Penulis : Dimaz Bromo FM Kamis , 08/10/2015 KRAKSAAN - Imbas penghentian penambangan pasir Lumajang juga dirasakan para penggarap pro...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Kamis , 08/10/2015
Hal itu diakui salah satunya oleh Rusdy, mandor di sebuah developer perumahan di Kebonagung, Kota Kraksaan. Dia mengaku sulit mendapatkan pasir Lumajang setelah kasus pembunuhan Salim Kancil di Lumajang mencuat. “Otomatis sejak itu tidak ada suplai pasir lagi dari Lumajang, karena dilarang,” ungkapnya.
Namun, Rusdy menyiasatinya dengan memaksimalkan stok pasir Lumajang yang masih dimiliki. Yaitu mencampurnya dengan pasir lokal. “Tentu secara kualitas berkurang. Namun kami tambahkan rasio campuran bahan bangunan yang lainnya ke dalam adonan agar lebih kuat,” ujarnya.
Jika sebelumnya rasio pencampuran bahan bangunan 1:2:3, atau 1 timba semen dicampur 2 timba koral dan 3 timba pasir. “Sejak langkanya pasir Lumajang rasio tersebut dirubah menjadi 2:3:4 atau 2 timba semen dicampur 3 timba koral dan 4 timba pasir oplosan,” katanya.
Rusdy mengatakan, bahwa keberadaan pasir Lumajang saat ini bukan lagi langka, tapi sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada, harganya melambung dibanding harga normalnya. Itupun merupakan stok lama yang kebetulan dimiliki oleh beberapa agen pasir Lumajang. “Biasanya satu kubik harganya Rp 150 ribu. Sekarang naik jadi Rp 250 ribu,” sebutnya.
Dia sendiri mengaku mendapatkan stok pasir Lumajang dari Ketapang. Pasir itu kemudian dia oplos dengan pasir lokal asal Randumerak, Blado dan Banyuanyar. Rusdy pun harus menurunkan tenaga dan biaya ekstra untuk untuk bisa mendapatkan pasir yang dibutuhkannya. “Saya turunkan sampai enam orang untuk memastikan stok pasir tetap ada,” jelasnya.
Dalam pembangunan perumahan yang sedang digarapnya, Rusdy mengaku sangat membutuhkan pasir, selain semen dan koral. Terutama pada pembuatan cor slup, kolom, tembok dan lantai bangunan. “Kalau tidak pakai pasir, mau pakai apa lagi,” tegasnya.
Dampak serupa dirasakan Maksum, salah seorang pemilik toko bangunan Dringu. Dia mengungkapkan bahwa banyak calon pembelinya yang harus kembali karena tidak tersedia pasir Lumajang. (maz/abh)


COMMENTS