Penulis : Wawan Bromo FM Kamis, 19/11/2015 TIRIS – Bidan Desa Segaran Kecamatan Tiris Irine Indrawati mengakui, tugas seorang bidan...
Penulis : Wawan Bromo FM
Kamis, 19/11/2015
TIRIS – Bidan Desa Segaran Kecamatan Tiris Irine Indrawati mengakui, tugas seorang bidan sangat banyak. Seperti melaksanakan asuhan kebidanan kepada ibu hamil (antenatal care), melakukan asuhan persalinan fisiologis kepada ibu bersalin dan menyelenggarakan pelayanan terhadap bayi baru lahir atau kunjungan (neonatal care).
“Bidan harus menjalin kemitraan dengan dukun bersalin di wilayah kerjanya dan memberikan edukasi melalui penyuluhan kesehatan reproduksi dan kebidanan termasuk gizi. Bidan juga membuka layanan KB kepada wanita usia subur, melakukan pelacakan dan pelayanan rujukan kepada bumil risiko tinggi. Selain itu bidan mengupayakan diskusi AMP bila ada kasus kematian ibu atau bayi serta melaksanakan pencatatan dan pelaporan terpadu,” ungkap istri Syaiful Andy ini.
Perempuan kelahiran Jember, 10 Pebruari 1979 ini mengungkapkan ada kunci menjadi bidan sukses. Yakni, bidan harus sabar, tulus, ikhlas, telaten melayani dan melaksanakan tugas dari berbagai macam watak masyarakat, tingkat pendidikan dan budaya yang berbeda.
“Ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika bisa membantu pasien dan bisa memberikan kepuasan kepada mereka yang menjalani proses persalinan dengan lancar,” jelas alumnus Bidan Pendidik Stikes Hafshawaty Zainul Hasan Genggong ini.
Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Sarimin dan Sugiartini mengaku, ada suka dan duka selama melaksanakan tugas. Terutama ketika bertemu kasus-kasus yang harus dirujuk dan keluarga menolak untuk dirujuk. Itulah perjuangan bidan yang harus menguras otak.
“Bahkan terkadang karena medan yang sulit dan masih ada persalinan di rumah pasien (bidan panggilan, red). Jadi kita harus meninggalkan keluarga dan anak di rumah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” pungkas perempuan yang hobi belanja ini. (wan/abh)
“Bidan harus menjalin kemitraan dengan dukun bersalin di wilayah kerjanya dan memberikan edukasi melalui penyuluhan kesehatan reproduksi dan kebidanan termasuk gizi. Bidan juga membuka layanan KB kepada wanita usia subur, melakukan pelacakan dan pelayanan rujukan kepada bumil risiko tinggi. Selain itu bidan mengupayakan diskusi AMP bila ada kasus kematian ibu atau bayi serta melaksanakan pencatatan dan pelaporan terpadu,” ungkap istri Syaiful Andy ini.
Perempuan kelahiran Jember, 10 Pebruari 1979 ini mengungkapkan ada kunci menjadi bidan sukses. Yakni, bidan harus sabar, tulus, ikhlas, telaten melayani dan melaksanakan tugas dari berbagai macam watak masyarakat, tingkat pendidikan dan budaya yang berbeda.
“Ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika bisa membantu pasien dan bisa memberikan kepuasan kepada mereka yang menjalani proses persalinan dengan lancar,” jelas alumnus Bidan Pendidik Stikes Hafshawaty Zainul Hasan Genggong ini.
Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Sarimin dan Sugiartini mengaku, ada suka dan duka selama melaksanakan tugas. Terutama ketika bertemu kasus-kasus yang harus dirujuk dan keluarga menolak untuk dirujuk. Itulah perjuangan bidan yang harus menguras otak.
“Bahkan terkadang karena medan yang sulit dan masih ada persalinan di rumah pasien (bidan panggilan, red). Jadi kita harus meninggalkan keluarga dan anak di rumah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” pungkas perempuan yang hobi belanja ini. (wan/abh)



COMMENTS