Penulis : Wawan Bromo FM Kamis, 15 Oktober 2015 KRAKSAAN - Pihak sekolah dan orang tua sebaiknya waspada dengan pola makan anak ke...
Penulis : Wawan Bromo FM
Kamis, 15 Oktober 2015
Dalam setahun sekali, Dinkes mengambil sampel jajanan sekolah yang dijual di berbagai sekolah di Kabupaten Probolinggo. Sampel tersebut diambil dari berbagai jenis makanan yang dijual di sekolah.
“Hasilnya, ditemukan jajanan sekolah yang menggunakan zat yang berbahaya. Hasil ini kami dapatkan dari uji pangan,” ungkap Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr Shodiq Tjahjono melalui Kabid Pelayanan Kesehatan dr Sri Wahyuni Dyah Martiningsih.
Menurutnya, uji pangan dapat menginformasikan berapa banyak makanan yang mengandung bahan berlebihan serta kandungan yang semestinya tidak digunakan pada makanan. Uji pangan ini dilakukan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya.
“Berdasarkan uji pangan ini, banyak makanan yang mengandung boraks, formalin, siklamat, bakteri air, bakteri makanan dan benzoat,” jelasnya.
Dampak negatif dari jajanan yang mengandung zat berbahaya, biasanya muncul setelah bertahun-tahun. Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa memicu pertumbuhan kanker. “Kami temukan beberapa makanan yang mengandung zat berbahaya, seperti kerupuk, sosis dan sejumlah jenis makanan lainnya,” ungkapnya.
Selama ini kata Dyah, mayoritas penjual jajanan untuk siswa memang belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai makanan yang aman dan sehat. Akibatnya, siswa menjadi korban dari jajanan yang berwarna mencolok dan keamanan yang belum terjamin. “Untuk menekan jumlah jajanan berbahaya yang beredar, sekolah perlu dibina supaya bisa mengetahui makanan yang sehat,” terangnya.
Hal lain adalah peran serta orang tua yang cukup penting bagi anak. Salah satunya orang tua harus membiasakan anak sekolah untuk sarapan di rumah. Sehingga bisa menekan belanja anak di sekolah. “Alangkah baiknya juga bila orang tua memberikan bekal makanan dari rumah,” tambahnya.
Bila tidak membekali makanan dari rumah, hal lain yang perlu diketahui dengan melihat kemasan makanan. “Biasakan membaca label yang lengkap, tanggal kadaluwarsanya kapan. Masalah ini jarang sekali diperhatikan,” pungkasnya. (wan/abh)


COMMENTS