Penulis : Wawan Bromo FM Selasa, 27/10/2015 KRAKSAAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat ...
Penulis : Wawan Bromo FM
Selasa, 27/10/2015
Selasa, 27/10/2015
KRAKSAAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) bekerja sama dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan menggelar Semarak Hari Santri Nusantara di Alun-alun Kota Kraksaan, Senin (26/10) malam.
Kegiatan yang mengambil tema “Kita Perkokoh Ukhuwah Islamiyah” ini disemarakkan dengan beragam kreasi seni dan budaya yang ditampilkan oleh para santri dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Probolinggo.
Semarak Hari Santri Nusantara ini dihadiri oleh Wakil Bupati Probolinggo Drs. HA. Timbul Prihanjoko, Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si dan sejumlah Kepala SKPD di lingkungan Pemkab Probolinggo. Hadir pula KH Malik Sanusi dari Bondowoso serta sejumlah tokoh agama di Kabupaten Probolinggo.
Dalam sambutannya H. Hasan Aminuddin, M.Si mengatakan saat ini sudah banyak masyarakat yang lupa dengan seni dan budayanya sendiri karena banyaknya media sosial. Otak manusia sudah lupa kepada sejarah apapun atau dibuat lupa tentang masuknya Islam ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Islam masuk ke Indonesia ini dengan santun dan menyejukkan melalui seni dan budaya, bukan dengan peperangan. Tetapi karena pergeseran zaman dan pengaruh budaya di luar Islam, akhirnya banyak yang lupa dengan seni budaya asli milik Indonesia, terutama NU,” ujarnya.
Kepada para santri anggota Komisi VIII DPR RI ini menyampaikan pesan moral agar senantiasa berpegang teguh pada kesantrian tatkala sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. “Amalkan kecerdasan intelektual dan emosional yang kalian peroleh dengan akhlak atau kesalehan sosial sebagai modal terjun di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya.
Mantan Bupati Probolinggo ini menegaskan pergeseran zaman dan ancaman terhadap NKRI saat ini bukan lagi ancaman fisik dan penjajahan. Tetapi ancaman terhadap para generasi muda adalah diracuni dengan budaya dan obat-obatan untuk menghancurkan masa depannya. “Siapapun yang menjadi orang tua, ada ketakutan manakala tidak memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren,” tegasnya.
Sejalan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN), suami Bupati Probolinggo ini juga meminta kepada para pengasuh pondok pesantren untuk merubah mindset dan manajemen yang ada di pondok pesantrennya. Hal ini penting karena saat ini zamannya sudah berubah. “Marilah kita isi hari santri ini dengan tidak terhanyut dengan budaya di luar Indonesia,” pungkasnya. (wan/abh)
Kegiatan yang mengambil tema “Kita Perkokoh Ukhuwah Islamiyah” ini disemarakkan dengan beragam kreasi seni dan budaya yang ditampilkan oleh para santri dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Probolinggo.
Semarak Hari Santri Nusantara ini dihadiri oleh Wakil Bupati Probolinggo Drs. HA. Timbul Prihanjoko, Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si dan sejumlah Kepala SKPD di lingkungan Pemkab Probolinggo. Hadir pula KH Malik Sanusi dari Bondowoso serta sejumlah tokoh agama di Kabupaten Probolinggo.
Dalam sambutannya H. Hasan Aminuddin, M.Si mengatakan saat ini sudah banyak masyarakat yang lupa dengan seni dan budayanya sendiri karena banyaknya media sosial. Otak manusia sudah lupa kepada sejarah apapun atau dibuat lupa tentang masuknya Islam ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Islam masuk ke Indonesia ini dengan santun dan menyejukkan melalui seni dan budaya, bukan dengan peperangan. Tetapi karena pergeseran zaman dan pengaruh budaya di luar Islam, akhirnya banyak yang lupa dengan seni budaya asli milik Indonesia, terutama NU,” ujarnya.
Kepada para santri anggota Komisi VIII DPR RI ini menyampaikan pesan moral agar senantiasa berpegang teguh pada kesantrian tatkala sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. “Amalkan kecerdasan intelektual dan emosional yang kalian peroleh dengan akhlak atau kesalehan sosial sebagai modal terjun di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya.
Mantan Bupati Probolinggo ini menegaskan pergeseran zaman dan ancaman terhadap NKRI saat ini bukan lagi ancaman fisik dan penjajahan. Tetapi ancaman terhadap para generasi muda adalah diracuni dengan budaya dan obat-obatan untuk menghancurkan masa depannya. “Siapapun yang menjadi orang tua, ada ketakutan manakala tidak memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren,” tegasnya.
Sejalan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN), suami Bupati Probolinggo ini juga meminta kepada para pengasuh pondok pesantren untuk merubah mindset dan manajemen yang ada di pondok pesantrennya. Hal ini penting karena saat ini zamannya sudah berubah. “Marilah kita isi hari santri ini dengan tidak terhanyut dengan budaya di luar Indonesia,” pungkasnya. (wan/abh)



COMMENTS