Penulis : Wawan Bromo FM Senin, 19/10/2015 GENDING - Kejadian musibah Mina yang mewafatkan 14 jamaah haji asal Kabupaten Probolinggo ...
Penulis : Wawan Bromo FM
Senin, 19/10/2015
Senin, 19/10/2015
Ditemui saat kedatangan jamaah haji Minggu (18/10) malam, jamaah asal Kecamatan Krejengan itu menyebutkan jamaah haji asal Indonesia terjadwal dalam perjalanan terowongan nomor 23 dan 24. Dalam terowongan itu bersamaan dengan jamaah asal Afrika, Iran dan Irak. Setelah sampai pada pertengahan jalan, tiba-tiba terowongan ditutup oleh petugas keamanan tanpa alasan yang jelas.
Pada saat itu jamaah yang dibelakang jamaah asal Indonesia pun berbondong masuk pada terowongan yang menjadi jalan menuju lempar jumroh itu. Karena jalan ditutup, maka jamaah menjadi berdesakan hingga mengakibatkan saling injak sebagai upaya untuk saling mempertahankan hidup masing-masing jamaah.
“Kalau ada informasi tentang adanya kesalahan jalur yang dilewati, kami sangat meyakini itu informasi yang tidak benar,” ungkap lelaki yang juga Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Safara itu.
Syaiful juga menyampaikan alasan logis soal adanya informasi kesalahan jalur itu tidak benar. Sebab, ada sekitar 785 jamaah asal Indonesia yang menjadi korban atas musibah Mina. Dengan banyaknya jumlah korban jiwa, sangat tidak dimungkinkan adanya kesalahan jalur. “Masak semua korban yang wafat itu semuanya salah jalur,” tegasnya.
Meski pun tidak menjadi korban yang diinjak pada saat musibah berlangsung, Syaiful mengaku berada di tengah kerumunan jamaah yang menjadi korban. Banyak diantara para jamaah yang ia kenal itu memegang pundaknya agar kuat berdiri. “Saya hanya mampu menolong jamaah semampunya, karena semuanya secara tiba-tiba,” terangnya.
Selain soal adanya penutupan jalur tanpa adanya pemberitahuan, ia juga mengaku perlunya aspek pemahaman tentang penyelenggaraan ibadah haji dipahami oleh para calon jamaah yang ingin berangkat.
“Jutaan orang mengharuskan para calon jamaah harus memahami rukun dan sunah serta wajib haji. Kalau bimbingan hanya 3 bulan jelang keberangkatan, saya rasa masih kurang. Akan lebih baik jika satu tahun sebelum keberangkatan sudah dilakukan bimbingan manasik agar jamaah begitu sampai di Mekah dan madinah sudah siap menyelenggarakan ibadah haji,,” tambahnya.
Sementara anggota Komisi VIII DPR RI Drs H Hasan Aminuddin, M.Si yang menyambut kedatangan para tamu Allah memberikan respons atas kesaksiaan sekaligus korban Mina. “Kesaksian para korban menjadi sangat penting agar kami bisa memberikan masukan kepada Menteri Agama,” katanya.
Apalagi jumlah jamaah haji asal Indonesia setiap tahun terus bertambah. Butuh kesiapan bagi Dirjen Penyelenggaran Ibadah Haji dan Umrah untuk menyiapkan segalanya agar kendala teknis yang terjadi selama penyelenggaraan ibadah haji pada tahun ini tidak terulanng.
“Nanti saat rapat bersama Kementerian Agama RI, aspirasi para jamaah akan kami sampaikan untuk segera diperbaiki pada penyelenggaraan tahun depan,” pungkasnya. (wan/abh)


COMMENTS