaga sekolah untuk mendata setiap pedagang yang berada di sekolahnya.
“Di sisi lain dari pedagang mau ikut bertanggung jawab dengan apa saja yang dijualnya. Artinya dengan seperti itu, dari sekolah bisa lebih mudah mengontrol dan mengawasi jajanan di sekolahnya,” ujarnya.
Kemudian secara bertahap nantinya di setiap sekolah diupayakan ada kantin sekolah. “Ibu (Bupati,red) berharapnya seperti pujasera begitu. Dengan seperti itu, pedagang yang berjualan tidak pindah-pindah lagi. Artinya dari sekolah juga sudah paham dan mudah untuk mengawasi makanan. Disisi lain, nanti dari Dinas Kesehatan secara bertahap akan memberikan sosialisasi kepada pedagang tentang jajanan sehat,” katanya.
Mantan Kabag Kominfo ini berharap, secepatnya pembentukan kantin sekolah tersebut bisa diterapkan di semua sekolah di Kabupaten Probolinggo. “Jadi tidak hanya di SDN Jatisari 1 saja, tapi sifatnya menyeluruh,” tandasnya.
Kedatangan Bupati Tantri ini dilakukan menyusul kejadian sejumlah murid SDN Jatisari 1 yang mengalami gejala keracunan. Diduga, mereka mengalami pusing kepala, perut mual bahkan beberapa sampai muntah setelah makan roti bakar yang dijual seorang pedagang di sekolahnya.
Para pelajar yang mengalami gejala keracunan itu kemudian dirawat di Puskesmas Kuripan dan Bantaran. Mereka yang kondisinya parah, dirujuk ke RSUD Tongas dan RSUD dr. Moch. Saleh Kota Probolinggo. (wan/abh)


COMMENTS